- Semifinal Piala Dunia 1970 di Stadion Azteca mempertemukan Italia dan Jerman Barat dalam laga bersejarah yang dramatis.
- Pertandingan berakhir dengan skor 4-3 untuk kemenangan Italia setelah melalui babak perpanjangan waktu yang sangat menguras tenaga.
- Laga tersebut dikenal sebagai Pertandingan Abad Ini karena kegigihan pemain kedua tim hingga melampaui batas fisik manusia.
Suara.com - Di bawah langit panas Meksiko, Stadion Azteca berdiri seperti saksi bisu sebuah pertandingan Piala Dunia yang tak pernah benar-benar selesai diceritakan oleh waktu.
Pada 17 Juni 1970, Italia dan Jerman Barat menciptakan malam yang membuat sepak bola berhenti menjadi sekadar permainan.
Dunia kemudian mengenangnya sebagai Partido del Siglo atau Pertandingan Abad Ini.
Bukan final. Bukan laga perebutan trofi. Hanya semifinal Piala Dunia.
Namun dari rumput Azteca itulah lahir 30 menit paling dramatis dalam sejarah sepak bola.
Sebuah plakat di luar stadion Azteca masih berdiri hingga hari ini.
Bukan untuk kemenangan Brasil bersama Pele di final beberapa hari setelahnya, melainkan untuk duel Italia kontra Jerman Barat yang membuat sepak bola seperti kehilangan napas.
![Pada 17 Juni 1970, Italia dan Jerman Barat menciptakan malam yang membuat sepak bola berhenti menjadi sekadar permainan. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/27/53741-plakat-di-stadion-azteca.jpg)
“Stadion Azteca memberikan penghormatan kepada tim nasional Italia dan Jerman yang memainkan Pertandingan Abad Ini,” demikian isi prasasti tersebut.
Awalnya, pertandingan berjalan lambat dan keras. Italia unggul lebih dulu lewat Roberto Boninsegna pada menit kedelapan, lalu mengunci permainan dengan pertahanan khas catenaccio.
Jerman Barat menyerang tanpa henti, tetapi tembok biru Italia terus bertahan.
Waktu seolah berpihak pada Italia. Hingga menit ke-90 datang seperti petir di tengah gurun.
Karl-Heinz Schnellinger, bek Jerman yang bermain di Liga Italia dan nyaris tak pernah mencetak gol, tiba-tiba muncul di depan gawang.
Dengan sentuhan yang nyaris mustahil dari seorang bek, ia menyamakan skor menjadi 1-1.
Gol itu memaksa laga berlanjut ke perpanjangan waktu.
Tidak ada yang menyangka, dunia akan menyaksikan ledakan emosi paling brutal dalam sejarah Piala Dunia.