Suara Denpasar - Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso menyatakan pada bulan Agustus 2022 kasus gangguan ginjal akut naik 37 kasus dan melonjak sebulan kemudian menjadi 81 kasus.
Sampai saat ini dari laporan 20 provinsi di Indonesia ada 206 anak yang mengalami gangguan ginjal akut dan 99 di antaranya meninggal dunia.
Di tengah dugaan bahwa penyebab gagal ginjal pada anak-anak tersebut adalah obat batuk sirup.
Wamenkes dr Dante Saksono mengungkapkan hasil pengujian 15 dari 18 sirup mengandung etilen glikol yang dilarang BPOM.
Bahan itu diduga adalah penyebab gangguan ginjal akut pada anak-anak. Sayang, daftar obat berbahaya itu tidak diumumkan.
Demikian IDAI NTT sempat menyatakan ada sembilan obat sirup yang harus diwaspadai dan tidak diberikan kepada anak-anak.
Sembilan obat sirup itu adalah Paracetamol Sirup, Cetirizine Sirup, Coparetin Sirup, Ambroxol Sirup, Alerfed Sirup, Ranivel, Raksiol, Domperidon, Ulfagrip.
Sementara itu pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan menghimau tenaga kesehatan untuk menghentikan pemberian resep obat sirup yang diduga terkontaminasi atau mengandung etilen glikol.
Bila memerlukan obat sirup khusus misalnya obat anti epilepsi atau lainnya yang tidak dapat diganti sediaan lain, harap konsultasikan dengan dokter anak atau konsultan anak.
Jika diperlukan bisa menggunakan obat yang dimasukkan ke dalam anus atau suppositoria maupun puyer.
Dalam video himbauan IDAI pada 19 Oktober 2022 juga dihimbau bagi masyarakat untuk sementara waktu agar tidak membeli obat bebas tanpa rekomendasi tenaga kesehatan sampai didapatkan hasil investigasi menyeluruh oleh Kemenkes dan BPOM, tenang namun tetap waspada jika menemukan gejala gangguan ginjal akut seperti berkurangnya atau tidak adanya buang air kecil secara mendadak, dan ada baiknya mengurangi aktivitas anak-anak.