Suara Denpasar - Dedi Mulyadi hanya bisa geleng-geleng. Kawasan Cilodong yang dulu dia tata ketika menjabat Bupati Purwakarta menjadi daerah yang bersih belakangan kembali ke masa lalunya yang kelam.
Pria hidung belang kembali ramai mendatangi wilayah tersebut karena banyaknya warung remang-remang yang menyediakan Pekerja Seks Komersial atau PSK.
Fenomena bangkitnya tempat prostitusi di masa kepemimpinan Anne Ratna Mustika itu terungkap ketika Kang Dedi baru pulang dari kondangan wayang golek. Kebetulan malam itu dia melintas di sana.
"Marak lagi dan tak terkendali," demikian kata Kang Dedi dalam kanal YouTube yang dikutip denpasar.suara.com.
Seperti biasa Kang Dedi mencoba memahami dan menyelami fenomena sosial ini. Dia pun mampir ke salah satu warung remang-remang untuk ngobrol bareng dengan PSK di sana. Sosok PSK asal Subang yang masih berusia muda menjadi teman ngobrol dan diskusi Kang Dedi.
Aku wanita tersebut, dirinya betarif Rp 300 ribu untuk sekali kencan. Dari jumlah uang itu, Rp 100 ribu untuk mami pemilik kamar.
Dalam pembicaraan dengan PSK tersebut Kang Dedi menyarankan untuk mencari pekerjaan lain sambil berpikir di rumah barang sepuluh hari.
Apalagi, tamu saat ini sedang sepi. Pengakuan PSK satu ini sudah seminggu dia belum mendapat pelanggan.
“Teteh sekarang pulang. Mulai sekarang jangan lagi di sini. Lebih baik pulang kampung buka usaha di sana atau kerja lain,” saran Kang Dedi sembari memberikan sejumlah uang untuk modal usaha.
Baca Juga: Mamieh Aming Panggilan Lucinta Luna untuk Aming, Warganet: Itu Kemana?
Ada lagi PSK berbaju merah dengan badan penuh tatto. Wanita ini mengaku asal Garut dan baru tiga bulan berada di Cilodong.
Awalnya, dia mengaku hanya menjual kopi. Setelah ditanya lebih detail, apalagi dandanannya menor. PSK dengan rambut bercat merah sebagian itu juga mengaku sebagai kupu-kupu malam. Tarifnya sama dengan PSK lain, begitu juga pembagian dengan sang mami.
Kang Dedi juga menyarankan hal yang sama agar PSK tersebut memikirkan pekerjaan lain. “Dulu rapi sekarang ramai lagi karena tidak ada yang mengendalikannya.
Saya ingin membereskan ini karena dulu pernah dibereskan juga. Ini kan bangunan liar dan ada perdagangan wanita, bisa pidana,” ungkap Kang Dedi.
“Ternyata setelah saya tidak lagi fokus menyelesaikan problem sosial di sini, sekarang marak lagi bahkan dengan jumlah yang sangat lebih banyak. Dan saya akan tetap bereskan walaupun itu bukan kewajiban saya,” terang Kang Dedi.
Dalam menyelesaikan persoalan lokalisasi ini tentu Kang Dedi akan menerapkan langkah persuasif dan bersama mencari solusi agar PSK itu bisa mendapat pekerjaan lain yang halal. ***