Suara Denpasar – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Kang Dedi Mulyadi melakukan kunjungan kerja di masa reses ke Bali. Dia bersama sejumlah anggota Komisi IV DPR RI mengunjungi beberapa tempat di Bali. Sejumlah tempat itu memiliki keunikan dan sejarahnya masing-masing.
Berikut tempat yang dikunjungi Kang Dedi Mulyadi bersama rombongan, lengkap dengan profilnya masing-masing:
1. Pasar Badung, Kota Denpasar
Pasar Badung menjadi tempat yang pertama dikunjungi Kang Dedi Mulyadi. Dari tayangan di Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel, terlihat dia masuk ke kios di lantai 1 yang menjadi tempat jualan bumbu dan sayuran.
Dilansir dari denpasartourism.com, Pasar Badung memiliki sejarah cukup panjang. Sebelum ada Pasar Badung seperti sekarang ini, ada pasar di tempat yang kini jadi kantor wali kota Denpasar, atau di barat Lapangan Puputan Badung. Namanya dulu Pasar Periuk karena banyak perajin yang menjual aneka gerabah, di antaranya periuk.
Setahun setelah Kerajaan Badung ditaklukkan Belanda pada 1906 melalui Puputan Badung, pasar ini dipindah ke barat, dekat Tukad (Sungai) Badung. Warga Jawa dan Madura yang sebelumnya mendiami tempat itu digeser ke Kampung Wanasari (Kampung Jawa) di Jalan A. Yani-Kartini saat ini.
Saat Indonesia merdeka, nama pasar ini pun diubah menjadi Pasar Badung. Apalagi lokasinya bersebelahan dengan Tukad Badung. Saat itu Denpasar masih menjadi ibu kota Kabupaten Badung.
Pada 1984 Pasar Badung diubah menjadi pasar bertingkat. Namun, pada 2016, pasar ini terbakar. Akhirnya dibangun ulang dari nol seperti yang terlihat dan dikunjungi Dedi Mulyadi beberapa hari lalu.
Sekadar diketahui, Pasar Badung sekarang bukan berada di Kabupaten Badung. Sebab, Kabupaten Badung sudah memindahkan pusat pemerintahannya ke Kelurahan Sempidi, Kecamatan Mengwi, Badung. Sehingga, Pasar Badung saat ini secara administratif berada di Kota Denpasar.
![Pasar Badung di Kota Denpasar. [Suara.com]](https://media.suara.com/suara-partners/denpasar/thumbs/1200x675/2022/12/24/1-pasar-badung.jpg)
2. Desa Trunyan, Kintamani, Bangli
Desa Trunyan merupakan salah satu desa tua atau kuno di Bali. Untuk mencapai desa ini salah satunya, dan yang umum bagi wisatawan, dengan menyeberangi Danau Batur.
Desa ini juga memiliki tradisi yang unik dan berbeda dengan warga Bali dataran rendah yang sudah terpengaruh Hindu Budha dari Jawa hingga era Majapahit.
Sebagai salah satu desa Bali Mula, demikian biasa desa Bali kuno ini disebut, Desa Trunyan memiliki tradisi yang sampai ini masih lestari. Yang beda dengan tradisi dalam Hindu. Salah satunya adalah dalam hal penguburan mayat.
Di Desa Trunyan, jenazah tidak dikubur di dalam tanah, juga tidak dibakar. Melainkan hanya ditaruh di atas tanah yang menjadi lokasi pemakaman. Pemakaman di Trunyan ada 3, yakni Sema Wayah (utuh yang meninggal wajar/ utuh tubuhnya), Sema Batas (yang anggota tubuhnya tidak lengkap), dan Sema Muda (untuk mayat bayi).
Di pemakaman ini ada pohon Taru Menyan, yang dapat menebar wangi dan menyerap bau. Sehingga, mayat yang membusuk tidak menebarkan bau tak sedap. Unik bukan?
![Setra Ari-ari (plasenta) di Desa Bayung Gede, Kintamani, Bangli. [Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel]](https://media.suara.com/suara-partners/denpasar/thumbs/1200x675/2022/12/24/1-setra-ari-ari-di-bayung-gede.jpg)
3. Bayunggede, Kintamani, Bangli
Dikutip dari bayunggede.desa.id, Desa Bayunggede termasuk Desa Bali Kuno. Desa ini sudah ada sebelum Bali ditaklukkan Majapahit. Sehingga, masih banyak tradisi yang agak asing bagi warga Bali yang sudah terpengaruh Majapahit.
Sebelum menjadi desa, Bayunggede hanya sebuah padukuhan di tengah hutan. Setelah jumlah penduduknya berkembang, kemudian memperluas desa ke dalam hutan hingga menjadi Desa Bayunggede yang artinya “tenaga kuat”.
Salah satu keunikan dari Desa Bayunggede adalah memiliki Setra Ari-ari. Yakni pemakaman plasenta yang digantung di hutan desa. Jarang desa di Bali memiliki tradisi seperti ini.
![Pantai di BTDC Nuda Dua. [itdc.co.id]](https://media.suara.com/suara-partners/denpasar/thumbs/1200x675/2022/12/24/1-btdc-nuda-dua.jpg)
4. Nusa Dua, Kuta Selatan, Badung
Kang Dedi tidak secara resmi melakukan kunjungan di Nusa Dua, Kelurahan Benoa, Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Diduga, dia memang menginap di Kawasan Bali Tourism Development Corp (BTDC), Nusa Dua. Saat ini bernama Indonesia Tourism Development Corp (ITDC).
Seperti terlihat saat dia bertemu dengan dua pedagang kerupuk yang keliling di sekitar Nusa Dua. Juga ketika dari video di kanal youtube-nya memulai perjalanan dari Kawasan BTDC Nusa Dua.
Kawasan BTDC diprakarsai pada 1970-an seiring dengan kebutuhan akomodasi wisata untuk kelas atas. Akhirnya dipilihlah Nusa Dua dengan melakukan pembebasan lahan ratusan hektare.
Di dalam Kawasan BTDC Nusa Dua terdapat hotel, restoran dan sejumlah fasilitas pariwisata yang langsung akses pantai. Hotel pertama yang beroperasi di Kawasan Nusa Dua adalah Nusa Dua Beach Hotel pada 1980.
Kawasan BTDC Nusa Dua ini sering menjadi tempat gelaran event internasional. Antara lain KTT APEC, WTO, IMF, hingga yang terbaru adalah KTT G20. (*)