- Mata berair dan iritasi.
2. Silikosis, fatal bagi paru- paru
Masih berkaitan dengan studi diatas, ada kekhawatiran tentang risiko jangka panjang silikosis akibat paparan kronis abu vulkanik. Silikosis merupakan kondisi berlebihnya silika di dalam tubuh, akibat terlalu banyak menghirup debu silika dalam jangka waktu yang lama.
Gunung meletus akan mengeluarkan gas seperti sulfur dioksida (S02), hidrogen sulfida (H2S), karbon monoksida (CO), nitrogen (NO2), dan karbondioksida (CO2). Nah, zat-zat ini yang membahayakan kesehatan manusia bila terpapar dalam jumlah yang berlebih.
Sementara itu, kandungan abu vulkanik berbeda. Abunya mengandung mineral kuarsa, kristobalit, dan tridimit. Zat ini adalah kristal silika bebas atau silikon dioksida (SiO2) yang bisa menyebabkan penyakit paru yang fatal atau silikosis. Abu silikosis sangat halus dan menyerupai pecahan kaca.
Silikosis umumnya terjadi pada pekerja tambang. Pengidapnya bisa mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, penurunan berat badan, hingga mengi dengan dahak yang berlebihan.
Menurut NIH, silikosis dapat menyebabkan komplikasi yang tidak main-main, seperti penyakit jaringan ikat, termasuk rheumatoid arthritis, scleroderma (juga disebut sklerosis sistemik progresif), dan lupus eritematosus sistemik. Tak hanya itu, penyakit ini juga bisa membuat penderitanya mengalami kanker paru-paru, fibrosis masif progresif, kegagalan pernapasan dan tuberkulosis.
Nah, itulah bahaya abu vulkanik dari gunung meletus. Bagi masyarakat yang terdampak abu vulkanik, tetap waspada, gunakan masker atau baju tertutup serta tidak mendekati area berbahaya. (Rizal/*)
Baca Juga: Perlu Waspada, Berikut 4 Cara Mencegah Diabetes pada Anak!