Suara Denpasar - Kasus penyebaran antraks di Gunungkidul Yogyakarta telah menyita perhatian. Penularan penyakit zoonosis telah menyebabkan sejumlah korban meninggal dan puluhan lainnya positif antraks.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan pun meminta masyarakat untuk mewaspadai empat tipe antraks yang dapat menular ke manusia melalui luka pada hewan herbivora. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes RI Imran Pambudi menuturkan salah satu tipe antraks yang paling banyak menyebar di Indonesia adalah antraks kulit.
Jadi, spora bakteri penyebab antraks dapat masuk ke dalam kulit melalui sayatan atau luka lecet. Namun, yang lebih berbahaya lagi adalah antraks pernapasan. Bukan melalui kulit, namun penularannya lewat udara.
Ketika spora terisap melalui partikel pernapasan dan mencapai dinding alveoli maka akan menimbulkan sensasi melepuh pada paru-paru orang tersebut. Dikatakan Imran, penyebaran kerusakan dari antraks pernapasan ini sangat cepat. "Kalau masuk paru-paru bisa langsung masuk ke otak juga," katanya seperti dilansir dari Antara, Selasa (11/7/2023).
Antraks juga dapat menular dengan mengonsumsi daging hewan yang tertular. Proses memasak yang tidak sempurna dapat membuat spora tersebut masuk ke saluran pencernaan. Jika sudah parah maka akan terjadi kebocoran usus yang menimbulkan pendarahan di perut. Tipe ini disebut antraks saluran pencernaan.
Sedangkan tipe terakhir adalah antraks injeksi yang biasanya ditemukan pada pengguna narkotika.
Imran mengingatkan apabila bakteri antraks dapat bertahan puluhan tahun di dalam tanah. "Apabila bakteri terjadi kontak dengan udara bebas maka akan membentuk spora yang sangat resistan terhadap kondisi lingkungan atau bahan kimia tertentu," jelasnya.
Imran pun khawatir lantaran kekuatan antraks yang sulit dihancurkan, jika masyarakat sembarangan memakan atau berkontak erat dengan hewan terinfeksi maka akan bisa memperluas penularan wabah.
(*)
Baca Juga: Tekad Lolos Grup Piala Asia 2023, Timnas Indonesia Dipandang Remeh Media Vietnam: Tim Terlemah