Suara.com - Baru-baru ini, Aurelie Moeremans menjadi perbincangan publik setelah merilis memoar berjudul 'Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth'.
Dalam buku terbarunya tersebut, Aurelie Moeremans secara berani mengungkap masa remajanya yang pahit karena menjadi korban grooming mantan kekasihnya yang kala itu sudah berusia 29 tahun.
Dalam buku itu pula, Aurelie mengaku menjadi korban manipulasi, kontrol dari pelaku tersebut dan kemudian secara perlahan menyelamatkan dirinya.
"Aku nulis buku tentang pengalaman aku mengalami kekerasan saat umur 15 tahun. Niatnya sederhana, berbagi, tanpa sebut nama, tanpa serang siapa pun," kata Aurelie dalam kolom komentarnya sendiri di postingan pada Jumat, 9 Januari 2025.
Setelah merilis buku tersebut, Aurelie merasa terus diganggu oleh pihak tertentu, yang diduga adalah mantan kekasihnya.
"Lucunya, ada yang merasa, lalu malah ganggu aku lagi. Padahal caranya, justru berisiko buat dirinya sendiri. Selama ini aku memilih diam, tapi diam itu pilihan, bukan kewajiban. Dan setiap pilihan punya batas," ungkap Aurelie.
Sebagai informasi, tak lama setelah potongan memoar Aurelie viral di media sosial, akun Instagram mantan kekasih Aurelie, Roby Tremonti ikut menjadi perhatian.
Meski menggunakan nama samaran, publik mengaitkan pelaku grooming, Bobby dengan Roby Tremonti berdasarkan riwayat hubungan masa lalu Aurelie.
Roby diketahui mengunggah kutipan bernuansa hukum yang menyinggung soal tuduhan, pencemaran nama baik, dan konsekuensi hukum dari pernyataan di ruang publik.
Baca Juga: Nyaris jadi Caleg, Tompi Beber 6 Alasan Mundur di Detik-detik Terakhir
Ia menegaskan, meski buku tersebut tidak mencantumkan namanya, namun berdampak pada reputasi dirinya.

“Dampak dari buku tersebut membuat akun Instagram saya mendapatkan komentar-komentar fitnah yang super liar,” ujarnya.
Dalam pernyataan lanjutan, Roby menyinggung fenomena pembentukan opini publik di era digital.
“Tujuan dari sumber tersebut memang jelas mau membuat kredibilitas saya hancur, aka cancel culture bahasa modern sekarang,” tulisnya.
Selain mengunggah kutipan hukum, Roby juga tampak membatasi kolom komentar di akun Instagram-nya. Beberapa unggahan hanya dapat dikomentari oleh akun tertentu, sementara unggahan lain menonaktifkan komentar sepenuhnya.
Pembatasan ini diduga sebagai upaya menghindari perdebatan terbuka di tengah derasnya arus opini warganet. Tak sedikit pula yang menilai langkah tersebut sebagai bentuk perlindungan diri dari hujatan warganet atas perilakunya di masa lalu.