Review Film Alas Roban: Punya Semua Modal, Tapi Kehilangan Arah Cerita

Sumarni Suara.Com
Minggu, 18 Januari 2026 | 19:00 WIB
Review Film Alas Roban: Punya Semua Modal, Tapi Kehilangan Arah Cerita
Review Alas Roban: Punya Semua Modal, Tapi Kehilangan Arah Cerita (YouTube)

Suara.com - Saya masuk bioskop dengan ekspektasi yang sebenarnya cukup tinggi, mengingat Alas Roban bukan nama asing bagi penonton Indonesia.

Jalur legendaris, hutan angker, cerita mistis yang turun-temurun, semua bahan ini seharusnya bisa menjadi fondasi kuat untuk film horor yang berkesan.

Sayangnya, setelah lampu bioskop menyala dan kredit bergulir, perasaan saya justru campur aduk.

Film ini punya potensi besar, tetapi tampak kebingungan menentukan arah ceritanya sendiri.

Seperti Alas Roban yang suka menyesatkan pengguna jalan, ceritanya juga tersesat di hutannya sendiri.

Premis Kuat yang Tidak Dimaksimalkan

Review Alas Roban: Punya Semua Modal, Tapi Kehilangan Arah Cerita (YouTube)
Review Alas Roban: Punya Semua Modal, Tapi Kehilangan Arah Cerita (YouTube)

Cerita berpusat pada Sita, seorang ibu tunggal dari Pekalongan yang berjuang keluar dari kesulitan ekonomi.

Keputusan pindah ke Semarang demi pekerjaan di rumah sakit terasa masuk akal dan membumi.

Saya cukup tersentuh dengan latar belakang ini karena konflik sosialnya terasa dekat dengan realita banyak orang.

Baca Juga: Teror Jalur Pantura Dimulai, Alas Roban Suskes Hantui 176 Ribu Penonton di Hari Pertama

Kehadiran Gendis, putrinya yang tuna netra, seharusnya bisa menjadi pintu masuk emosi yang kuat sekaligus sumber ketegangan horor yang berbeda.

Masalah mulai terasa ketika bus yang mereka tumpangi mogok di tengah Alas Roban.

Di titik ini, film seperti memasuki jalur horor yang sangat familiar. Hutan gelap, suasana sunyi, lalu gangguan gaib yang perlahan muncul.

Saya tidak menolak formula klasik, tetapi saya berharap ada pendekatan yang lebih segar, mengingat lokasi Alas Roban sendiri sudah sangat ikonik.

Hubungan Ibu dan Anak Gagal Emosional

Review Alas Roban: Punya Semua Modal, Tapi Kehilangan Arah Cerita (YouTube)
Review Alas Roban: Punya Semua Modal, Tapi Kehilangan Arah Cerita (YouTube)

Sebagai penonton, saya seharusnya peduli pada hubungan Sita dan Gendis. Namun, di sepanjang film, chemistry ibu dan anak ini terasa kurang menyentuh.

Akting Michelle Ziudith sebenarnya solid, begitu juga Fara Shakila. Masalahnya bukan pada kemampuan akting, melainkan pada pembangunan emosi yang terasa terburu-buru dan dangkal.

Ketika Gendis mulai menunjukkan perubahan perilaku akibat gangguan gaib Dewi Raras, saya lebih sering merasa "oh, begitu" daripada benar-benar cemas.

Padahal, konflik ibu yang harus menyelamatkan anaknya dari ancaman tak kasat mata seharusnya menjadi jantung cerita.

Beberapa adegan terasa seperti pengulangan, sehingga membuat saya bosan, sampai-sampai jumpscare pun gagal bikin kaget.

Taskya Namya dan Rio Dewanto Gagal Menyelamatkan

Review Alas Roban: Punya Semua Modal, Tapi Kehilangan Arah Cerita (YouTube)
Review Alas Roban: Punya Semua Modal, Tapi Kehilangan Arah Cerita (YouTube)

Saya harus jujur, setiap kali Taskya Namya muncul sebagai Tika, film ini terasa sedikit lebih hidup.

Performanya konsisten dan meyakinkan, bahkan ketika karakter yang dia perankan tidak ditulis dengan optimal.

Rasanya seperti menyaksikan aktor potensial yang terjebak dalam naskah yang tidak sepenuhnya tahu mau dibawa ke mana.

Rio Dewanto sebagai Anto juga cukup membantu menjelaskan mitos Alas Roban, meski penjelasan tersebut terasa setengah matang.

Mitos Dewi Raras yang diperankan Imelda Therinne, dan janji ritual lama seharusnya bisa digali lebih dalam agar dunia film terasa utuh dan meyakinkan.

Pada akhirnya, sosok gaib penguasa Alas Roban itu kurang menakutkan sebagai villain.

Horor Berisik yang Melelahkan Telinga

Review Alas Roban: Punya Semua Modal, Tapi Kehilangan Arah Cerita (YouTube)
Review Alas Roban: Punya Semua Modal, Tapi Kehilangan Arah Cerita (YouTube)

Salah satu hal yang paling mengganggu pengalaman menonton saya adalah desain suara.

Entah kenapa, film horor Indonesia masih sering mengandalkan suara keras sebagai senjata utama.

Di Alas Roban, volume yang berlebihan justru membuat saya tidak nyaman, bukan takut.

Penggunaan lagu tema dengan lirik terasa tidak perlu dan malah mengurangi suasana mencekam.

Saya membayangkan film ini akan jauh lebih efektif jika menggunakan musik instrumental yang tenang, pelan, dan konsisten membangun ketegangan.

Cerita Terlalu Panjang untuk Horor Generik

Review Alas Roban: Punya Semua Modal, Tapi Kehilangan Arah Cerita (YouTube)
Review Alas Roban: Punya Semua Modal, Tapi Kehilangan Arah Cerita (YouTube)

Dengan durasi sekitar 110 menit, film ini terasa bertele-tele dengan hanya mengandalkan segudang jumpscare murahan.

Alurnya sangat mudah ditebak, perjalanan tergesa, kendaraan mogok, gangguan gaib, kerasukan, masuk ke alam lain, lalu ritual pengorbanan.

Saya merasa sudah menonton versi-versi serupa berkali-kali dalam film horor lokal lainnya.

Beberapa adegan horor terasa mubazir dan hanya berfungsi sebagai jumpscare yang berisik.

Akibatnya, ketegangan justru mandek, dan saya sempat merasa lelah mengikuti ceritanya dan walk out sebelum film benar-benar berakhir.

Potensi Besar yang Belum Menemukan Arah

Review Alas Roban: Punya Semua Modal, Tapi Kehilangan Arah Cerita (YouTube)
Review Alas Roban: Punya Semua Modal, Tapi Kehilangan Arah Cerita (YouTube)

Alas Roban bukan film yang sepenuhnya gagal, tetapi jelas belum mencapai potensi maksimalnya.

Bagi saya pribadi, Hadrah Daeng Ratu seperti setengah hati menggarap film ini, tidak seperti film-film sebelumnya, contohnya Pemandi Jenazah.

Lokasi kuat, jajaran pemain berbakat, dan premis yang menjanjikan sayangnya tidak diolah dengan fokus yang jelas.

Film ini seperti ingin menjadi drama keluarga sekaligus horor mistis, namun akhirnya terjebak di tengah-tengah.

Saya berharap ke depannya, kisah-kisah horor dengan latar legendaris seperti Alas Roban bisa digarap dengan visi yang lebih tegas dan berani.

Kontributor : Chusnul Chotimah

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI