- Kiesha Alvaro harus menguasai aksen Singlish, sementara Rebecca Klopper harus tampil berhijab dan mengubah intonasi suara menjadi lebih dewasa.
- Para pemain merasakan perbedaan budaya kerja di Singapura yang sangat disiplin, cepat (sat-set), dan tepat waktu dibandingkan di Indonesia.
- Meski menghadapi kesulitan teknis, para pemeran merasa puas dan terinspirasi oleh hasil akhir film serta karakter yang mereka bawakan.
Selain pendalaman karakter, proses syuting di Singapura memberikan pengalaman tersendiri bagi para pemain. Rebecca menyoroti budaya kerja yang sangat disiplin dan ketat di Negeri Singa tersebut.
“Yang aku rasakan syuting di Singapura lumayan beda banget sih karena lebih gerah, lebih sesak (karena kostum). Apalagi aku semenjak syuting ini kan selalu calling-an paling pagi dan paling akhir karena harus pakai hijabnya duluan. Tapi lama-lama, I see the fun in it,” tutur Rebecca.
Dia juga menambahkan bahwa ritme kerja di sana sangat cepat.
“Kalau emang 10 jam, ya 10 jam. Kalau di Indonesia mungkin banyak leha-lehanya. Kalau di sana enggak, langsung syuting selesai. Lebih sat-set ya,” imbuhnya.
Film Ahlan Singapore tidak hanya menawarkan drama emosional, tetapi juga memanjakan mata penonton dengan keindahan visual berbagai destinasi wisata di Singapura.