Suara.com - Inilah Muhammad Zidni Ilmi, penghulu dari KUA Setiabudi, Jakarta Selatan yang sedang viral.
Zidni Ilmi viral karena saat akad nikah begitu fasih menggunakan 3 bahasa yakni Indonesia, Inggris dan Jerman.
Ternyata sebagai penghulu, dia juga fasih berbahasa Arab juga.
Kemampuannya bisa beberapa bahasa ini membuat netizen kagum.
Beberapa netizen menyebut kalau seharusnya penghulu memang bisa beberapa bahasa seperti Zidni Ilmi.
Sementara itu, ada netizen yang jadi penasaran dengan Zidni Ilmi sekolah di mana.
"Dulu kuliah di mana masnya, keren amat fluent banget?" tanya netizen di postingan sang penghulu.
Dia membalas komentar itu dan menyebut kalau dia adalah lulusan salah satu kampus di Mesir.
Pria 32 tahun ini sebelum kuliah di Mesir, menempuh pendidikan menengah di pesantren La Tansa, Banten.
Di pesantren ini dia mulai mempelajari dasar-dasar bahasa Inggris.
Kemudian dia melanjutkan pendidikan tinggi di salah satu universitas Islam tertua dan paling bergengsi di dunia, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Di sini dia memperdalam kemampuan bahasa Arab dan ilmu agamanya.
Saat menjadi bintang tamu di salah satu talkshow TV, dia mengaku memang bisa berbahasa Inggris dan Arab.
Sementara Bahasa Jerman seperti di video viralnya ketika membuka acara akad seorang pasangan pengantin Indonesia dan Jerman itu, dia berlajar secara otodidak untuk kebutuhan menyapa keluarga dari pengantin asal Jerman.
Dia bahkan sebenarnya mengaku belum terlalu lancar, namun bersyukur karena dinilai lancar.
Selain Jerman, dia juga belajar khusus Bahasa Swahili (Tanzania) karena mendapatkan pengantin dari negara tersebut.
Dia mengaku mempelajari bahasa-bahasa tersebut untuk memberikan sapaan dan pelayanan yang lebih personal kepada keluarga pengantin warga negara asing (WNA) yang dilayani.
Sebagai penghulu, dia terus berupaya meningkatkan kompetensinya agar dapat memberikan layanan yang profesional, inklusif, dan adaptif terhadap tren pernikahan campuran di wilayah perkotaan.
Aksinya mendapat pujian langsung dari Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Syafi'i, yang menyebutnya sebagai inspirasi bagi penghulu modern di Indonesia agar lebih adaptif di era global.
Kontributor : Tinwarotul Fatonah