Realitas ini terpaksa diambil karena di Indonesia sangat jarang ditemukan individu yang secara sukarela mendonorkan tubuhnya untuk kepentingan ilmu pengetahuan setelah meninggal dunia.
Kondisi ini membuat jenazah tanpa keluarga menjadi opsi terakhir yang paling memungkinkan secara legal untuk mendukung riset medis.
Bagi para calon dokter, pertemuan pertama dengan cadaver adalah momen yang sangat emosional. Ada perasaan yang bercampur aduk.
"Geli takut semua campur aduk itu perasaan tapi seiring berjalannya waktu oh gitu malah takjubnya luar biasa," bebernya.
Pada akhirnya, penggunaan jenazah ini bertujuan mulia agar dunia medis masa depan dapat lebih menghargai kompleksitas tubuh manusia.
Hal ini sejalan dengan pesan ibu dr Gia yang mendorongnya masuk kedokteran.
"Kamu kan mau jadi astronut demi untuk mengagumi ciptaan yang maha kuasa ada lagi ciptaan yang maha kuasa yang bisa kamu kagumi yaitu tubuh manusia. Akhir aku masuk ke kedokteran Bang," ungkapnya.
Kontributor : Tinwarotul Fatonah
Baca Juga: Di Pesantren saat Longsor, Santri Ini Harus Terima Kenyataan Pilu Seluruh Keluarga Meninggal