Suara.com - Takjil gratis dengan pesan "Tuhan Yesus Sayang Kamu" viral di TikTok dan memicu perdebatan hangat tentang batas toleransi beragama.
Konten tersebut pertama kali ramai dibahas setelah akun Threads @budilee12 mengunggah tangkapan layar video pembagian takjil dengan stiker bernuansa penginjilan.
"Nemu beginian di TikTok, please teman-teman Kristen yang tercinta kalau niat berbagi takjil ya berbagi aja nggak usah kasih embel-embel ayat penginjilan," tulisnya.
Dia menambahkan bahwa tindakan tersebut berpotensi menimbulkan rasa risi sekaligus dikhawatirkan membuat kemasan bertuliskan ayat suci terbuang menjadi sampah.
"Minimal kasih tulisan selamat berbuka puasa itu sudah cukup," lanjutnya dalam unggahan yang kemudian memantik ratusan komentar warganet.
Perdebatan pun berkembang menjadi diskusi panjang mengenai etika berbagi lintas iman selama bulan Ramadan yang sensitif bagi sebagian masyarakat Indonesia.
Salah satu warganet menilai praktik berbagi tanpa atribut agama justru lebih mencerminkan esensi toleransi yang tulus dan tidak mengundang prasangka.
"Di kotaku, Gereja Katolik rutin bagi-bagi takjil setiap tahun tanpa embel-embel stiker walaupun dibagikan langsung di depan gereja," tulis seorang warganet.
Komentar lain menyebut membawa identitas agama secara mencolok dalam aksi sosial bisa menimbulkan kesan memiliki motif terselubung.
Baca Juga: Detik-Detik Menkeu Purbaya Kaget Dapat Gift Singa dan Paus Saat Live: Ntar Disangka Gratifikasi
"Menurutku tindakan memberi dengan embel-embel agama itu norak, kalau ada motif lain kesannya bukan sumbangan melainkan propaganda," tulis warganet lainnya.
Sebagian warganet Muslim juga membandingkan kebiasaan mereka saat berbagi takjil yang umumnya tidak mencantumkan kutipan ayat suci pada kemasan.
"Kami sebagai Muslim pun saat berbagi takjil tidak mencantumkan ayat Alquran karena penerima belum tentu Muslim dan kami menghindari ayat terbuang," ungkap komentar tersebut.
Ada pula suara yang menyoroti potensi risiko sosial dan hukum jika pesan keagamaan dipelintir menjadi isu sensitif oleh pihak tertentu.
"Kalau saya pribadi justru merasa takut mencantumkan tulisan seperti itu karena khawatir dipersoalkan dan diberi label negatif masyarakat," tulis yang lain.
Perdebatan ini menunjukkan bahwa aksi berbagi sederhana dapat berubah menjadi masalah ketika bersinggungan dengan identitas dan simbol keagamaan.
Sebagian pihak menilai pesan religius adalah bentuk ekspresi iman yang sah, sementara lainnya menekankan pentingnya empati terhadap penerima bantuan.
Viralnya konten takjil gratis ini menjadi pengingat bahwa niat baik tetap memerlukan kebijaksanaan agar tidak memicu kesalahpahaman di masyarakat.
Kontributor : Chusnul Chotimah