Suara.com - Perdebatan Permadi Arya dan Ikrar Nusa Bhakti menjadi salah satu sorotan acara "Rakyat Bersuara" di iNews Tv.
Keduanya saling menyampaikan pandangannya terkait serangan Amerika Serikat terhadap Iran.
Yang mencuri perhatian, Abu Janda menyebut Ikrar Nusa Bhakti tidak lebih jago darinya.
Ikrar Nusa Bhakti yang seorang profesor membuat Abu Janda dihujani kritik atas pernyataanya tersebut.
Yuk kenalan lebih jauh dengan sosok yang dianggap Abu Janda tidak lebih jago darinya melalui profil Ikrar Nusa Bhakti berikut ini.

1. Biodata Ikrar Nusa Bhakti
Ikrar Nuswa Bakti merupakan nama yang diberikan orangtuanya saat lahir di Jakarta pada 27 Oktober 1957.
Meski penulisannya Nuswa, bahasa Sansekerta yang berarti 'pulau' tersebut dibaca Nusa sehingga Ikrar lebih dikenal dengan nama Ikrar Nusa Bhakti.
Identitas orangtua Ikrar dirahasiakan lantaran sang ayah pernah bergabung dengan underbouw PKI dan sang ibu anggota DPR-GR mewakili Gerwani.
Karena dibesarkan oleh sang paman yang seorang Perwira TNI AU, Ikrar sempat bercita-cita menjadi pilot pesawat tempur.
2. Pendidikan Karier Ikrar Nusa Bhakti
![Tangkap Layar [Youtube Ikrar Nusa Bhakti]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/01/23/58875-ikrar-nusa-bhakti.jpg)
Pendidikan Ikrar Nusa Bhakti dari SD hingga kuliah dienyam di Jakarta.
Barulah setelah menuntaskan kuliah Ilmu Politik di Universitas Indonesia, Ikrar mengejar gelar Ph.D. ke Australia.
Tahun 1992, Ikrar meraih gelar Ph.D. dari Modern Asian Studies, Griffith University Brisbane, Australia di bidang Sejarah Politik.
Prof. Ikrar Nusa Bhakti, Ph.D pernah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Tunisia pada 13 Maret 2017 hingga September 2021.
Posisi tersebut kini diemban Zuhairi Misrawi yang menggantikan Prof. Ikrar sejak November 2021.
Ikrar Nusa Bhakti merupakan Profesor Peneliti dan pernah menjadi Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).
Ia menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) sejak 1 Maret 1984 dan golongan kepangkatannya sekarang adalah IV/d Pembina Utama Madya (Peneliti Utama).
Sejak kuliah, Prof. Ikrar suka menulis. Bahkan buletin Politika yang diterbitkan bareng rekan-rekannya sempat dilarang beredar karena tulisan tentang dwifungsi ABRI.
Kini sejumlah buku telah ditulis Ikrar Nusa Bhakti dan menjadi acuan pengetahuan tentang politik.
Sebut saja "Tentara Mendamba Mitra", "Kontroversi Negara Federal", dan "Menjauhi Demokrasi Kaum Penjahat" yang bisa ditemukan di Perpustakaan Nasional (Perpusnas).
Prof. Ikrar juga menerbitkan buku "Tentara yang Gelisah", "Konflik Papua: Akar Masalah dan Solusi", "Sistem Presidensial dan Sosok Presiden Ideal", dan masih banyak lagi.
Sementara Abu Janda yang merasa lebih jago dari Prof Ikrar ternyata 'hanya' lulusan Diploma IV/Strata 1 menurut data pribadinya yang beredar. Bagaimana pendapatmu?
Kontributor : Neressa Prahastiwi