Felix Degei sukses menginspirasi banyak orang usai beberapa waktu lalu viral alumni LPDP yang enggan anaknya jadi WNI.
Felix yang merupakan lulusan Australia yang memiliki gelar Master of Education dari The University of Adelaide ini juga seorang awardee LPDP.
Bedanya, usai lulus kuliah Felix langsung pulang untuk mengabdi dan tidak melupakan tanah kelahirannya di Papua.
Padahal, Felix sempat mendapatkan tawaran menggiurkan untuk menjadi staf ahli anggota DPD RI, sebuah posisi yang menjanjikan pengaruh dan kemapanan finansial.
Namun, Felix justru memilih pulang ke tanah kelahirannya di Nabire, Papua dan menjadi guru honorer.
Yuk, simak ulasan profil Felix Degei awardee LPDP yang pilih jadi guru honorer berikut ini!
1. Profil Felix Degei

Felix Degei lahir pada tahun 1988 di Kampung Putaapa, Distrik Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai, Papua.
Tumbuh di wilayah pedalaman Papua Tengah yang minim fasilitas, masa kecil Felix ditempa oleh kedisiplinan dan kegigihan.
Sebagai putra dari seorang pensiunan guru agama Katolik, nilai-nilai literasi dan spiritualitas telah ditanamkan kepadanya sejak dini.
Untuk menamatkan sekolah dasar, Felix bahkan harus menempuh perjalanan kaki sejauh 26 kilometer setiap hari ke Kampung Modio.
Siapa sangka perjalan panjangnya hingga puluhan kilometer itu adalah salah satu hal kunci yang menentukan masa depannya kini.
2. Latar Belakang Pendidikan Felix Degei

Felix Degei kemudian menyelesaikan masa sekolah menengahnya di SMA YPPK Adhi Luhur Nabire yang merupakan salah satu sekolah ternama di sana.
Felix lalu melanjutkan studi di Universitas Cenderawasih, Jayapura dan mengambil jurusan Bimbingan dan Konseling dan meraih gelar sarjana pada 2012.
Felix yang bermimpi kuliah di Australia sempat gagal mendaftar Australia Awards Scholarship ini akhirnya lulus seleksi beasiswa LPDP pada tahun 2016.
Ia kemudian terbang ke Adelaide dan menuntaskan pendidikan pascasarjana di The University of Adelaide, meraih gelar Master of Education pada tahun 2018.
3. Memilih Pulang Kampung

Sekembalinya ke Nabire, Felix mendedikasikan ilmunya secara lintas institusi.
Ia membagi waktunya sebagai guru honorer di SMA Negeri 1 Plus KPG Nabire, sekaligus menjadi pengajar bagi mahasiswa PGSD Universitas Cenderawasih dan Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM).
Tidak hanya di jalur formal, pengabdiannya juga menyentuh ranah religius sebagai tutor bahasa Inggris di sekolah persiapan seminari Katolik.
Keputusan Felix untuk fokus mengabdi di tanah kelahirannya seolah jadi bukti gelar internasional adalah alat untuk membenahi pendidikan di pelosok Papua.
Kontributor : Safitri Yulikhah