Suara.com - Aurelie Moeremans mengumumkan bahwa novelnya yang berjudul Broken Strings akan segera diadaptasi menjadi film layar lebar.
Kabar tersebut dibagikan langsung oleh Aurelie melalui pesan tertulis di Broadcast Channel Instagram-nya yang bernama "Broken Strings Circle".
Aurelie menyampaikan bahwa keputusan untuk membawa cerita tersebut ke dunia perfilman bukanlah hal yang instan.
Ia mengaku telah melalui berbagai proses diskusi dengan sejumlah rumah produksi atau production house (PH) serta sutradara sebelum akhirnya mengambil keputusan.
"Akhirnya aku memutuskan untuk membawa Broken Strings ke layar film," kata Aurelie Moeremans.
Aurelie mengungkap, ia memastikan bahwa saat ini sudah ada pihak rumah produksi yang tertarik untuk menggarap film tersebut.
Meski begitu, dia masih belum mengungkapkan secara detail identitas PH yang akan terlibat dalam proyek ini.
Menurut Aurelie, dia lebih mengutamakan pihak yang benar-benar memahami cerita dan mampu menyampaikan pesan dengan jujur serta penuh empati.
Bagiya, penting bagi film ini untuk tetap membawa esensi cerita yang kuat, bukan sekadar mengikuti tren.
"Aku memilih berdasarkan feeling aku, siapa yang benar-benar peduli dengan ceritaku, yang mau menyampaikan pesan ini secara jujur, dengan hati, bukan karena hype," ujarnya.
Lebih lanjut, ibu satu anak ini berharap kelak nantinya film ini dirilis, kisah tersebut bisa menjangkau lebih banyak orang dan meningkatkan kesadaran terhadap isu serius seperti child grooming.

Istri Tyler Bigenho juga ingin cerita tersebut dapat memberikan kekuatan bagi para korban agar merasa tidak sendirian dalam menghadapi pengalaman serupa.
"Dan aku berharap, dengan adanya film ini nanti, semakin banyak orang yang sadar akan bahaya child grooming, dan mungkin bisa membantu seseorang merasa tidak sendirian," tulis Aurelie.
Tentang Broken Strings
Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth merupakan memoar pribadi Aurelie Moeremans yang ramai diperbincangkan sejak dirilis pada 10 Oktober 2025.
Dalam buku setebal 220 halaman ini, ia membawa pembaca kembali ke masa remajanya di usia 15 tahun, masa yang seharusnya penuh warna, namun justru menjadi awal dari perjalanan gelap saat ia meniti karier di industri hiburan Tanah Air.
Di bagian awal, Aurelie menegaskan bahwa memoar ini ditulis berdasarkan ingatan pribadinya, dengan sejumlah nama, tempat, dan detail yang sengaja diubah atau dihapus demi menjaga privasi.
Ia juga menekankan bahwa fokus utama buku ini bukan untuk mengungkap identitas pelaku, melainkan untuk membantu pembaca memahami pola grooming serta dinamika manipulasi yang sering terjadi dalam hubungan tidak sehat.
Melalui buku ini, Aurelie secara terbuka mengisahkan pengalaman pahitnya sebagai korban child grooming, manipulasi emosional, dan kontrol dalam hubungan dengan mantan kekasihnya yang saat itu berusia 29 tahun.
Kisah tersebut menggambarkan bagaimana ia terjebak dalam situasi yang merugikan sejak usia muda, hingga akhirnya mampu perlahan menyelamatkan dirinya dari lingkaran tersebut.
Kontributor : Anistya Yustika