- Serial Netflix garapan Teddy Soeriaatmadja, Luka, Makan, Cinta, resmi dirilis hari ini dengan latar belakang restoran di Bali.
- Mawar de Jongh dan Deva Mahenra menjalani pelatihan memasak intensif selama tiga bulan guna mendalami karakter koki profesional.
- Kisah berfokus pada persaingan profesional dan konflik emosional antara sous chef serta head chef di sebuah dapur.
Suara.com - Produksi original Netflix terbaru, Luka, Makan, Cinta, 'memaksa' para pemerannya keluar dari zona nyaman.
Tak sekadar drama romansa biasa, serial garapan sutradara Teddy Soeriaatmadja ini menuntut Mawar de Jongh bertransformasi menjadi sosok ambisius yang jauh dari citra kalemnya selama ini.
Ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 15 April 2026, Mawar menceritakan tantangan memerankan Luka, seorang sous chef yang memiliki emosi kompleks.
Dalam cuplikan serialnya, aktris 24 tahun ini bahkan terlihat melontarkan makian hingga melakoni adegan mabuk.
"Ini pertama kali memerankan karakter seperti Luka, dengan ambisinya dia. Gimana dia menangani situasi pada saat bersamaan dia enggak suka sama Dennis (Deva Mahenra) tapi harus tetap ada di dapur. Gumpalan emosi itu banyak banget dan karakternya sangat kompleks," kata Mawar de Jongh.
![Mawar de Jongh dan Deva Mahenra dalam jumpa pers series Luka, Makan, Cinta di kawasan Menteng, Jakarta Pusat pada Rabu, 15 April 2026. [Suara.com/Tiara Rosana]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/15/66935-mawar-de-jongh-dan-deva-mahenra.jpg)
Terkait dialog umpatan dan adegan mabuk yang dia jalani, Mawar mengaku sempat gugup. Pasalnya, selama ini Mawar terkenal dengan imej lembut dan 'soft spoken'. Namun adegan tersebut berhasil dia lakoni dengan sangat baik.
"Pas baca deg-degan sih 'gimana ya nanti situasinya pas di set'. Tapi puji Tuhan lancar," tambahnya.
Bukan hanya soal akting, aspek teknis kuliner digarap sangat serius. Para pemain wajib mengikuti workshop memasak selama tiga bulan.
Deva Mahenra, yang berperan sebagai head chef bernama Dennis, mengaku atmosfer dapur profesional sangat menguras tenaga dan pikiran.
Dan untuk mendalami perannya, dia bahkan sengaja memanjangkan rambut dan menggunakan piercing untuk memunculkan kesan 'tengil'.
![Mawar de Jongh dan Deva Mahenra dalam jumpa pers series Luka, Makan, Cinta di kawasan Menteng, Jakarta Pusat pada Rabu, 15 April 2026. [Suara.com/Tiara Rosana]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/15/79976-mawar-de-jongh-dan-deva-mahenra.jpg)
"Kehidupan dapur tuh luar biasa chaotic. Benar-benar harus bisa multitasking. Kita harus tetap fokus dalam situasi yang sangat berisik dan panas," kata suami Mikha Tambayong tersebut.
"Untuk menghasilkan makanan dengan penampilan dan rasa terbaik dalam posisi penuh pressure itu nggak gampang," imbuhnya.
Kesungguhan Deva terhadap peran ini bahkan terbawa ke kehidupan pribadi. Dia mengaku kini memiliki respek yang jauh lebih tinggi terhadap profesi koki.
"Setelah syuting ini saya jadi salim sama semua chef. Saya sampai beli Gyuto knife, pisau chef gaya Jepang, untuk di rumah. Sesekali di-refresh ilmunya," ungkap Deva.
Senada dengan Deva, aktris senior Sha Ine Febriyanti yang berperan sebagai Ibu Sari, menggambarkan suasana dapur syuting layaknya barak militer. Tidak ada pendingin ruangan dan kompor terus menyala demi mengejar realitas dapur fine dining.
"Mereka tuh hampir kayak tentara, sangat disiplin, tegas, dan 'gas'. Di dapur itu kita belajar hierarkinya dari hulu ke hilir. Saya sampai belajar soal kepekaan ruang, kenapa pisau diletakkan begini, kenapa piring di sana. Banyak insight baru yang sekarang saya terapin di dapur sendiri," tutur Ine.
Menariknya, Ine menggambarkan hubungan antara karakternya (Ibu Sari) dan Luka (Mawar) seperti "asin pare".
"Pare itu pahit tapi obat. Ibu Sari ingin Luka menempuh kepahitan itu supaya menjadi orang yang tangguh," jelasnya.
Sementara Mawar menganalogikan hubungan mereka seperti "lengkuas di dalam rendang" yang bumbunya sangat terasa dan menyatu meski penuh kerumitan.
![Sha Ine Febriyanti dan sutradara Teddy Soeriaatmadja dalam jumpa pers series Luka, Makan, Cinta di kawasan Menteng, Jakarta Pusat pada Rabu, 15 April 2026. [Suara.com/Tiara Rosana]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/15/50020-sha-ine-febriyanti-dan-sutradara-teddy-soeriaatmadja.jpg)
Sutradara Teddy Soeriaatmadja menjelaskan bahwa pemilihan Bali sebagai latar belakang cerita bertujuan untuk memberikan tekstur visual dan palet warna yang berbeda dari Jakarta.
Judul Luka, Makan, Cinta sendiri terinspirasi dari lagu Suzanne Vega berjudul My Name is Luka.
"Kata 'Luka' di sini punya double meaning, sebagai nama karakter sekaligus rasa luka itu sendiri. Pemilihan Bali juga untuk meng-amplify karakter ceritanya dengan tekstur Indonesia yang berbeda," tutup Teddy.
Sebagai informasi, serial ini mengikuti kisah Loka (Mawar de Jongh), seorang sous chef berbakat yang bekerja di restoran milik ibunya, Sari (Sha Ine Febriyanti), di Bali.
Ketegangan memuncak saat Sari merekrut Denis (Deva Mahenra) sebagai kepala koki baru, memicu persaingan profesional yang sengit sekaligus benih romansa di tengah panasnya dapur.
Diproduksi oleh Netflix Indonesia dan disutradarai oleh Teddy Soeriaatmadja ini tayang mulai hari ini.