Suara.com - Pernyataan pendakwah kondang Miftah Maulana Habiburrahman atau yang akrab disapa Gus Miftah kembali menjadi viral.
Kali ini, video ceramah Gus Miftah tengah membahas rahasia di balik stabilnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia yang tidak mengalami kenaikan.
Menurut Gus Miftah, ternyata tidak naiknya harga BBM berkaitan erat dengan peran diplomasi internasional yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Hal itu disampaikan sahabat Raffi Ahmad ini saat ceramah di acara pengajian akbar Halal Bi Halal di Pekijingan, Krasakageng, Sragi Pekalongan pada 6 April 2026.
Dalam ceramahnya yang viral tersebut, Gus Miftah memuji langkah strategis Prabowo saat menghadapi situasi tegang di Selat Hormuz, salah satu jalur logistik minyak paling krusial di dunia.
Dia menyebutkan kemampuan diplomasi Prabowo menjadi penyelamat bagi kapal-kapal pengangkut minyak milik negara.
"Hebatnya Pak Prabowo apa? Di saat semua kapal yang melintas dicegat Iran, dua kapal Pertamina yang membawa minyak, atas diplomasi Pak Prabowo, kapal Indonesia boleh melewati Selat Hormuz. Itulah salah satu penyebab kenapa BBM Indonesia tidak naik," kata Gus Miftah dengan suara lantang.
Menurut Gus Miftah, tanpa adanya diplomasi yang kuat dari Prabowo, pasokan minyak nasional bisa terganggu, yang secara otomatis akan memicu kenaikan harga BBM di dalam negeri.
Keberhasilan ini dianggapnya sebagai bukti kapasitas kepemimpinan Prabowo dalam menjaga kedaulatan energi.
Tak hanya membahas soal ekonomi dan diplomasi, Gus Miftah juga menyentil dinamika politik terkini.
Dia merespons adanya kritik tajam dari kalangan akademisi dan pengamat yang dinilainya terlalu berlebihan dalam menyikapi pemerintahan saat ini.
![Gus Miftah ditemui di Pondok Indah, Jakarta Selatan pada Senin (1/12/2025) [Suara.com/Rena Pangesti]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/12/02/47837-gus-miftah.jpg)
Dia secara spesifik menyebutkan sebuah nama yang belakangan ini menyita perhatian publik.
"Ada seorang pengamat namanya Saiful Mujani mengatakan Presiden Prabowo harus diturunkan," ujarnya.
Gus Miftah kemudian mengajak jemaah untuk melihat rekam jejak loyalitas Prabowo terhadap negara meski berkali-kali mengalami kegagalan dalam kontestasi politik sebelumnya.
Dia menekankan Prabowo adalah sosok yang taat konstitusi dan tidak pernah memiliki niat untuk merusak stabilitas negara meski dalam posisi kalah.
"Pak Prabowo kalah Pilpres 2008 diam dan tidak protes, tidak makar. Kalah Pilpres 2014 dia terima, tidak makar dan tidak melawan negara. 2019 kalah, enggak melawan negara," ucapnya lebih lanjut.
Sebagai tokoh agama, Gus Miftah juga memberikan landasan teologis terkait sikap masyarakat terhadap pemimpin negara.
Dia menegaskan dalam keyakinannya, menjaga kedamaian dan tidak melawan pemerintah yang sah adalah sebuah keharusan, selama pemimpin tersebut tidak melanggar prinsip fundamental agama.
"Tradisi ahlusunah wal jamaah itu tidak boleh melawan negara. Kecuali kepala negara mengajak kepada musyrik dan menyekutukan Allah. Kalau kepala negara ngajak kafir baru dilawan. Pertanyaan saya, Pak Prabowo ngajak kafir apa eggak?" imbuhnya dalam video tersebut.
Namun video ceramah itu dinilai negatif oleh sebagian netizen. Sikap membela Presiden Prabowo diartikan sebagai aksi menjilat pemerintah.
Meski Gus Miftah menekankan jika dirinya bukan orang yang berpihak pada Presiden Prabowo.
Kontributor : Tinwarotul Fatonah