- Aktor Yusuf Mahardika dan Zulfa Maharani membahas film Crocodile Tears di Jakarta pada 16 April 2026 mendatang.
- Film garapan Tumpal Tampubolon ini mengisahkan Johan yang hidup terisolasi di bawah kendali ibunya yang sangat protektif.
- Kehadiran Arumi memicu dinamika keluarga yang rumit dan telah meraih respons positif di festival film internasional.
Suara.com - Aktor Yusuf Mahardika dan Zulfa Maharani membagikan pandangan mereka mengenai dinamika keluarga toxic dan sifat overprotective orang tua yang tergambar dalam film terbaru mereka, Crocodile Tears.
Hal ini diungkapkan keduanya saat mengunjungi kantor Suara.com di yang berlokasi di kawasan Palmerah, Jakarta Barat pada Kamis, 16 April 2026.
Berperan sebagai Johan, Yusuf Mahardika menggambarkan karakternya sebagai pemuda yang hidup terisolasi bersama sang ibu di sebuah taman penangkaran buaya.
Hidupnya monoton dan sepenuhnya dikendalikan oleh ibunya dengan dalih kasih sayang.
"Johan ini sebenarnya anak yang baik, penurut, mama's boy banget lah ibaratnya. Dia tumbuh besar di situ, enggak punya teman, enggak tahu dunia luar seperti apa. Ya, menurut dia, dia ya hidup untuk berbakti sama orang tuanya aja," kata Yusuf Mahardika.
![Yusuf Mahardika, pemeran utama film Crocodile Tears saat berkunjung ke kantor Suara.com di kawasan Palmerah, Jakarta Barat pada Kamis, 16 April 2026. [Suara.com/Tiara Rosana]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/16/30371-yusuf-mahardika.jpg)
Konflik memanas ketika karakter Arumi, yang diperankan oleh Zulfa Maharani, hadir dalam kehidupan Johan. Arumi membawa kontras yang tajam ke dalam dinamika ibu dan anak tersebut.
"Arumi ini perempuan yang mandiri karena memang dia sudah hidup sendiri sejak lama. Dia punya kebebasan yang sangat-sangat bebas. Tapi sebenarnya dia juga orang yang sangat kesepian, fragile, dan dia butuh rumah karena selama ini dia sudah hidup terlalu ke sana kemari. Dan setelah ketemu Johan, dia akhirnya menemukan seperti rumah," jelas Zulfa.
Kehadiran Arumi tak ayal memicu ketegangan, terutama dengan ibu Johan.
Skenario yang mendalam membuat kedua bintang ini menyadari bahwa isu yang diangkat sangat relevan dengan kehidupan nyata, di mana banyak hubungan keluarga tidak sehat justru diselimuti oleh alasan cinta.
Yusuf mengaku sangat tertarik sejak pertama kali membaca naskahnya. Menurutnya, cerita ini berani membedah lapisan psikologis manusia secara frontal.
![Yusuf Mahardika dan Zulfa Maharani, pemeran utama film Crocodile Tears saat berkunjung ke kantor Suara.com di kawasan Palmerah, Jakarta Barat pada Kamis, 16 April 2026. [Suara.com/Tiara Rosana]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/16/57422-yusuf-mahardika-dan-zulfa-maharani-pemeran-utama-film-crocodile-tears.jpg)
"Skripnya tuh menurutku beneran ngebedah layer-layer manusia. Apalagi konteksnya di sini hubungan ibu dan anak laki-laki yang dinamikanya pasti menarik ketika anak tumbuh dewasa," beber Yusuf.
"Johan ini karena dipeluk erat sama mama yang overprotective, jadi Johan enggak pernah merasakan pilihan-pilihan itu," imbuhnya.
Bagi Zulfa, memerankan Arumi membuka perspektif barunya tentang apa yang kerap disebut sebagai tanda bahaya atau red flag dalam sebuah hubungan keluarga.
"Kalau dulu aku berpikir bahwa keluarga kayak gini tuh red flag, mungkin setelah itu aku baru menyadari bahwa oh mungkin itu bentuk cinta orang tuanya kepada dia," tutur aktris kelahiran 1999 tersebut.
"Jadi aku sekarang lebih kayak, 'Oh ya mungkin itu bentuk cinta yang tepat untuk mereka tapi enggak tepat untuk aku', dan aku enggak bisa bilang juga (kalau) itu salah," tambahnya.
Menariknya, isu mertua dan menantu yang diangkat dalam Crocodile Tears ternyata menuai respons positif saat diputar di festival luar negeri, salah satunya di Toronto International Film Festival.
Masalah keluarga rupanya menjadi bahasa universal yang bisa dipahami siapa saja.
"Ternyata meskipun itu ada di benua Amerika ya, banyak juga penonton di sana yang ternyata masih bisa relate banget. Berarti ini menunjukkan bahwa relasi ibu mertua dan juga menantu itu ternyata terjadi di mana-mana," kata Zulfa.
Yusuf menambahkan, film ini tidak bermaksud untuk mendikte penonton mengenai mana karakter yang benar atau salah.
Termasuk soal arti judul Crocodile Tears (air mata buaya), yang merujuk pada sisi manipulatif setiap manusia, persis seperti buaya yang mengeluarkan air mata saat mencabik mangsanya.
![Yusuf Mahardika, pemeran utama film Crocodile Tears saat berkunjung ke kantor Suara.com di kawasan Palmerah, Jakarta Barat pada Kamis, 16 April 2026. [Suara.com/Tiara Rosana]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/16/26270-yusuf-mahardika.jpg)
Melalui film ini, Yusuf berharap penonton yang sedang berada di situasi keluarga serupa merasa terwakili.
"Kami hanya menampilkan potret gimana ada keluarga yang hidupnya seperti ini, penuh cinta cuman ngerasa terkekang. Ini bentuk kami buat bilang kayak, 'Kalian enggak sendiri kok'," ucapnya.
Sementara itu, Zulfa berharap penonton pulang dengan pemahaman baru mengenai bentuk kasih sayang.
"Setelah nonton film ini, kalian bisa jadi memahami bahwa bentuk cinta manusia itu beda-beda. Dan itu yang perlu disadari untuk kita jadi lebih aware terhadap perbedaan itu," imbuhnya.
![Zulfa Maharani, pemeran utama film Crocodile Tears saat berkunjung ke kantor Suara.com di kawasan Palmerah, Jakarta Barat pada Kamis, 16 April 2026. [Suara.com/Tiara Rosana]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/16/62163-zulfa-maharani.jpg)
Crocodile Tears (Air Mata Buaya) adalah film drama thriller garapan sutradara dan penulis naskah Tumpal Tampubolon, yang diproduseri oleh Meiske Taurisia (Tala Media).
Film ini dibintangi oleh Yusuf Mahardika (sebagai Johan), Zulfa Maharani (sebagai Arumi), dan Marissa Anita (sebagai Mama).
Berlatar di sebuah penangkaran buaya di pinggiran Jakarta, ceritanya berpusat pada Johan, seorang pemuda yang hidup terisolasi di bawah kendali ibunya yang manipulatif dan sangat protektif.
Dinamika "beracun" ibu dan anak ini terancam hancur ketika seorang wanita bebas dan misterius bernama Arumi masuk ke dalam kehidupan mereka.
Film yang tayang perdana di ranah global seperti Toronto International Film Festival ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 7 Mei mendatang.