Suara.com - Film Ghost in the Cell karya Joko Anwar terasa seperti undangan untuk tertawa, lalu sadar bahwa yang ditertawakan ternyata terlalu dekat dengan kenyataan.
Pengalaman menontonnya tidak hanya menghibur, tetapi juga menyisakan semacam kejanggalan yang sulit dijelaskan.
Ada rasa geli, sekaligus getir yang datang bersamaan, seolah film ini paham betul bagaimana cara "menyentil" tanpa harus berteriak.
Joko Anwar lagi-lagi membuat kita terus kepikiran tentang filmnya, bahkan setelah kita keluar dari bioskop, dalam perjalanan ke rumah, dan sekarang ini pun masih.
Namun kali ini, ada satu pertanyaan yang terus muncul di kepala, "Siapa bekinganmu, Bang Jokan?'"
Lapas sebagai Miniatur dari Realita

Sejak menit awal, Lapas Labuhan Angsana diperkenalkan bukan sekadar sebagai penjara, melainkan sebagai sistem kecil yang mencerminkan sesuatu yang lebih luas.
Aturan ada, tetapi tampaknya fleksibel bagi pihak tertentu. Hierarki berjalan rapi, meski arahnya sering kali tidak masuk akal.
Kehadiran Dimas (Endy Arfian), jurnalis yang dijebak kasus pembunuhan bosnya sendiri, menjadi pintu masuk untuk menyusuri kekacauan ini.
Alih-alih menemukan keadilan, dia justru belajar bahwa bertahan hidup kadang lebih penting daripada mencari kebenaran. Sebuah pelajaran yang, kalau dipikir-pikir, terdengar cukup familiar.
Ketika teror mulai muncul dan para narapidana tewas secara misterius, Ghost in the Cell tidak terburu-buru menjelaskan.
Justru di situlah letak kekuatannya, penonton diajak merasakan kebingungan yang sama dengan para karakter.
Satire yang Halus, Tapi Tepat Sasaran

Dialog "Lu tinggal di Indonesia, bukan di Norwegia!" mungkin terdengar seperti candaan biasa.
Namun dalam konteks film ini, kalimat tersebut terasa seperti ringkasan dari banyak hal yang tidak perlu dijelaskan panjang lebar.
Humor dalam film ini bekerja dengan cara yang cerdas. Tidak memaksa untuk lucu, melainkan muncul dari situasi yang ironisnya terasa wajar.
Penjelasan tentang "Padang Mahsyar versi lapas," misalnya, mengundang tawa yang datang sedikit terlambat, karena otak butuh waktu untuk mencerna bahwa itu sebenarnya sindiran.