Suara.com - Kisah menyentuh sekaligus memilukan dari pedalaman Desa Muara Kulam, Sumatera Selatan sedang jadi viral.
Adalah Pak Rudi, seorang guru honorer yang telah mengabdi bertahun-tahun.
Bukan hanya menjadi garda terdepan dalam memberikan ilmu, Pak Rudi juga memastikan keselamatan anak didiknya setiap hari.
Kondisi geografis Desa Muara Kulam yang terbelah sungai tanpa fasilitas jembatan memaksa para siswa untuk bertaruh nyawa demi mencapai sekolah.
Tanpa akses penyeberangan yang memadai, satu-satunya cara tercepat adalah dengan melintasi sungai yang arusnya bisa berubah menjadi ganas sewaktu-waktu.
Setiap pagi, sebelum bel sekolah berbunyi, Pak Rudi sudah bersiap di pinggir sungai.
Ia bertugas sebagai "penjaga nyawa" murid-muridnya sampai ke sekolah dengan selamat.
Menggunakan getek atau rakit bambu sederhana, Pak Rudi mengomandoi anak-anak agar naik dengan tertib.
"Dengan penyeberangan ini, kita harus hati-hati ya! Sehat terus, jalan!" ujar Pak Rudi memberikan instruksi tegas tetapi penuh kasih kepada para muridnya sebelum memulai penyeberangan.
Jika kondisi sungai sedang surut, getek masih bisa diandalkan. Namun tantangan sesungguhnya muncul saat debit air meningkat.
Dalam kondisi ekstrem tersebut, Pak Rudi bersama orang tua siswa dan warga sekitar harus saling bahu-membahu menggendong anak-anak menerjang arus sungai untuk menuju sekolah.
Dedikasi luar biasa Pak Rudi bukan tanpa alasan. Ada luka lama yang memicu semangatnya untuk terus bersiaga
Di unggahan akun X @agustrih13, dijelaskan bahwa ada kejadian tragis yang menimpa anak didik Pak Rudi.
"Saya nggak mau ada anak didik saya yang hanyut lagi. Cukup sekali kejadian tragis itu, gak boleh terulang lagi," ungkapnya.
Hal yang membuat hati kian teriris adalah kenyataan bahwa perjuangan besar Pak Rudi hanya dihargai dengan gaji sekitar Rp300 ribu per bulan.
Meski upah yang diterimanya jauh dari kata cukup untuk kebutuhan sehari-hari, Pak Rudi tetap konsisten hadir lebih awal di pinggir sungai setiap pagi.
Melihat semangat belajar anak-anak desa yang tidak luntur walau harus bertaruh nyawa, Pak Rudi hanya memiliki satu impian sederhana: pembangunan jembatan.
Ia berharap pemerintah atau dermawan tergerak untuk membangun akses yang aman agar anak-anak tidak perlu lagi mendaki tepian sungai licin atau ketakutan saat arus sungai meluap.
Akun @gerindra milik Partai Gerindra rupanya gerak cepat alias gercep menanyakan alamat sekolah Pak Rudi.
"Ada yang tau alamat lengkapnya?" tanya akun @gerindra.
Pertanyaan tersebut direspons akun @maschoco yang mengungkap bahwa jembatan menuju sekolah Pak Rudi sebenarnya telah dibangun.
"Ini jembatan sudah kami bangun oleh tim relawan dan yayasan sahabat pedalaman," balas akun @maschoco sambil membagikan potret Pak Rudi dan murid-muridnya di jembatan sebagai bukti.
Kontributor : Neressa Prahastiwi