Mengapa Kereta Api Tak Bisa Mengerem Mendadak Meski Ada Bahaya? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Ferry Noviandi

Selasa, 28 April 2026 | 13:39 WIB
Mengapa Kereta Api Tak Bisa Mengerem Mendadak Meski Ada Bahaya? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Ini sejumlah alasan mengapa kereta tidak bisa melakukan pengereman mendadak. '(dok. Institut Teknologi Sepuluh November]

Suara.com - Insiden kecelakaan kereta yang melibatkan Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026 malam, memicu beragam reaksi dari masyarakat.

Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah alasan kereta api tidak melakukan pengereman mendadak untuk menghindari tabrakan.

Mengacu pada informasi dari situs resmi Kereta Api Indonesia (KAI), secara teknis sistem pengereman kereta api berbeda dengan kendaraan darat lainnya.

Kereta api membutuhkan jarak tertentu untuk dapat berhenti sepenuhnya saat proses pengereman dilakukan.

Berikut ini faktor-faktor yang menyebabkan mengapa kereta api tidak dapat mengerem mendadak:

1. Panjang dan Berat Rangkaian Kereta Api

Kereta api melintas di jalur kereta api petak jalan Jekarah-Semarang Poncol pasca kecelakaan truk berat tertabrak kereta api di perlintasan Madukoro Raya, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (21/7/2023). . ANTARA FOTO/Makna Zaezar/YU
Kereta api melintas di jalur kereta api petak jalan Jekarah-Semarang Poncol pasca kecelakaan truk berat tertabrak kereta api di perlintasan Madukoro Raya, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (21/7/2023). [ANTARA FOTO/Makna Zaezar/YU]

Salah satu faktor utama adalah panjang serta berat rangkaian kereta. Semakin panjang dan berat kereta, maka semakin besar pula jarak yang dibutuhkan untuk berhenti total.

Di Indonesia, satu rangkaian kereta penumpang umumnya terdiri dari delapan hingga 12 gerbong dengan bobot sekitar 600 ton, belum termasuk penumpang serta barang bawaan.

Kondisi ini membuat energi yang diperlukan untuk menghentikan kereta menjadi sangat besar.

2.Sistem Pengereman

Alasan mengapa kereta api tak bisa mengerem mendadak [KAI]
Alasan mengapa kereta api tak bisa mengerem mendadak [KAI]

Selain itu, sistem pengereman kereta api di Indonesia umumnya menggunakan rem udara.

baca juga

Mekanismenya bekerja dengan cara mengompresi udara yang kemudian disalurkan melalui pipa di sepanjang roda untuk menciptakan friksi.

Friksi inilah yang membantu memperlambat hingga menghentikan laju kereta.

Meskipun tersedia rem darurat, sistem ini tetap tidak memungkinkan kereta berhenti secara tiba-tiba, melainkan hanya mempercepat proses perlambatan dengan tekanan udara yang lebih besar.

Artinya, meskipun masinis telah melihat adanya hambatan di rel dan segera melakukan pengereman, kereta tetap membutuhkan jarak tertentu untuk berhenti sepenuhnya.

Jika jarak tersebut tidak mencukupi, maka potensi tabrakan menjadi sulit dihindari.

Beberapa faktor turut memengaruhi panjang jarak pengereman, antara lain kecepatan kereta, kondisi kemiringan rel, besar gaya pengereman, jenis kereta, jenis rem yang digunakan, hingga kondisi cuaca dan aspek teknis lainnya.

Selain itu, sistem rem kereta bekerja menggunakan tekanan udara yang terhubung dengan piston dan silinder pada roda.

Jika tekanan dilepaskan secara mendadak, pengereman bisa terjadi tidak merata, yang berisiko menyebabkan gerbong tergelincir, terseret, bahkan terguling.

Selain memperhatikan beberapa faktor yang bisa memicu kecelakaan, para pengdenara mobil dan motor juga harus mengutamakan keselamatan diri sendiri maupun penumpang.

Hal ini juga telah diatur dalam UU No. 22 Tahun 2009 Pasal 114 yang mewajibkan pengendara berhenti saat sinyal berbunyi dan mendahulukan kereta api.

Pelanggaran terhadap aturan tersebut dapat dikenai sanksi pidana kurungan maksimal tiga bulan atau denda hingga Rp750 ribu sesuai Pasal 296.

Kontributor : Rizka Utami

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Daftar Kecelakaan Taksi Green SM, Terobos Palang Perlintasan KRL hingga Tabrak Tukang Nasi Goreng

Daftar Kecelakaan Taksi Green SM, Terobos Palang Perlintasan KRL hingga Tabrak Tukang Nasi Goreng

Entertainment | Selasa, 28 April 2026 | 12:58 WIB

Kecelakaan Maut Kereta di Bekasi, Ibu Muda Meninggal di Hari Pertama Kerja Usai Cuti Melahirkan

Kecelakaan Maut Kereta di Bekasi, Ibu Muda Meninggal di Hari Pertama Kerja Usai Cuti Melahirkan

Entertainment | Selasa, 28 April 2026 | 12:51 WIB

Tragedi Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Palang Pintu Manual dan Dugaan Keterlibatan Ormas Disorot

Tragedi Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Palang Pintu Manual dan Dugaan Keterlibatan Ormas Disorot

Entertainment | Selasa, 28 April 2026 | 12:17 WIB

Penjelasan Ibu-Ibu Soal Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur Dipuji: Paling Simpel dan Jelas

Penjelasan Ibu-Ibu Soal Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur Dipuji: Paling Simpel dan Jelas

Entertainment | Selasa, 28 April 2026 | 10:08 WIB

Terkini

PPAD Bekali Calon Wisudawan Purnawira 2026, Tegaskan Pensiun Bukan Akhir Pengabdian

PPAD Bekali Calon Wisudawan Purnawira 2026, Tegaskan Pensiun Bukan Akhir Pengabdian

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:45 WIB

Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya

Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya

Jogja | Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:40 WIB

Layanan Bedah Jantung Hadir di Ciayumajakuning Tandai HUT ke-23 Mitra Plumbon

Layanan Bedah Jantung Hadir di Ciayumajakuning Tandai HUT ke-23 Mitra Plumbon

Health | Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:34 WIB

Hari Listrik Nasional ke-81, Pertamina Kilang Plaju Dukung Kemandirian Energi lewat PLTMh

Hari Listrik Nasional ke-81, Pertamina Kilang Plaju Dukung Kemandirian Energi lewat PLTMh

Sumsel | Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:32 WIB

Bonus Bukan Semata Hadiah, Prabowo Ingatkan Atlet Jangan Cepat Puas

Bonus Bukan Semata Hadiah, Prabowo Ingatkan Atlet Jangan Cepat Puas

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:30 WIB

Polisi Tangkap Host Live TikTok Bermuatan Pornografi di Deli Serdang, Raup Rp80 Juta

Polisi Tangkap Host Live TikTok Bermuatan Pornografi di Deli Serdang, Raup Rp80 Juta

Sumut | Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:25 WIB

Bahas Opsi Pemakzulan Gibran, Denny Indrayana Jalin Komunikasi Dengan Petinggi PDIP

Bahas Opsi Pemakzulan Gibran, Denny Indrayana Jalin Komunikasi Dengan Petinggi PDIP

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:25 WIB

Korban Luka Kericuhan Malioboro Capai 116 Orang, 13 Jalani Dirawat Inap

Korban Luka Kericuhan Malioboro Capai 116 Orang, 13 Jalani Dirawat Inap

Jogja | Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:19 WIB

Harga Token Pi Turun di Tengah Peluncuran Fitur Pi Desktop v0.6.4, Bagaimana Prospeknya?

Harga Token Pi Turun di Tengah Peluncuran Fitur Pi Desktop v0.6.4, Bagaimana Prospeknya?

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:17 WIB

26 Orang Belum Diketahui Keberadaannya usai Kericuhan Malioboro, LBH Soroti Transparansi Polisi

26 Orang Belum Diketahui Keberadaannya usai Kericuhan Malioboro, LBH Soroti Transparansi Polisi

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:16 WIB

×