Suara.com - Tragedi tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur kembali menimbulkan pertanyaan penting soal sistem persinyalan dan keselamatan kereta api di Indonesia.
Tragedi mengenaskan yang menyebabkan sedikitnya 15 orang meninggal dunia dan 84 lainnya luka-luka ini menyisakan pertanyaan besar, bagaimana bisa Kereta Api Argo Bromo Anggrek masuk ke jalur yang sudah ditempati oleh rangkaian KRL?
Pengamat transportasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Sony Sulaksono, menilai bahwa jenis kendaraan yang terlibat kecelakaan awal, yakni taksi listrik, menjadi faktor krusial terganggunya sistem persinyalan.
Menurut Sony Sulaksono, komponen elektrik pada kendaraan tersebut memengaruhi parameter sinyal di rel yang terbuat dari besi.
Hal ini menyebabkan sistem tidak mengeluarkan peringatan (warning) bagi kereta yang melintas di belakangnya, meskipun jalur sedang terhalang.
![Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline usai bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). [ANTARA FOTO/Galih Pradipta/nz]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/28/32447-kecelakaan-kereta-argo-bromo-dengan-krl-di-bekasi-timur-ka-argo-bromo-anggrek.jpg)
"Taksi kan mogok di tengah rel yang dari besi, jadi ada kemungkinan memengaruhi sinyal. Harusnya kalau kejadian tabrakan seperti itu ada warning buat kereta api sebelumnya," terang Sony.
Lebih lanjut, Sony menjelaskan, jika kendaraan yang mogok adalah mobil konvensional, risiko gangguan terhadap parameter elektrikal persinyalan cenderung lebih kecil.
Sony pun menekankan bahwa mitigasi khusus terhadap kecelakaan yang melibatkan kendaraan listrik di jalur kereta api kini menjadi sangat mendesak.
"Memang ada kecurigaan yang ditabraknya itu mobil listrik ya, yang punya komponen-komponen elektrik yang mungkin bisa memengaruhi persinyalan. Ini mungkin ada penyidikan lebih jauh terutama dari KNKT," lanjutnya.
Selain faktor persinyalan yang error karena mobil listrik, Sony juga menyoroti kerusakan parah yang terjadi pada rangkaian Commuter Line.

Adapun dalam insiden tersebut, lokomotif KA Argo Bromo Anggrek tampak menghantam hingga masuk ke dalam gerbong belakang KRL.
Hal ini secara teknis disebabkan oleh perbedaan massa dan bobot yang sangat kontras antara kedua jenis kereta tersebut.
Lokomotif kereta api jarak jauh seperti KA Argo Bromo Anggrek memiliki bobot masif sekitar 120 hingga 140 ton, sedangkan gerbong KRL yang ditabrak hanya memiliki berat sekitar 40 hingga 60 ton.
"Kalau terkait KA Argo Bromo nembus ke gerbong KRL karena Argo Bromo-nya kan lokomotif. Lokomotif itu beratnya sekitar 120 sampai 140 ton, sementara yang ditabrak gerbong kereta kosong rangka doang, paling beratnya sekitar 40-60 ton makanya sampai hancur," papar Sony.
Sebagai informasi, hingga kini, PT KAI masih membuka posko darurat selama 14 hari ke depan di dua stasiun yakni di Stasiun Gambir dan di Stasiun Bekasi Timur.