Suara.com - Fenomena operasi plastik (oplas) hidung yang berbalut alasan medis menjadi diskusi hangat di media sosial.
Baru-baru ini, dr Anisa Charismawati yang dikenal sebagai Doctor Educator for Muslim Aesthetic Problems, menjadi sorotan setelah gencar membahas fenomena rhinoplasty dengan alasan sinusitis yang marak dilakukan.
Melalui unggahan di media sosialnya, dr Anisa memberikan pesan yang cukup tajam bagi mereka yang dianggap menggunakan penyakit sebagai alasan untuk mengubah bentuk fisik.
"Kalau hidung udah kembali ke fitrahnya bisa napas yowes stop, jangan pakai alibi penyakit buat diembel-embelin dipercantik dimancungin itu idung," tulis dr Anisa.
"Habis melasma, lanjut gigi boneng vs rhinoplasty sekarang sinusitis vs rhinoplasty. Saya tak dakwah aja dok, punten gaes ilmu agama gratis jangan sampai dibutakan dunia."
Sentilan ini memicu spekulasi luas di kalangan netizen. Banyak yang menduga bahwa kritik tersebut ditujukan kepada YouTuber kondang Ria Ricis.
Sebelumnya Ria Ricis memang mengakui melakukan operasi hidung dengan alasan kesehatan atau sinusitis.
Di kolom komentar, netizen ramai berspekulasi: "Siapa dok? Bukan @riaricis1795 pastinya kan dok."
Sementara yang lain secara terang-terangan bertanya, "Ria Ricis dok maksudnya?"
Tak hanya soal estetika, dr Anisa juga menyoroti beban yang harus ditanggung oleh para praktisi medis, khususnya dokter THT.
Dia merasa kasihan karena sering kali dokter THT "ditodong" untuk membuat hidung pasien menjadi lebih mancung saat prosedur sinusitis.
![Ria Ricis. [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/30/56793-ria-ricis.jpg)
"Kasian dokter THT gegara sinusitis diklaim operasinya bisa mancungin hidung, yang sinusnya enggak perlu operasi pada minta op ke dokter THT dan jadi pada kena todong operasi after sinus harus mancung," ucapnya.
"Jangan mau dibohongi oknum ya gaes. Enggak semua sinusitis harus operasi dan operasi sinus enggak bikin mancung."
Menurut penjelasannya, sinusitis adalah peradangan pada sinus yang penanganannya ada di ranah spesialis THT, bukan bedah plastik.
Secara teknis medis, dia menjelaskan memperbaiki polip atau sinus tidak memerlukan perubahan bentuk hidung menjadi tinggi atau mancung.
"Memperbaiki hidung yang miring atau septoplastik agar dia bisa bernapas kembali seperti normal pada umumnya," imbuh dr Anisa.
"Itu pun dilakukan hanya berfokus pada mengembalikan tulang hidung yang miring ke tempat asalnya tanpa melakukan perubahan bentuk sama sekali agar bisa kembali bernapas seperti normal pada umumnya."
Ia membedakan secara tegas antara septoplasty yang bertujuan mengembalikan fungsi, dengan rhinoplasty yang fokusnya adalah mengubah bentuk hidung seperti tinggi, pendek, atau ramping.
Berdasarkan kaidah fikih yang dipelajarinya, dr Anisa menyebut bahwa hukum asal sesuatu yang bermanfaat adalah boleh jika tujuannya mengembalikan manfaat asal untuk bernapas.
Namun, jika tujuannya murni untuk merubah bentuk, maka sesuai fatwa hal tersebut diharamkan.
Meskipun sempat menuai hujatan karena dianggap terlalu mencampuri urusan orang lain, dr. Anisa membela diri.
Dia berprinsip bahwa sebagai sesama Muslim, ia memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan.
"Siapa bilang bukan urusan kita? Dosanya memang milik masing-masing tapi tugas mengingatkan milik bersama karena jika sama sama lalai azabnya bisa jadi milik bersama. Makanya Allah perintahkan ini bukan tanpa alasan," pungkasnya dengan mengutip Alquran Surat Al-Ashr.
Bagi dr Anisa, yang terpenting adalah menunaikan kewajiban untuk menasihati, terlepas dari apakah nasihat tersebut akan didengar atau tidak.
Kontributor : Tinwarotul Fatonah