- Pak Di melaporkan Kiai Ashari atas dugaan pencabulan terhadap anaknya dan puluhan santriwati di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, Pati.
- Orang tua korban mengungkap adanya kejanggalan perilaku kiai, seperti dominasi santriwati dalam kegiatan pribadi serta permintaan pijat yang tidak wajar.
- Kiai Ashari kini telah ditetapkan sebagai tersangka dan pihak kepolisian masih melakukan pendalaman hukum terkait kasus tindak pidana tersebut.
Suara.com - Pak Di, ayah dari Tari (nama samaran), mengaku tidak pernah menyangka anaknya menjadi salah satu korban dugaan pencabulan yang dilakukan oleh Kiai Ashari di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, Kabupaten Pati.
Perasaan kecewa mendalam ia ungkapkan karena selama ini dirinya menaruh kepercayaan penuh kepada sosok kiai tersebut.
“Saya kecewa, karena saya sudah percaya penuh sama pak kiai itu. Karena di situ sampai anak saya empat saya taruh di situ semua. Cewek tiga, adik dia dua,” cerita Pak Di dalam podcast bersama Denny Sumargo yang tayang di YouTube.
Pak Di juga mengungkapkan bahwa dirinya bukan orang luar dalam lingkungan pesantren tersebut. Ia bahkan sudah cukup lama terlibat dan membantu sejak awal pendirian kegiatan keagamaan yang kemudian berkembang menjadi pondok pesantren.
“Saya di situ mulai dari 2015–2016. Mula-mula di situ ngaji lah, banyak orang tua ngaji di situ, saya nimbrung,” bebernya.
Ia menjelaskan bahwa sebelum pesantren berdiri, kegiatan awalnya hanya berupa perkumpulan jamaah tarekat. Dari sana kemudian berkembang menjadi pembangunan pondok, termasuk membantu mencari santri hingga ikut dalam proses pembangunan fasilitas seperti gedung pendidikan.
“Sebelumnya belum ada pondok itu. Di situ ngumpulin orang untuk jamaah tarikoh di Jawa Timur. Di situ mulai bikin pondok, bantu-bantu cari santri, bantu bangun pondok, jadi di situ mulai pembangunan Gedung MI,” imbuhnya.
Namun seiring berjalannya waktu, Pak Di mulai merasakan adanya kejanggalan dalam perilaku sang kiai. Beberapa hal yang menurutnya tidak wajar mulai terlihat, terutama dalam aktivitas keseharian di lingkungan pesantren.
“Gerak-gerik kiai kurang pas. Contoh dia selalu yang diajak pergi malam entah ziarah atau salawatan, kebanyakan santriwati atau wanita,” tuturnya.
Ia juga menyoroti kebiasaan yang dianggap tidak biasa, seperti adanya permintaan untuk dipijat yang lebih sering diberikan kepada santriwati dibanding santri laki-laki.
![Kiai Ashari menyuruh para korba untuk menelan spermanya. [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/08/94589-kiai-ashari.jpg)
“Kejanggalan-kejanggalan di situ, dia selalu kenapa ya, yang disuruh mijit kok nggak pernah anak laki-laki. Padahal di situ banyak santri laki-laki,” sambungnya.
Selain itu, Pak Di menyebut bahwa kiai tersebut juga kerap membicarakan santriwati dalam percakapan sehari-hari, termasuk memberikan alasan tertentu terkait ketidaksukaan terhadap cara kerja santri tertentu.
Pak Di juga mengungkap bahwa Kiai Ashari kerap berbicara mengenai para santriwati ketika berada dalam percakapan sehari-hari dengannya.
“Setiap kali sering duduk sama saya, kalau malam sering nongkrong di situ. Kalau dia tidak cocok sama yang satu, alasannya tangannya gatal, dalam arti kurang enak mijitnya,” jelas Pak Di.
Pernyataan tersebut membuat Pak Di semakin mengingat kembali berbagai kejanggalan yang sebenarnya sudah lama ia rasakan, namun saat itu belum ia pahami sebagai tanda-tanda yang mengarah pada dugaan perilaku menyimpang.