- Film Bob Marley: One Love karya sutradara Reinaldo Marcus Green menyoroti periode krusial kehidupan musisi reggae tersebut antara tahun 1976 hingga 1978.
- Kingsley Ben-Adir dan Lashana Lynch memerankan Bob serta Rita Marley dalam menghadapi konflik politik Jamaika hingga proses kreatif album Exodus.
- Film biopik yang tayang di Netflix hingga akhir Mei ini menggambarkan perjalanan spiritual dan emosional Bob Marley dalam menyuarakan pesan perdamaian.
Suara.com - Bagi Anda pecinta film-film biopik, jangan terlewat menyaksikan cerita dari legenda musik reggae dunia, Bob Marley lewat judul Bob Marley: One Love.
Film ini tayang di Netflix, tetapi akan segera menghilang di akhir Mei ini. Daripada Anda menyesal, segera saksikan filmnya, dan berikut kami sajikan review-nya.
Dunia mengenal namanya, musiknya menjadi lagu kebangsaan bagi kebebasan, namun sedikit yang benar-benar memahami badai di balik senyum sang legenda.
Film Bob Marley: One Love bukan sekadar rangkuman karier sang raja reggae. Ini adalah sebuah potret intim tentang keteguhan hati, cinta, dan pencarian kedamaian di tengah kekacauan politik.
Disutradarai oleh Reinaldo Marcus Green (King Richard), film ini memilih untuk tidak terjebak dalam pola biopik tradisional "dari lahir hingga liang lahad".
![Film Bob Marley: One Love yang dibintangi Kingsley Ben-Adir tengah tayang di Netflix. [Paramount]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/25/25073-film-bob-marley-one-love.jpg)
Sebaliknya, Green memfokuskan lensa kameranya pada periode paling krusial dalam hidup Marley: antara tahun 1976 hingga 1978.
Cerita dimulai di Jamaika yang sedang membara. Di tengah polarisasi politik yang nyaris memicu perang saudara, Bob Marley (diperankan oleh Kingsley Ben-Adir) mencoba menyatukan bangsanya melalui musik.
Namun, niat mulia itu dibayar mahal dengan upaya pembunuhan yang hampir merenggut nyawanya dan istrinya, Rita Marley (Lashana Lynch).
Trauma inilah yang membawa penonton mengikuti perjalanan pengasingan Bob ke London.
Di sinilah aspek magis film ini muncul. Kita diajak mengintip dapur kreatif pembuatan album legendaris Exodus.
Penonton tidak hanya disuguhi lagu-lagu hits, tetapi juga pergulatan batin seorang laki-laki yang memikul beban sebagai simbol perdamaian dunia, sementara ia sendiri sedang mencari arti rumah yang sesungguhnya.
![Film Bob Marley: One Love yang dibintangi Kingsley Ben-Adir tengah tayang di Netflix. [Paramount]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/25/82874-film-bob-marley-one-love.jpg)
Tantangan terbesar film biopik adalah aktor utamanya, dan Kingsley Ben-Adir berhasil menjawab keraguan itu dengan gemilang.
Ben-Adir tidak sekadar meniru gerak-gerik panggung Marley atau gaya bicaranya yang khas Patois. Ia berhasil menangkap "vibe" dan kerentanan seorang Bob Marley.
Di balik rambut dreadlock dan kepulan asap, Ben-Adir memperlihatkan sosok Bob yang kesepian, visioner, sekaligus keras kepala.
Namun, kejutan terbesar datang dari Lashana Lynch. Sebagai Rita Marley, Lynch adalah jangkar emosional film ini.
Chemistry-nya dengan Ben-Adir memberikan dimensi kemanusiaan yang dalam.
Hubungan mereka digambarkan tidak sempurna, penuh gesekan dan luka, namun didasari oleh komitmen spiritual yang tak tergoyahkan.
Lynch membuktikan bahwa di balik setiap langkah besar Bob, ada kekuatan Rita yang menopangnya.
Reinaldo Marcus Green memberikan sentuhan visual yang hangat namun jujur.
Penggambaran Jamaika yang penuh warna kontras dengan London yang dingin dan kelabu, mencerminkan suasana hati Bob saat itu.
Dan tentu saja, musik adalah nyawa utama. Setiap dentuman drum dan melodi gitar dalam film ini dirancang untuk membuat kursi bioskop bergetar, membawa pesan "One Love, One Heart" langsung ke jantung penonton.
Meski beberapa kritikus menilai alurnya terasa terlalu "aman" karena keterlibatan keluarga Marley sebagai produser, tak bisa dipungkiri bahwa Bob Marley: One Love adalah film yang indah untuk sang legenda.
Film ini berhasil mengingatkan kita mengapa pesan Marley masih relevan hingga hari ini: bahwa di dunia yang terpecah, musik adalah satu-satunya bahasa yang bisa menyatukan kita.