- Anjasmara mengembangkan produk parfum miliknya akibat pengalaman kurang menyenangkan terkait aroma parfum yang terlalu menyengat di sebuah pusat perbelanjaan.
- Aktor tersebut menerapkan standar perfeksionisme tinggi dalam proses pengembangan produk Harmel selama satu setengah tahun demi kualitas yang maksimal.
- Sebelum diluncurkan secara resmi, Anjasmara melakukan uji coba penggunaan produk selama enam bulan untuk memastikan kenyamanan aroma bagi para pengguna.
Suara.com - Anjasmara ternyata punya pengalaman kurang menyenangkan terkait parfum yang membekas hingga sekarang. Pengalaman itu pula yang menjadi salah satu alasan dirinya sangat detail saat mengembangkan produk parfum miliknya.
Sang artis mengaku pernah kehilangan rasa percaya diri setelah mencoba parfum dengan aroma yang terlalu kuat saat berada di sebuah pusat perbelanjaan.
"Sempat saya nyobain disemprotin parfum ya di pertokoan gitulah. Semprot parfum, terus baunya terlalu strong," kata Anjasmara saat ditemui di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat pada Senin, 1 Juni 2026,
Karena merasa tidak nyaman dengan aroma tersebut, suami Dian Nitami tersebut langsung berusaha menghilangkannya.
"Jadi akhirnya saya, aduh gimana caranya saya buru-buru langsung ke toilet, cuci-cuci supaya wanginya hilang," bebernya.
![Anjasmara saat ditemui di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat pada Senin, 1 Juni 2026. [Suara.com/Tiara Rosana]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/03/63133-anjasmara.jpg)
Pengalaman tersebut membuat Anjasmara memiliki preferensi tersendiri soal aroma parfum. Menurutnya, wangi yang ideal tidak harus menyengat, tetapi tetap memiliki karakter yang kuat dan meninggalkan kesan.
"Saya suka sesuatu hal yang soft tapi bener-bener punya sebuah statement yang kokoh gitu. Enggak mau baunya yang terlalu strong, enggak mau yang terlalu lembut. Maunya yang pas," tutur aktor 50 tahun tersebut.
Prinsip itu kemudian diterapkannya saat mengembangkan Harmel. Namun, prosesnya ternyata tidak mudah.
Anjasmara mengaku sifat perfeksionisnya membuat pengembangan produk tersebut memakan waktu hingga satu setengah tahun.
"Oh iya (butuh waktu lama). Bahkan saya sebenarnya sempat putus asa karena tim saya penginnya yang perfect banget," katanya.
Tak hanya tim, Anjasmara juga mengakui dirinya termasuk sosok yang perfeksionis. Karena itu, setiap detail produk harus melalui berbagai tahap evaluasi sebelum akhirnya diluncurkan.
"Saya termasuk perfeksionis juga soalnya," ucapnya.
Dari tiga produk yang dikembangkan, parfum menjadi yang paling banyak mengalami trial and error. Anjasmara berkali-kali mengganti formula karena merasa aroma yang dihasilkan belum sesuai harapan.
"Trial error yang paling lamanya sebenarnya kalau yang paling lama itu ada di perfume kayaknya. He-eh. Parfum paling lama. 'Ini baunya enggak enak', 'ini kurang', terus sudah gitu 'ini wanginya sebentar', 'ini kurang gini, kurang gitu'," tuturnya.
Bahkan sebelum diluncurkan ke publik, Anjasmara memilih menggunakan sendiri produknya selama berbulan-bulan untuk memastikan kenyamanan dan kualitasnya.
"Aku juga sudah kebetulan kan produk ini sudah setahun, jadi sudah sekitar enam bulan terakhir ini aku selalu pakai gitu. Karena aku harus coba dulu nih, ini beneran sesuai dan beneran nyaman enggak dipakainya. Kalau misalkan enggak nyaman, ya masa kita harus launching, kan nanti yang ada jadi malu-maluin," jelas Anjasmara.
Menurutnya, parfum dan deodoran merupakan dua barang yang selalu dibawa saat beraktivitas. Karena itu, dia tak ingin asal dalam menentukan aroma yang akan digunakan banyak orang.
"Parfum dan deodoran, itu yang paling penting," imbuh Anjasmara.