- Band Peterpan menggelar konser bertajuk The Journey Continues di Idea Live Arena Malaysia setelah absen selama hampir dua dekade.
- Sebanyak 5.000 penonton dari berbagai negara hadir menyaksikan penampilan lagu-lagu populer yang dibawakan musisi tamu dan Zah Amirul.
- Konser sukses memukau penonton melalui produksi berstandar internasional yang merayakan warisan karya musik Peterpan lintas negara dan waktu.
Suara.com - Kerinduan mendalam publik Malaysia terhadap magis musik Peterpan akhirnya tuntas.
Setelah hampir dua dekade absen, melodi ikonik dari band legendaris Indonesia ini kembali menggelegar dalam konser bertajuk "The Journey Continues: Peterpan-Semua Tentang Kita" yang dihelat meriah di Idea Live Arena, baru-baru ini.
Lautan manusia sebanyak 5.000 penonton menyemut di dalam arena.
Tak hanya datang dari berbagai penjuru Malaysia, para penggemar setia ini bahkan rela terbang dari Indonesia, Singapura, hingga Brunei Darussalam demi menjadi saksi sejarah kembalinya "nyawa" Peterpan ke tanah jiran.
Nostalgia Tanpa Batas
![Konser Peterpan di Malaysia sukses ditonton hingga lima ribu orang. Penonton tidak saja dari Malaysia, tapi juga Singapura, Brunei Darussalam dan Indonesia. [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/17/54896-konser-peterpan-di-malaysia.jpg)
Konser malam itu bukan sekadar pertunjukan musik biasa, melainkan sebuah mesin waktu.
Begitu lagu-lagu hits seperti "Topeng", "Ada Apa Denganmu", dan "Mungkin Nanti" berkumandang, suasana arena seketika berubah menjadi ruang karaoke raksasa.
Ribuan orang bernyanyi serempak, larut dalam emosi yang telah tersimpan selama 18 tahun.
Meski tampil tanpa kehadiran sang vokalis asli, Ariel, kekuatan karya Peterpan terbukti tak lekang oleh waktu.
Lagu-lagu seperti "Tak Bisakah", "Bintang di Surga", hingga lagu wajib "Semua Tentang Kita" sukses menghidupkan kembali masa keemasan pop Indonesia di hati lintas generasi.
![Konser Peterpan di Malaysia sukses ditonton hingga lima ribu orang. Penonton tidak saja dari Malaysia, tapi juga Singapura, Brunei Darussalam dan Indonesia. [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/17/20457-konser-peterpan-di-malaysia.jpg)
Kolaborasi Lintas Negara dan "Ariel" dari Sarawak
Panggung semakin panas dengan kehadiran deretan musisi papan atas yang memberikan tribut luar biasa.
Marcello Tahitoe (Ello), Tantri Syalindri (Kotak), Rony Parulian, dan Arda Hatna tampil memukau bersanding dengan bintang Malaysia, Hael Husaini.
Kolaborasi ini menjadi simbol kuat eratnya persaudaraan industri musik kedua negara.
Namun, momen paling mengharukan terjadi saat Zah Amirul naik ke panggung.
Pemuda asal Sarawak yang memenangkan kompetisi "Vokalis Peterpan" di radio ERA ini mengejutkan penonton dengan karakter suara dan wajah yang sangat mirip dengan Ariel.
Kehadirannya seolah melengkapi kepingan nostalgia yang dicari oleh para penggemar malam itu.
Produksi Megah Berstandar Internasional
Kembalinya Peterpan dikemas dengan produksi yang sangat serius.
Tata cahaya yang dinamis, visual panggung modern, serta kualitas suara berstandar internasional membuat setiap detik pertunjukan terasa sangat intim sekaligus megah.
Lautan cahaya dari ponsel penonton menciptakan atmosfer emosional yang menyelimuti seluruh ruangan.
Keberhasilan acara ini merupakan buah kerja keras kolaborasi Pulse Project Asia, Blacksky Enterprise (Malaysia), dan INTX Enterprise (Indonesia), dengan dukungan penuh dari berbagai pihak termasuk Tourism Malaysia serta Kementerian Ekonomi Kreatif RI.
"Sambutan luar biasa malam ini membuktikan bahwa musik Peterpan memiliki tempat yang sangat istimewa. Ini bukan sekadar konser, tapi perjalanan nostalgia yang menyatukan ribuan hati,"kata Boy, Direktur Pulse Project Asia.
Senada dengan itu, Thata dari Blacksky Enterprise dan Jerry Hend dari INTX Enterprise mengaku bangga.
"Bahkan tanpa vokalis asli, seluruh arena tetap bergetar. Ini bukti bahwa karya mereka adalah warisan abadi yang melampaui batas negara dan waktu," ujarnya.
Malam itu, Peterpan tidak hanya membawa lagu, mereka membawa kembali kenangan. Dan bagi 5.000 orang di Idea Live Arena, 18 tahun penantian terasa sangat sepadan.