- Li Foundation bersama mitra menggelar Inspiring Indonesia 2026 di Ice Palace Jakarta untuk menampilkan film pendek pemberdayaan komunitas.
- Acara ini melibatkan ribuan pemilih publik serta memperkenalkan kategori baru untuk karya film berbasis teknologi kecerdasan buatan.
- Para pemenang festival dari Indonesia selanjutnya akan melanjutkan kompetisi tingkat regional di Manila, Filipina.
Suara.com - Film bukan sekadar tontonan, melainkan corong perubahan. Semangat inilah yang terpancar kuat dalam gelaran Regional Screening & Awarding Day #InspiringIndonesia.
Ini adalah bagian dari rangkaian Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 yang berlangsung meriah di Ice Palace, Lotte Mall, Jakarta, baru-baru ini.
Mengusung tema besar "Community Empowerment: Belonging, Resilience, Thriving", festival ini menjadi panggung bagi 11 karya film pendek terbaik yang memotret perjuangan, kreativitas, dan ketangguhan komunitas di berbagai pelosok nusantara.
Lebih dari Sekadar Sinematografi
Digagas oleh Li Foundation bekerja sama dengan Djarum Foundation, Tanoto Foundation, dan Campaign for Good, festival ini bertujuan mengangkat isu sosial melalui kekuatan storytelling.
"#InspiringIndonesia 2026 bukan hanya tentang karya, tetapi tentang kekuatan cerita dalam menciptakan perubahan. Setiap cerita yang dibagikan adalah bentuk pemberdayaan," ujar Candy Goh, Director Li Foundation.
Senada dengan itu, produser film ternama Muhammad Zaidy (Palari Films) yang bertindak sebagai juri, menekankan bahwa film pendek yang baik adalah yang mampu menyentuh emosi sekaligus menyampaikan gagasan besar.
"Dua pemenang kategori Micro Film berhasil mengemas gagasan dengan sangat kuat," katanya memuji.
Inovasi AI dan Suara Publik
Ada yang unik dalam penyelenggaraan tahun ini. Untuk pertama kalinya, kategori Best AI Film Award diperkenalkan.
Kategori ini membuka pintu bagi kreator yang memiliki keterbatasan alat atau biaya, namun punya ide brilian, untuk berkarya menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Tak hanya itu, proses seleksi finalis di Indonesia melibatkan partisipasi publik secara masif melalui sistem community vetting di aplikasi Campaign for Good.
Sebanyak 7.411 anggota komunitas dari 38 provinsi ikut menentukan siapa yang layak melaju ke babak final.
Hasilnya luar biasa: lebih dari 65 persen penonton mengaku tergerak untuk membagikan film tersebut dan mempelajari isu sosial yang diangkat lebih dalam.
Para Jawara yang Menginspirasi