- Maia Estianty mengunggah pandangan mengenai rezeki, kerja keras, dan sedekah di aplikasi Threads pada Oktober 2026.
- Unggahan tersebut menuai kritik luas dari warganet karena dianggap tidak peka terhadap kondisi kesulitan ekonomi masyarakat.
- Akibat pernyataan itu, sebagian pengguna media sosial memberikan komentar kritis dan mencap Maia Estianty sebagai pihak yang tone deaf.
Suara.com - Nama Maia Estianty menjadi sorotan warganet setelah unggahannya di media sosial Threads mengenai rezeki, kerja keras, dan sedekah menuai kritik.
Musisi sekaligus istri Irwan Mussry tersebut dinilai kurang peka terhadap kondisi masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi.
Unggahan itu membahas hubungan antara usaha manusia dan rezeki yang diterima dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, sejumlah warganet menilai persoalan kemiskinan tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan kurangnya kerja keras atau kebiasaan bersedekah.
Akibatnya, Maia Estianty mendapat berbagai komentar kritis dan dicap tone deaf oleh sebagian pengguna media sosial.
Lantas, bagaimana kronologi Maia Estianty mendapat kritik tersebut dan apa sebenarnya arti tone deaf?
Berikut penjelasan mengenai polemik yang ramai dibicarakan sekaligus makna istilah yang disematkan kepada sang musisi.
Kronologi Unggahan Maia Estianty Dikritik

Polemik bermula ketika Maia Estianty membagikan pemikirannya tentang rezeki melalui Threads pada Jumat, 9 Oktober 2026.
Ia mengibaratkan burung liar yang harus terbang mencari makanan sebagai gambaran bahwa manusia juga perlu berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dalam unggahan tersebut, Maia menyampaikan bahwa meskipun rezeki setiap makhluk hidup ditanggung Tuhan, manusia tetap perlu berikhtiar.
Ia juga mengaitkan kondisi keuangan yang sulit dengan kurangnya usaha dan kebiasaan bersedekah, baik berupa uang maupun tenaga.
"Melihat burung liar makan, berpikir bahwa semua makhluk hidup rezekinya ditanggung Allah itu benar, tapi burung juga kalau males terbang juga gak bakal dapat makanan," tulis Maia Estianty, dikutip pada Senin, 12 Oktober 2026.
"Artinya, kalau kita hidupnya kurang banyak uang, artinya kudu lebih ikhtiar lagi bekerja seperti burung yang terbang sana-sini mencari makanan. Kita males, ya rezeki kita seret. Akan seret lagi kalau gak pernah bersedekah (dengan uang atau tenaga)," lanjutnya.
Pernyataan itu kemudian menuai kritik dari sejumlah warganet. Mereka menilai kesulitan ekonomi tidak selalu disebabkan oleh kemalasan, tapi juga dapat dipengaruhi terbatasnya lapangan kerja, kondisi sosial, dan persoalan kemiskinan struktural.
Sebagian pengguna media sosial juga menilai ajakan bersedekah perlu disampaikan dengan mempertimbangkan keadaan orang yang bahkan masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya.
Karena itu, unggahan Maia dianggap kurang menunjukkan empati terhadap kelompok masyarakat yang sedang berjuang secara ekonomi.
"Niatnya mungkin mau nyindir orang yang ngatain dia tone deaf, tapi jujur...malah kelihatan tone deaf-nya sih bund," tulis akun @sed**te***a di X.

Apa Itu Tone Deaf?
Secara harfiah, tone deaf berarti tuli nada, yaitu kesulitan mengenali atau membedakan nada musik. Namun, dalam percakapan sehari-hari, istilah ini juga digunakan untuk menggambarkan seseorang yang dianggap tidak peka terhadap perasaan orang lain atau kurang memahami situasi sosial.
Menurut BBC Learning English dan sumber lain, penggunaan tone deaf dalam konteks sosial merujuk pada perkataan atau tindakan yang tidak sesuai dengan suasana maupun keadaan orang di sekitarnya.
Istilah tersebut juga dapat digunakan ketika seseorang tidak menyadari bahwa perkataan atau tindakannya kurang tepat dalam situasi tertentu.
Dalam kasus Maia Estianty, label tone deaf muncul karena sebagian warganet menilai unggahannya tentang kerja keras dan sedekah kurang mempertimbangkan pengalaman masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi.
Kritik tersebut bukan berarti semua orang memiliki pandangan yang sama, melainkan menunjukkan adanya perbedaan perspektif dalam menanggapi pesan yang disampaikan.
Dengan demikian, tone deaf dalam konteks polemik ini dapat dipahami sebagai istilah untuk mengkritik pernyataan yang dianggap kurang peka terhadap kondisi sosial.
Istilah tersebut berbeda dari makna medisnya dalam konteks kemampuan mengenali nada musik.