Geliat Pendidikan di Tengah Badai Pandemi Covid-19

Oke Atmaja | Angga Budiyanto
Geliat Pendidikan di Tengah Badai Pandemi Covid-19
Sejumlah siswa mengantre sebelum memasuki ruang kelas di SDN Pekayon Jaya VI, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (4/8/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

kasus positif COVID-19 di Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda penurunan, justru terus meningkat setiap harinya

Suara.com - Sejak kasus pertama diumumkan pada 2 Maret 2020 yang lalu, kasus positif COVID-19 di Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda penurunan, justru terus meningkat setiap harinya. Itu artinya, sudah hampir tujuh bulan Indonesia hidup berdampingan dengan virus ini, serta belum menemukan formula yang tepat untuk menekan angka penyebaran COVID-19.

Petugas memindai suhu tubuh seorang tamu dalam simulasi pendaftaran di posko PPDB SMP Negeri 60, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (10/6/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Petugas memindai suhu tubuh seorang tamu dalam simulasi pendaftaran di posko PPDB SMP Negeri 60, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (10/6/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Hal tersebut tentu saja berimbas ke banyak sektor, tidak terkecuali sektor pendidikan. Pendidikan menjadi salah satu sektor yang terimbas pandemi COVID-19 karena proses belajar mengajar secara langsung atau tatap muka untuk sementara waktu ditiadakan. Sebagai gantinya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggantinya dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau pembelajaran dengan sistem daring (online).

Petugas Palang Merah Indonesia (PMI) Jakarta Pusat menyemprotkan cairan disinfektan di lingkungan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bendungan Hilir 09 Jakarta Pusat, Senin (22/6/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Petugas Palang Merah Indonesia (PMI) Jakarta Pusat menyemprotkan cairan disinfektan di lingkungan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bendungan Hilir 09 Jakarta Pusat, Senin (22/6/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Praktik pendidikan secara daring (online) ini dilakukan oleh berbagai tingkatan jenjang pendidikan sejak tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga perguruan tinggi. Tidak ada lagi aktivitas pembelajaran di ruang-ruang kelas sebagaimana lazim dilakukan oleh tenaga pendidik seperti guru ataupun dosen. Langkah yang tepat, namun dinilai tanpa persiapan yang matang dan memadai.

Sejumlah siswa menunggu di tempat menunggu siswa sebelum memasuki ruang kelas di SDN Pekayon Jaya VI, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (4/8/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Sejumlah siswa menunggu di tempat menunggu siswa sebelum memasuki ruang kelas di SDN Pekayon Jaya VI, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (4/8/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Akibatnya, banyak tenaga pendidik, murid serta orang tua yang belum siap atau gagap dengan perubahan drastis ini. Di sisi lain, hampir tidak ada cara lain untuk meminimalisir penyebaran COVID-19 dengan membatasi pertemuan antar manusia dalam jumlah yang banyak, seperti di lingkungan sekolah atau perguruan tinggi.

Sejumlah calon siswa menunggu dengan menjaga jark fisik di posko Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di SMK Negeri 15, Jakarta, Kamis (25/6/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Sejumlah calon siswa menunggu dengan menjaga jark fisik di posko Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di SMK Negeri 15, Jakarta, Kamis (25/6/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang menggunakan internet dan piranti teknologi diakui memang berbeda dari pembelajaran tatap muka. Selain tidak ada sentuhan psikologi dan juga perhatian dari anak-anak, PJJ tidak sepenuhnya bisa mengontrol

Empat orang siswa belajar secara online di Warkop Rizki, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (29/7/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Empat orang siswa belajar secara online di Warkop Rizki, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (29/7/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

kualitas pembelajaran secara optimal. Ini dikarenakan keterbatasan teknologi dan juga keterbatasan kemampuan orang tua dalam menggunakan teknologi. 

Siswi kelas 2 SDN 01 Pagi Bukit Duri Keysha Nayara Effeni (8) belajar secara online ditemani ibunya Okta (31) di gerai makanan tempat Ibunya berjualan di kawasan Bukit Duri, Jakarta, Kamis (30/7/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Siswi kelas 2 SDN 01 Pagi Bukit Duri Keysha Nayara Effeni (8) belajar secara online ditemani ibunya Okta (31) di gerai makanan tempat Ibunya berjualan di kawasan Bukit Duri, Jakarta, Kamis (30/7/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Tidak dipungkiri, PJJ memang menimbulkan masalah pada tenaga pengajar, orang tua maupun anak sendiri. Tenaga pengajar belum bisa beradaptasi menyiapkan konsep pembelajaran yang efektif, karena perubahan yang sangat drastis. Orang tua sering mengeluhkan tugas dari sekolah yang cukup banyak. Sementara anak juga mengeluhkan tidak begitu paham tentang materi yang disampaikan, dan merasa terbebani dengan tugas dari sekolah. 

Sejumlah pelajar dari berbagai jenjang sekolah mengerjakan tugas dengan metode pembelajaran jarak jauh menggunakan fasilitas Wi-Fi gratis di balai warga RW 005 Kelurahan Kuningan Barat, Jakarta, Selasa (1/9/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Sejumlah pelajar dari berbagai jenjang sekolah mengerjakan tugas dengan metode pembelajaran jarak jauh menggunakan fasilitas Wi-Fi gratis di balai warga RW 005 Kelurahan Kuningan Barat, Jakarta, Selasa (1/9/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Pemerintah sendiri sebenarnya sudah memberikan alternatif pembelajaran tatap muka. Namun pembelajaran tatap muka harus mematuhi protokol kesehatan yang ketat dan diketahui oleh dinas pendidikan kabupaten/kota setempat. Namun pada kenyataannya, sekolah yang berada di zona kuning maupun hijau, akhirnya harus menutup kembali proses belajar mengajar secara tatap muka saat zona kembali menjadi merah.

Kepala Sekolah mengalungkan piagam tanda kelulusan kepada siswa Kelompok Bermain Taman Kanak-kanak (KB TK) saat wisuda virtual menggunakan Roboda (Robot Wisuda) di Sekolah Nasional Satu (Nassa School), Bekasi, Jawa Barat, Rabu (1/7/2020) . [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Kepala Sekolah mengalungkan piagam tanda kelulusan kepada siswa Kelompok Bermain Taman Kanak-kanak (KB TK) saat wisuda virtual menggunakan Roboda (Robot Wisuda) di Sekolah Nasional Satu (Nassa School), Bekasi, Jawa Barat, Rabu (1/7/2020) . [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Hal tersebut tentunya harus menjadi perhatian bagi kita bersama. Diperlukan kebijakan yang tepat dari pemerintah untuk menemukan formula yang pas bagi sektor pendidikan saat diterpa badai pandemi, sinergi antara tenaga pengajar, orang tua serta murid dalam menjalankan proses belajar mengajar jarak jauh untuk sementara waktu.

Seorang murid disaksikan orang tua menerima pengalungan medali dari guru sebagai tanda wisuda kelulusan sekolah secara "Drive Thru" di Madrasah Aliyah Annajah, Ciledug Raya, Jakarta, Jumat (19/6). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Seorang murid disaksikan orang tua menerima pengalungan medali dari guru sebagai tanda wisuda kelulusan sekolah secara "Drive Thru" di Madrasah Aliyah Annajah, Ciledug Raya, Jakarta, Jumat (19/6). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Karena pendidikan merupakan salah satu variabel dari indikator makro pembangunan manusia di Indonesia, maka jangan sampai ada kebijakan yang salah langkah karena ini menyangkut generasi bangsa Indonesia di kemudian hari. Kita semua pasti berharap, terpaan badai pandemi ini tidak sampai memporak-porandakan sektor pendidikan dan apa yang sudah dibangun oleh sekolah dan orang tua untuk generasi selanjutnya.

Foto dan Teks

Suara.com/Angga Budhiyanto

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS