Karena perekrutan ini dilakukan pusat, maka terjadilah siklus-siklus yang tidak syinkron dengan masing-masing sekolah, imbuhnya.
3. Sudah kita alami beberapa kali adalah Pemda tidak mengajukan formasi guru ASN yang sesuai dengan kebutuhan guru yang datanya dari pusat.
"Jadi jumlah murid, data dari dapodik, karena berbagai macam alasan," ujarnya.
Ketiga permasalahan ini menurut Menteri Nadim, mendorong pemerintah pusat untuk mencari solusi.
"Alhamdulilah setelah kira-kira enam bulan diskusi empat Kementerian, Kemendikbudristek, Kemenkeu, KemenpanRB, dan Kemendagri sudah mengerucut pada solusi, harapanya ini menjadi solusi permanen yang akan di implemntasikan di tahun 2024," tegasnya
Menyikapai permasalahan guru honorer tersebut, Menteri Nadim Menyebutkan ada tiga pilar solusi yang sifatnya permanen.
Tiga pilar dari solusi permanen tersebut adalah:
1. Konsep Market Place untuk guru,
Konsep tallen full untuk guru, dimana akan ada suatu tempat semua guru yang boleh mengajar masuk dalam suatu data best dan bisa di akses oleh semua sekolah di Indonesia
Baca Juga: Polres Jakbar Musnahkan 272 Kilogram Sabu dan Ganja Hasil Tangkapan Tiga Bulan Terakhir
2. Pola Perekrutan oleh sekolah
Pola perekrutan yang tadinya dilakukan secara central lice (terpusat) diubah menjadi pola perekrutan langsung oleh sekolah. Jadi Sekolah bisa melakukanya kapanpun.
3. Penempatan pada formasi kurang minat.
Memastikan bahwa, kalaupun kita sudah membuat market place atau bisa dibilang pasar talenta, tiap sekolah tetap saja, pasti akan ada sekolah-sekolah yang ada kebutuhan guru, dan tidak ada guru-guru yang tidak ingin di posisikan di sekolah itu.
"Jadi solusi kita adalah, merubah sistem insentif, untuk memastikan yang tidak ada minat mengajar di sekolah segera terisi," pungkasnya. (*)