Anak Terpapar Asap Rokok, Otaknya Bisa Menciut

Ririn Indriani, Firsta Nodia

Jum'at, 20 Februari 2015 | 20:37 WIB
Anak Terpapar Asap Rokok, Otaknya Bisa Menciut
Ilustrasi anak terpapar asap rokok. (Shutterstock)

Suara.com - Belakangan, peneliti sering memperingatkan orangtua untuk tidak merokok di depan anak-anak mereka. Pasalnya perilaku tak sehat ini bisa menghambat pertumbuhan anak-anak.

Namun penelitian terbaru yang dilakukan oleh peneliti di Montreal Neurological Institute di McGill University dan University of Edinburgh mengungkapkan bahwa merokok tak hanya menghambat pertumbuhan anak-anak, tapi juga berdampak pada perkembangan otak mereka.  Studi ini menemukan bahwa anak yang terpapar asap rokok bisa mengakibatkan bagian otaknya menyusut.

Bagian ini merupakan lapisan korteks otak yang merupakan bagian terluar dan berhubungan dengan fungsi kognitif seperti penyimpanan memori, kemampuan bahasa, dan persepsi. Menariknya, penelitian ini juga menunjukkan bahwa berhenti merokok dapat membantu memulihkan kondisi lapisan korteks menjadi lebih baik.

Hasil penelitian ini didapat setelah melakukan penelitian terhadap 244 laki-laki dan 260 perempuan yang dibagi menjadi tiga kelompok, yakni perokok, mantan perokok, dan orang-orang yang tidak merokok. Rata-rata usia peserta adalah 73 tahun.

Semua responden juga diperiksa ketika mereka masih kanak-kanak yakni pada 1947. Selanjutnya para peneliti menggunakan data ini untuk dibandingkan dengan hasil MRI scan saat merek dewasa.

"Kami menemukan bahwa lapisan korteks antara mantan perokok dan perokok, pada usia 73 tahun, lebih tipis daripada orang yang tidak pernah merokok. Namun, mantan perokok memiliki korteks yang lebih baik dibandingkan dengan masih merokok, "kata pemimpin penelitian, Dr Sherif Karama dari McGill University.

Meski begitu, tidak semua mantan perokok memiliki lapisan korteks yang sehat dan pulih seperti sebelumnya. Orang yang merokok lebih dari 25 tahun masih memiliki lapisan korteks yang tipis dan lebih rapuh. Lapisan korteks dapat menipis secara alami akibat proses penuaan, tetapi pada perokok lapisan korteks menipis lebih cepat.

"Perokok harus tahu bahwa merokok akan membuat lapisan korteks otak mereka semakin menipis dan bisa memicu penurunan kemampuan kognitif dengan bertambahnya usia mereka," kata Dr. Karama.

Oleh karena itu, berhenti merokok mulai sekarang bisa berdampak baik bagi kesehatan Anda. Tidak hanya kesehatan paru-paru atau badan, tetapi juga kesehatan otak dan kemampuan kognitif. (MedicMagic)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Paparan Asap Rokok Picu Alergi Pada Janin

Paparan Asap Rokok Picu Alergi Pada Janin

Health | Rabu, 18 Februari 2015 | 13:51 WIB

Stop Merokok, Kunci Cegah Kanker Usus Besar

Stop Merokok, Kunci Cegah Kanker Usus Besar

Health | Jum'at, 13 Februari 2015 | 18:31 WIB

Heboh Foto Bayi Merokok, Ini Tanggapan Menteri Kesehatan

Heboh Foto Bayi Merokok, Ini Tanggapan Menteri Kesehatan

News | Kamis, 12 Februari 2015 | 19:03 WIB

KPAI: Pengunggah Foto Bayi Merokok Langgar UU Perlindungan Anak

KPAI: Pengunggah Foto Bayi Merokok Langgar UU Perlindungan Anak

News | Rabu, 11 Februari 2015 | 16:27 WIB

Terkini

Bukan Hanya Pangan dan Tempat Tinggal, Ini Kebutuhan Utama Warga Terdampak Gempa NTT

Bukan Hanya Pangan dan Tempat Tinggal, Ini Kebutuhan Utama Warga Terdampak Gempa NTT

News | Jum'at, 04 September 2026 | 00:32 WIB

Pertama Kali Donor Darah? Simak Panduan dan Persiapannya dari Aksi Indodana Finance-KSDD

Pertama Kali Donor Darah? Simak Panduan dan Persiapannya dari Aksi Indodana Finance-KSDD

Lifestyle | Jum'at, 04 September 2026 | 00:24 WIB

Karhutla Masuk Area Konsesi, Lebih dari 10 Perusahaan Perkebunan Sumsel Diminta Klarifikasi

Karhutla Masuk Area Konsesi, Lebih dari 10 Perusahaan Perkebunan Sumsel Diminta Klarifikasi

Sumsel | Kamis, 03 September 2026 | 23:14 WIB

FT Timnas Indonesia U-20 vs Laos: Zahaby Gholy Cetak Brace, Garuda Muda Puncak Klasemen

FT Timnas Indonesia U-20 vs Laos: Zahaby Gholy Cetak Brace, Garuda Muda Puncak Klasemen

Bola | Kamis, 03 September 2026 | 23:00 WIB

Donald Trump Bantah Rencana Ganti Nama Selat Hormuz dengan Namanya Sendiri

Donald Trump Bantah Rencana Ganti Nama Selat Hormuz dengan Namanya Sendiri

Video | Kamis, 03 September 2026 | 23:00 WIB

Kebakaran Renggut Nyawa 3 Pekerja, PT Evyap Beri Bantuan dan Evaluasi Operasional

Kebakaran Renggut Nyawa 3 Pekerja, PT Evyap Beri Bantuan dan Evaluasi Operasional

Sumut | Kamis, 03 September 2026 | 22:58 WIB

Karhutla Sumsel Terus Berulang, Ketimpangan Agraria Kembali Dipertanyakan

Karhutla Sumsel Terus Berulang, Ketimpangan Agraria Kembali Dipertanyakan

Sumsel | Kamis, 03 September 2026 | 22:52 WIB

Dari 566 Korban Keracunan Massal Sidoarjo, Tersisa 34 Santri Masih Dirawat di RS

Dari 566 Korban Keracunan Massal Sidoarjo, Tersisa 34 Santri Masih Dirawat di RS

Jatim | Kamis, 03 September 2026 | 22:49 WIB

Kali Bekasi Hitam Pekat dan Berbau

Kali Bekasi Hitam Pekat dan Berbau

Jabar | Kamis, 03 September 2026 | 22:42 WIB

Polisi Bongkar Jaringan Merkuri Ilegal 1 Ton Senilai Rp2,8 Miliar, Pasok Tambang Emas di 3 Wilayah

Polisi Bongkar Jaringan Merkuri Ilegal 1 Ton Senilai Rp2,8 Miliar, Pasok Tambang Emas di 3 Wilayah

Bogor | Kamis, 03 September 2026 | 22:38 WIB

×