Suara.com - Bencana banjir bandang yang terjadi di Garut akhir September lalu tak hanya menyisakan kesedihan karena anggota keluarga yang hilang atau rumah yang porak poranda. Lebih dari itu, korban bencana juga rentan mengalami gangguan kejiwaan jika tak ditangani dengan baik.
DR. dr. Nurmiati Amir, SpKJ (K) selaku Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian Psikiater mengungkapkan, bencana yang mengancam nyawa dapat memicu catastrophic stressor yang tergolong berat.
Fase akut, kata dia, biasanya terjadi pada 3 hari hingga 1 bulan setelah terjadinya trauma akibat bencana yang dihadapi. Bila tidak ditangani dengan baik, gangguan stres akut dapat berlanjut menjadi PTSD atau gangguan stres pascatrauma.
"Meski demikian belum tentu stressor dapat mengakibatkan stres pada semua individu, karena tergantung pada kepribadian, pengalaman serta kemampuan mereka menghadapi masalah (coping)," ujarnya pada peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Jakarta, Senin (10/10/2016).
Ia menambahkan, dalam otak manusia, terdapat bagian yang disebut Amigdala dan merupakan pusat rasa takut. Ketika terjadi bencana psikososial, Amigdala teraktivasi dan kemudian mengirim sinyal ke berbagai bagian otak lainnya.
"Amigdala tak ubahnya seperti 'stasiun pemancar' yang mengirim sinyal ke berbagai penjuru. Misalnya, Amigdala mengirim sinyal ke batang otak sehingga terjadi peningkatan denyut jantung (berdebar-debar) dan pembuluh darah perifer menciut sehingga orang menjadi pucat," jelas dia.
Amigdala, lanjutnya, juga mengirim sinyal ke pusat yang mengatur pernafasan, sehingga nafas orang yang mengalami trauma menjadi pendek atau cepat. Peristiwa rasa takut yang hebat akan disimpan ke bagian otak yang disebut Hipokampus dan dapat membuat korban merasa seperti kembali berada dalam peristiwa traumatik tersebut.
"Memori bencana traumatic disimpan lebih dalam dan lama atau sulit atau tidak mungkin hilang. Bencana traumatik dapat menghilangkan emosi positif, misalnya rasa gembira, bahagia, puas, tetapi meningkatkan emosi negatif, misalnya sedih, marah, cemas, kebencian, rasa bersalah dan rasa malu,” ungkapnya.
Untuk mengatasi reaksi stressor akut tersebut, masyarakat dihimbau untuk membawa seseorang yang terkena bencana psikososial ke tempat yang aman, menawarkan bantuan, dan membantu menghubungkan korban dengan layanan sosial atau rumah sakit. Di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN), Dr. Cipto Mangunkusumo tersedia layanan untuk membantu korban bencana psikososial.
"Berbagai pendekatan (komprehensif) tersedia di Klinik PSPT misalnya, intervensi krisis, psikoedukasi, psikoterapi dan psikofarmakologi dengan beragam profesi yang terlibat dalam pemberian pertolongan kepada korban trauma misalnya psikiater, psikolog, perawat, dan pekerja sosial/relawan," pungkas dia.