Korban Bencana Rentan Alami Gangguan Kejiwaan

Dythia Novianty, Firsta Nodia

Senin, 10 Oktober 2016 | 19:24 WIB
Korban Bencana Rentan Alami Gangguan Kejiwaan
Pencarian korban banjir terus dilakukan. [Antara]

Suara.com - Bencana banjir bandang yang terjadi di Garut akhir September lalu tak hanya menyisakan kesedihan karena anggota keluarga yang hilang atau rumah yang porak poranda. Lebih dari itu, korban bencana juga rentan mengalami gangguan kejiwaan jika tak ditangani dengan baik.

DR. dr. Nurmiati Amir, SpKJ (K) selaku Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian Psikiater mengungkapkan, bencana yang mengancam nyawa dapat memicu catastrophic stressor yang tergolong berat.

Fase akut, kata dia, biasanya terjadi pada 3 hari hingga 1 bulan setelah terjadinya trauma akibat bencana yang dihadapi. Bila tidak ditangani dengan baik, gangguan stres akut dapat berlanjut menjadi PTSD atau gangguan stres pascatrauma.

"Meski demikian belum tentu stressor dapat mengakibatkan stres pada semua individu, karena tergantung pada kepribadian, pengalaman serta kemampuan mereka menghadapi masalah (coping)," ujarnya pada peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Jakarta, Senin (10/10/2016).

Ia menambahkan, dalam otak manusia, terdapat bagian yang disebut Amigdala dan merupakan pusat rasa takut. Ketika terjadi bencana psikososial, Amigdala teraktivasi dan kemudian mengirim sinyal ke berbagai bagian otak lainnya.

"Amigdala tak ubahnya seperti 'stasiun pemancar' yang mengirim sinyal ke berbagai penjuru. Misalnya, Amigdala mengirim sinyal ke batang otak sehingga terjadi peningkatan denyut jantung (berdebar-debar) dan pembuluh darah perifer menciut sehingga orang menjadi pucat," jelas dia.

Amigdala, lanjutnya, juga mengirim sinyal ke pusat yang mengatur pernafasan, sehingga nafas orang yang mengalami trauma menjadi pendek atau cepat. Peristiwa rasa takut yang hebat akan disimpan ke bagian otak yang disebut Hipokampus dan dapat membuat korban merasa seperti kembali berada dalam peristiwa traumatik tersebut.

"Memori bencana traumatic disimpan lebih dalam dan lama atau sulit atau tidak mungkin hilang. Bencana traumatik dapat menghilangkan emosi positif, misalnya rasa gembira, bahagia, puas, tetapi meningkatkan emosi negatif, misalnya sedih, marah, cemas, kebencian, rasa bersalah dan rasa malu,” ungkapnya.

Untuk mengatasi reaksi stressor akut tersebut, masyarakat dihimbau untuk membawa seseorang yang terkena bencana psikososial ke tempat yang aman, menawarkan bantuan, dan membantu menghubungkan korban dengan layanan sosial atau rumah sakit. Di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN), Dr. Cipto Mangunkusumo tersedia layanan untuk membantu korban bencana psikososial.

"Berbagai pendekatan (komprehensif) tersedia di Klinik PSPT misalnya, intervensi krisis, psikoedukasi, psikoterapi dan psikofarmakologi dengan beragam profesi yang terlibat dalam pemberian pertolongan kepada korban trauma misalnya psikiater, psikolog, perawat, dan pekerja sosial/relawan," pungkas dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Presiden Jokowi: Tindak Tegas Pelaku Perusakan Lingkungan

Presiden Jokowi: Tindak Tegas Pelaku Perusakan Lingkungan

News | Jum'at, 30 September 2016 | 03:10 WIB

Terkini

Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining

Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining

Health | Jum'at, 29 Mei 2026 | 21:33 WIB

Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem

Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem

Health | Jum'at, 29 Mei 2026 | 11:18 WIB

Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 23:06 WIB

Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 17:41 WIB

Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak

Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 11:27 WIB

Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan

Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 09:44 WIB

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 11:09 WIB

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 09:22 WIB

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Health | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:23 WIB

Mengapa Lupus Lebih Banyak Menyerang Wanita?

Mengapa Lupus Lebih Banyak Menyerang Wanita?

Health | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:00 WIB