Pilih Pengobatan Alternatif, Kematian Menghantui Penderita Kanker

Chaerunnisa | Risna Halidi | Suara.com

Minggu, 20 Agustus 2017 | 10:34 WIB
Pilih Pengobatan Alternatif, Kematian Menghantui Penderita Kanker
Ilustrasi pengidap kanker jalani pengobatan alternatif (Shutterstock)

Suara.com - Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat diketahui, orang yang memilih pengobatan alternatif untuk mengobati kanker berisiko meninggal dunia lima kali lipat lebih tinggi di bandingkan mereka yang memilih perawatan medis.

"Risiko kematian lima tahun setelah diagnosis tertinggi adalah untuk penderita kanker payudara, dan usus besar," kata penulis utama penelitian, Skyler Johnson dari Yale School of Medicine di New Haven, Connecticut. Hal itu berarti sekitar 5,6 dan 4,6 kali kemungkinan meninggal dunia lebih tinggi.

Pasien kanker paru-paru yang menolak operasi, radiasi atau kemoterapi dan lebih memilih menggunakan herbal serta vitamin, homeopati, diet khusus atau terapi, memiliki dua kali lebih besar risiko meninggal pada periode yang sama atau sekitar lima tahun setelah diagnosis.

Sementara itu, dalam laporan yang dibeberkan dalam Journal of National Cancer Institute dikatakan, tingkat kelangsungan hidup selama lima tahun untuk penderita kanker prostat tetap tinggi, yaitu sekitar 90 persen bagi mereka yang melakukan pengobatan konvensional dan alternatif. Namun, angka ini belum tentu merupakan bukti bahwa terapi alternatif berdampak efektif.

"Kanker prostat biasanya tumbuh sangat lambat pada tahap awal, sehingga hanya sedikit orang yang meninggal," kata Johnson kepada AFP melalui email.

Ketakutan akan program kemoterapi yang menyakitkan serta dapat menyebabkan mual dan kelemahan parah membuat banyak pasien kanker lebih percaya pada berbagai perawatan alternatif.

Ini termasuk probiotik, vitamin dan mineral, serta berbagai metode pengobatan tradisional dari India dan Cina seperti pengobatan Ayurvedic, akupunktur, Homeopati dan naturopati, Manipulasi chiropractic atau osteopathic juga yoga, Tai Qi dan Qi Gong, yang semuanya melibatkan pengendalian napas.

Pendekatan mind-over-matter juga mencakup doa, meditasi, dan citra, di mana seseorang memvisualisasikan kanker untuk mengatasi penyakit mereka.

Periset yang dipimpin oleh Johnson mengidentifikasi 281 orang di Amerika Serikat dengan empat jenis kanker yang paling umum, yaitu payudara, prostat, paru-paru, dan usus besar. Mereka semua kerap beralih dari satu atau lebih perawatan yang belum terbukti khasiatnya.

Tim membandingkan hasil kesehatan mereka dengan 560 pasien kanker lainnya yang sebanding, juga mempertimbangkan ras dan faktor kesehatan yang berbeda. Rata-rata, kelompok pertama 2,5 kali lebih mungkin meninggal dalam lima tahun setelah diagnosis.

"Karena beberapa alasan, saya yakin ini mungkin meremehkan," jelas Johnson.

Untuk memulai penelitian, data hanya mencakup perawatan awal. Itu berarti, beberapa pasien yang pertama kali mencari pengobatan alternatif mungkin telah beralih ke pengobatan standar seiring perkembangan penyakit mereka, sehingga memperpanjang umur mereka.

Kemungkinan juga, tambahnya, bahwa kelompok obat non-konvensional adalah dalam masyarakat usia lebih muda dan memiliki pendapatan dan pendidikan yang lebih tinggi.

"Kami tidak tahu persis jumlah orang yang membuat keputusan untuk mencari pengobatan alternatif daripada pengobatan kanker konvensional," tandasnya.

Pasien enggan curhat pada dokter yang cenderung mengutuk pilihan mereka. Namun, dia mencatat, semua obat kanker ajaib yang ditawarkan mungkin merupakan bisnis yang besar dan bernilai miliaran dolar. (Zeenews)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Suka Makan Burger dan Pizza? Awas Diincar Kanker!

Suka Makan Burger dan Pizza? Awas Diincar Kanker!

Health | Sabtu, 19 Agustus 2017 | 11:50 WIB

Dosis Tinggi Vitamin C pada Jeruk Bisa Bunuh Sel kanker

Dosis Tinggi Vitamin C pada Jeruk Bisa Bunuh Sel kanker

Health | Jum'at, 18 Agustus 2017 | 09:19 WIB

Jadi Duta Kanker Serviks, Prilly Latuconsina Langsung Vaksin

Jadi Duta Kanker Serviks, Prilly Latuconsina Langsung Vaksin

Lifestyle | Senin, 14 Agustus 2017 | 17:51 WIB

Alami Perdarahan Saat Bercinta, Awas Kanker Serviks!

Alami Perdarahan Saat Bercinta, Awas Kanker Serviks!

Health | Jum'at, 11 Agustus 2017 | 20:54 WIB

Awas! Kanker Ini Incar Anda yang Sering Santap Makanan Panas

Awas! Kanker Ini Incar Anda yang Sering Santap Makanan Panas

Health | Kamis, 10 Agustus 2017 | 19:44 WIB

Ini Mengapa Kanker Kepala Leher Tak Sepopuler Kanker Lain

Ini Mengapa Kanker Kepala Leher Tak Sepopuler Kanker Lain

Health | Kamis, 10 Agustus 2017 | 16:12 WIB

Studi: Nanopartikel Emas Berguna Obati Kanker Paru

Studi: Nanopartikel Emas Berguna Obati Kanker Paru

Health | Selasa, 08 Agustus 2017 | 12:34 WIB

Waspada, Sakit Gusi Berisiko Idap Kanker Ini!

Waspada, Sakit Gusi Berisiko Idap Kanker Ini!

Health | Kamis, 03 Agustus 2017 | 16:00 WIB

Terkini

Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus

Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus

Health | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:52 WIB

Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar

Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar

Health | Kamis, 14 Mei 2026 | 12:59 WIB

Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?

Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?

Health | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:25 WIB

Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan

Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan

Health | Rabu, 13 Mei 2026 | 17:00 WIB

Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis

Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 22:34 WIB

Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat

Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 17:02 WIB

Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi

Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 16:59 WIB

Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang

Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:56 WIB

Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia

Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:05 WIB

Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?

Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 14:46 WIB