Suara.com - Kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri membuat masyarakat Indonesia khawatir.
Tak terkecuali masyarakat di Depok yang bertempat tinggal di sekitar Puskesmas di pinggiran Kota Depok. Kota Depok sendiri memiliki 12 suspect difteri, empat positif, dan satu korban meninggal dunia.
Menghadapi kasus ini, Puskesmas Kecamatan Cipayung, Depok misalnya, langsung melakukan sosialisasi pelaksanaan vaksin ke seluruh lapisan masyarakat.
"Di kecamatan Cipayung sendiri belum ada dan mudah-mudahan jangan sampai ada. Sosialisasi (vaksin) dilakukan oleh 120 kader Puskesmas di wilayah binaan kami," kata Kepala Puskesmas Kecamatan Cipayung, dr. Nur Afiyah kepada Suara.com, di Depok, Selasa, (12/12/2017).
Salah satu cara sosialisasi yang dilakukan adalah mendatangi sekolah dari tingkat SD hingga SMA. Sayangnya, dari 78 sekolah yang ada di kecamatan Cipayung, ada satu sekolah yang menolak program vaksin difteri.
"Ada satu sekolah menolak divaksin. Meski sebenarnya sekolah membebaskan orangtua memvaksin anaknya, tapi tidak memfasilitasi vaksin di sekolah," jelas Nur. Sayangnya ia tidak diberi alasan jelas mengapa sekolah tersebut menolak memfasilitasi program vaksin.
"Tapi Alhamdulillah anak-anak divaksin ke posyandu. Orangtua murid datang ke posyandu dan vaksin anaknya," terangnya.
Lebih lanjut Nur mengatakan bahwa KLB difteri di Kota Depok cukup membuat was-was masyarakat. Tak jarang ia mendapat permintaan atau pertanyaan tentang vaksin difteri dari orang dewasa saat berobat ke Puskesmas.
"Respon saat ini cukup baik. Mungkin karena KLB dan merasa khawatir. Bahkan masyarakat usia dewasa, remaja usia 19 tahun, bapak-bapak meminta mulai bisa divaksin," jelasnya merinci.
Untuk saat ini, kata Nur, fokus pemberian vaksin difteri diberikan kepada anak-anak hingga tingkat sekolah SMA.