Tentang Melanoma, Kanker Kulit Ganas yang Diderita Adara Taista

Ririn Indriani | Suara.com

Selasa, 22 Mei 2018 | 11:25 WIB
Tentang Melanoma, Kanker Kulit Ganas yang Diderita Adara Taista
Adara Taista (Instagram)

Suara.com - Adara Taista, menantu politikus sekaligus mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, yang meninggal dunia akibat melanoma, membuat masyarakat kembali diingatkan tentang bahaya kanker kulit ganas tersebut.

Melanoma itu sendiri dilansir dari Go Dok merupakan tumor kulit ganas yang terjadi akibat perkembangan abnormal dari sel melanosit (sel pigmen kulit).

Penyakit ini merupakan salah satu kanker kulit yang paling ganas dengan kejadian yang terus meningkat di seluruh dunia, terutama pada populasi berkulit terang.

Penyakit ini biasanya didiagnosis pada usia rata-rata 50 tahun, namun pada saat ini usia dewasa muda pun bisa menderita penyakit tersebut. Meskipun begitu, melanoma sangat jarang terjadi pada anak-anak.

Perlu diketahui, melanoma sering menyerupai tahi lalat bahkan beberapa kejadian melanoma berkembang dari tahi lalat. Mayoritas berwarna hitam atau coklat, tapi bisa juga berwarna merah muda, merah, ungu, biru atau putih.

Lantas, apa penyebab dari Melanoma? Hingga kini belum diketahui secara pasti apa Penyebabnya. Namun paparan radiasi ultraviolet (UV) dari sinar matahari dapat meningkatkan risiko berkembangnya penyakit ini.

Dengan membatasi paparan radiasi sinar ultraviolet dapat membantu mengurangi risiko Melanoma.

Faktor Risiko
Pertumbuhan kanker ini berkembang saat kerusakan DNA pada sel kulit tidak diperbaiki (paling sering disebabkan oleh radiasi ultraviolet dari sinar matahari) yang memicu mutasi (cacat genetik) sehingga menyebabkan sel kulit berkembang dengan cepat dan membentuk tumor ganas.

Tumor ini berasal dari melanosit yang memproduksi pigmen. Melanoma disebabkan terutama oleh paparan sinar UV yang terus-menerus, terutama pada mereka yang memiliki riwayat penyakit ini dalam keluarga.

Sedangkan beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kejadian melanoma, sebagai berikut:

1. Riwayat keluarga
Pada 5-10 persen pasien dengan penyakit ini ternyata memiliki riwayat keluarga pendeita melanoma, setidaknya satu orang saja yang mengalami melanoma di keluarga, memiliki risiko lebih tinggi 2,2 kali lipat.

2. Karakteristik pribadi
Faktor risiko menjadi lebih besar ketika seseorang memiliki mata biru, rambut cerah dan atau merah, kulit terang, reaksi kulit berlebihan terhadap sinar matahari (mudah terbakar matahari), bintik-bintik di wajah, memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah (pasien setelah transplantasi, memiliki penyakit keganasan).

3. Terkena paparan sinar matahari terus menerus
4. Memiliki beberapa tahi lalat besar atau banyak.
5. Memiliki riwayat keluarga tahi lalat yang tidak biasa (sindrom nevus atipikal).

Gejala
Melanoma dapat berkembang di bagian tubuh manapun, namun paling sering muncul pada area tubuh yang sering terpapar sinar matahari, seperti punggung, kaki, lengan dan wajah.
Melanoma juga bisa terjadi di daerah yang tidak banyak terpapar sinar matahari, seperti telapak kaki, telapak tangan dan kuku. Hal ini biasanya disebut melanoma tersembunyi dan ini lebih sering terjadi pada orang dengan kulit lebih gelap.

Tanda dan gejalanya yang pertama adalah terjadi perubahan pada tahi lalat yang ada. Namun, tidak selalu dimulai sebagai tahi lalat, tetapi bisa juga muncul pada kulit normal.

Pasien biasanya memiliki tahi lalat yang telah berubah dalam ukuran, warna, kontur, atau konfigurasi. “ABCDE” adalah cara yang mudah untuk mengingat gejala tahi lalat yang menunjukkan ke arah keganasan. ABCDE singkatan dari:

A: Assimetry (tidak simetris). Bentuk tahi lalat yang tidak beraturan, seperti dua bagian yang tampak sangat berbeda.

B: Border (tepi). Batas tahi lalat yang tidak teratur, berlekuk atau bergerigi merupakan ciri khas melanoma.

C: Color (warna). Tahi lalat berubah warna, memiliki banyak warna, atau distribusi warna yang tidak merata.

D: Diameter. Waspadai pertum uhan tahi lalat baru yang ukurannya lebih dari 6 milimeter (0.6 cm).

E: Evolving (mengembang). Pertumbuhan tahi lalat atau perubahan tahi lalat dari segi ukuran, warna, dan bentuk patut dicurigai. Bisa juga muncul gejala seperti gatal atau berdarah.

Diagnosis
Pemeriksaan pada kulit digunakan untuk mendeteksi dan mendiagnosa penyakit ini. Jika ditemukan tahi lalat, perubahan pada pigmen kulit atau kulit terlihat abnormal, tes dan prosedur berikut dapat membantu mendiagnosanya:

1. Pemeriksaan kulit oleh dokter. Dokter akan memeriksa tahi lalat, tanda lahir, atau daerah berpigmen lainnya yang terlihat abnormal dari segi warna, ukuran, bentuk, atau tekstur.

2. Biopsi: Prosedur untuk menghilangkan jaringan abnormal dan sejumlah kecil jaringan normal di sekitarnya. Jaringan ini nantinya akan diteliti lebih lanjut -oleh seorang ahli patologi di bawah mikroskop untuk memeriksa ada atau tidaknya sel kanker.

Jika diagnosis melanoma sudah tegak, langkah selanjutnya adalah menentukan tingkat (stadium) kanker. Untuk menetapkan stadium, maka akan dilakukan :

1. Mengukur ketebalan. Ketebalan melanoma ditentukan dengan memeriksa melanoma di bawah mikroskop dan mengukurnya dengan alat khusus (mikrometer). Ketebalannya membantu dokter menentukan rencana perawatan. Secara umum, semakin tebal tumornya, semakin parah penyakitnya.

2. Untuk mengetahui apakah melanoma telah menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya, dokter bedah akan merekomendasikan prosedur yang dikenal sebagai biopsi nodus sentinel.

Penanganan
Penanganan terhadap melanoma dibagi menjadi 2, yaitu:

Penanganan tahap awal

1. Pengobatan untuk tahap awal biasanya mencakup pembedahan untuk menghilangkannya. Melanoma yang sangat tipis dapat diangkat seluruhnya selama biopsi dan tidak memerlukan pengobatan lebih lanjut. Untuk penderita tahap awal, ini mungkin satu-satunya perawatan yang dibutuhkan.
2. Mengobati melanoma yang telah menyebar di luar kulit.

Jika telah menyebar di luar kulit, pilihan pengobatan mungkin termasuk:

1. Pembedahan untuk mengangkat kelenjar getah bening yang terlibat.
2. Obat-obatan kemoterapi dapat berupa suntukan dan atau pil.
3. Perawatan ini menggunakan balok energi bertenaga tinggi, seperti sinar-X, untuk membunuh sel kanker.
4. Terapi biologis. Terapi biologis meningkatkan sistem kekebalan tubuh Anda untuk membantu tubuh Anda melawan kanker.
5. Targeted therapy. Terapi yang ditargetkan menggunakan obat yang dirancang untuk menargetkan kerentanan spesifik pada sel kanker.

Komplikasi
Melanoma adalah kanker kulit yang sangat berbahaya jika tidak diobati karena bisa menyebar ke bagian tubuh yang lain dan bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Rencana terapi dan respons terhadap pada setiap orang akan berbeda, tergantung pada lokasi, stadium, dan jenis melanoma yang telah terdiagnosis. Beberapa masalah yang mungkin dihadapi pasca perawatan meliputi:

1. Timbulnya jaringan parut
2. Lymphoedema
3. Gangguan emosional dan psikologis seperti depresi dan kecemasan
4. Efek samping pengobatan jangka panjang.

Jika pernah mengalami melanoma sebelumnya terjadinya kekambuhan lebih besar. Namun, kemungkinan kekambuhannya lebih tinggi jika melanoma sebelumnya tersebar luas dan parah.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Tujuh Fakta Tentang Adara Taista yang Perlu Diketahui

Tujuh Fakta Tentang Adara Taista yang Perlu Diketahui

Lifestyle | Senin, 21 Mei 2018 | 14:39 WIB

Sebelum Meninggal Adara Taista Sempat Sahur dan Salat Subuh

Sebelum Meninggal Adara Taista Sempat Sahur dan Salat Subuh

News | Senin, 21 Mei 2018 | 14:36 WIB

Kenangan Velove Vexia dengan Almarhumah Adara Taista

Kenangan Velove Vexia dengan Almarhumah Adara Taista

Entertainment | Senin, 21 Mei 2018 | 13:58 WIB

Terkini

Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa

Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa

Health | Selasa, 14 April 2026 | 09:26 WIB

Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif

Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif

Health | Selasa, 14 April 2026 | 08:37 WIB

Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak

Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak

Health | Senin, 13 April 2026 | 06:15 WIB

Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat

Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat

Health | Minggu, 12 April 2026 | 22:48 WIB

Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan

Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan

Health | Jum'at, 10 April 2026 | 20:29 WIB

Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan

Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan

Health | Jum'at, 10 April 2026 | 14:00 WIB

96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan

96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan

Health | Kamis, 09 April 2026 | 19:16 WIB

Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak

Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak

Health | Kamis, 09 April 2026 | 15:15 WIB

Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan

Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan

Health | Kamis, 09 April 2026 | 15:13 WIB

Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari

Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari

Health | Rabu, 08 April 2026 | 19:55 WIB