Sindrom Langka Membuat Rambut Ini Tidak Bisa Disisir

Vania Rossa | Dinda Rachmawati | Suara.com

Jum'at, 25 Mei 2018 | 14:03 WIB
Sindrom Langka Membuat Rambut Ini Tidak Bisa Disisir
Ilustrasi rambut susah disisir. (Shutterstock)

Suara.com - Pili trianguli et canaliculi, sebuah istilah medis yang mungkin jarang terdengar oleh kita. Ini merupakan sebuah sindrom langka yang menyebabkan penderitanya memiliki rambut kaku, jabrik berwarna putih yang tidak bisa disisir.

Saat ini, ada sekitar 100 kasus dari seluruh dunia yang dilaporkan mengalami kondisi yang juga dijuluki sebagai "Uncombable Hair Syndrome". Salah satunya adalah Taylor McGowan, bocah dari Chicago, Illinois, Amerika Serikat.

Anak Penderita Sindrom Langka Uncombable Hair Syndrome. (SWNS)

Kondisi ini mulai terlihat pada Taylor saat dirinya berusia lima bulan. Pelan-pelan, rambutnya mulai tumbuh pirang. Seiring berjalannya waktu, warna pirangnya semakin memudar. Rambutnya juga tumbuh mencuat keluar, tidak bisa disisir, dan tidak bisa diatur oleh produk apa pun.

Akhirnya, orang tua Taylor, Cara dan Tom, menyadari bahwa anak perempuan mereka mungkin memiliki sindrom langka, setelah menemukan gambar orang lain di internet dengan gaya rambut yang sama.

Cara dan Tom kemudian mencari seseorang yang ahli mengenai sindrom langka yang diderita anak mereka, dan bertemu dengan Profesor Regina Betz dari Universitas Bonn di Jerman.

Profesor Betz saat ini adalah tokoh utama dalam penelitian Pili trianguli et canaliculi. Timnya di Institute of Human Genetics menyatakan bahwa kondisi ini disebabkan oleh mutasi pada satu dari tiga gen, yakni PADI3, TGM3 dan TCHH.

Setelah melakukan pengujian genetik pada orangtua Taylor, ditemukan bahwa mereka berdua membawa mutasi gen PADI3 yang kemudian diturunkan ke putri kecil mereka.

Cara dan Tom yang awalnya mencoba 'menjinakkan' rambut Taylor, akhirnya menyerah dan memutuskan untuk membuang semua produk, serta memilih untuk membiarkan rambut putri mereka tumbuh secara alami.

"Total, kami telah mencoba sekitar 15 produk," kata Cara.

“Dia tidak benar-benar nyaman saat rambutnya diikat atau dikepang, sehingga kami memilih untuk membiarkannya bebas," ujarnya lagi.

Bahkan, Cara berkata bahwa ia pernah mendandani Taylor menjadi Albert Einstein untuk acara Halloween dengan maksud agar putrinya menerima kondisi rambutnya yang unik.

Meski banyak orang memuji rambut yang dimiliki Taylor, ia juga pernah menerima beberapa komentar yang tidak ramah.

"Banyak orang bertanya apakah putri kami telah memasukkan jari-jarinya ke dalam colokan listrik, atau apakah kami telah melakukan sesuatu dengan rambutnya," kata Cara.

"Saya tegas menjawab 'Tidak, dia dilahirkan seperti itu'," katas Cara.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Sindrom Unik Ini Bikin Rambut Jabrik Mirip Einstein

Sindrom Unik Ini Bikin Rambut Jabrik Mirip Einstein

Tekno | Rabu, 09 Mei 2018 | 13:00 WIB

Beda Rambut, Beda Pula Jenis Sisirnya

Beda Rambut, Beda Pula Jenis Sisirnya

Lifestyle | Minggu, 01 April 2018 | 17:45 WIB

Ini Cara Merawat Rambut Saat Musim Kemarau

Ini Cara Merawat Rambut Saat Musim Kemarau

Health | Selasa, 20 Maret 2018 | 14:30 WIB

Terkini

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Health | Jum'at, 03 April 2026 | 09:53 WIB

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB