Takut Sanksi, Eko Yuli Irawan Tak Mau Sembarangan Konsumsi Obat

RR Ukirsari Manggalani | Risna Halidi
Takut Sanksi, Eko Yuli Irawan Tak Mau Sembarangan Konsumsi Obat
Eko Yuli Irawan, atlet angkat besi Nasional [Suara.com/Risna Halidi].

Pentingnya mengonsumsi obat bebas doping bagi atlet. Pertahankan prestasi mesti murni.

Suara.com - Atlet angkat besi Nasional, Eko Yuli Irawan mengaku siap hampir 100 persen dalam menghadapi ajang Asian Games 2018, di Jakarta dan Palembang,  yang dihelat pada pertengahan Agustus nanti.

Selain persiapan fisik dan mental, Eko mengaku selalu selektif menggunakan obat-obatan ketika sakit agar tidak terpapar zat-zat mengandungdoping.

Hal itu ia ungkapkan setelah menerima suntikvaksin influenzayang dilaksanakan oleh Kemenpora dan perusahaan pembuat vaksin, Sanofi Pasteur Indonesia.

"Dari awal kami selalu konsumsi obat sesuai aturan pelatih. Pelatih sudah koordinasi dengan dokter: apa saja obat yang boleh dikonsumsi atau yang tidak," kata Eko kepada Suara.com di Jakarta, Senin, (16/07/2018).

Misalnya, kata Eko, saat sakit ia dan para atlet lain mesti mencari obat alternatif yang tidak mengandung doping sepertierythropoietin atau steroid.

"Kami mesti pakai obat alternatif lain, meski lebih lama bekerja tetapi akan lebih bersih," tambahnya. Lebih bersih dalam artian dari doping.

Kata doping sendiri merujuk kepada penggunaan obat yang mampu meningkatkan performa atlet saat bertanding. Doping dilarang keras oleh seluruh organisasi olahraga di  dunia dan dianggap sebagai kecurangan fatal.

Eko menambahkan, Minggu, (15/07/2018), kediaman pribadinya didatangi oleh World Anti-Doping Agency atau WADA.

"Mereka datang langsung ke rumah saya di Bekasi.  Diminta tes urine dan hasilnya akan keluar sekitar satu minggu lagi. Karena tidak macam-macam (seperti memakai doping),  saya tenang-tenang saja," paparnya.

Atlet peraih medali perak dalam ajang Olimpiade Rio di Brasil 2016 mengatakan tak mau main-main dalam mengonsumsi obat. Apalagi, sanksi yang diberikan tidak main-main bagi atlet yang didapati mengonsumsi doping.

"Bila ketahuan memakai doping, bakal dihukum tidak boleh bertanding empat tahun. Sementara bila dua kali berturut-turut kedapatan mengonsumsi doping, maka seumur hidup tidak boleh ikut bertanding lagi," jelas Eko.

Begitulah seharusnya, nilai sportivitas mesti dijunjung tinggi para atlet dalam upaya meraih prestasi. Jangan lupakan pula dampak negatif dari doping yang dikonsumsi.

Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS