Korban Gempa Palu Lakukan Penjarahan, Tanda Trauma Psikologis?

Selasa, 02 Oktober 2018 | 14:26 WIB
Korban Gempa Palu Lakukan Penjarahan, Tanda Trauma Psikologis?
Warga membawa sejumlah barang dari gudang Alfa Midi di Mamboro, Palu Utara, Sulawesi Tengah, Senin (1/10). [ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja]

Suara.com - Penjarahan yang dilakukan korban gempa Palu dan tsunami Donggala disebut terjadi karena cemas dan paranoid akibat trauma psikologis, apa kata dokter jiwa?

Bencana tsunami dan gempa Palu - Donggala di Sulawesi Barat pekan lalu tak hanya menimbulkan banyak korban jiwa dan kerusakan pada infrastruktur. Ada laporan bahwa toko dan minimarket di daerah terdampak gempa dijarah oleh sekelompok oknum tak bertanggung jawab.

Tak hanya bahan makanan yang dijarah, oknum tersebut juga mengambil bahan bakar hingga barang-barang elektronik. Muncul anggapan, penajarahan tersebut terjadi akibat trauma psikologis.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Pusat, dr. Eka Viora Sp.KJ mengatakan bahwa dalam situasi darurat, kepanikan dan kemarahan yang dialami para korban gempa bukanlah tanda trauma psikologis, ataupun gangguan jiwa.

"Jadi jangan dibilang orang di sana sakit jiwa semua atau depresi atau gangguan stres pasca trauma. Ini adalah sebuah reaksi normal pada situasi abnormal. Tingkatnya berbeda-beda dan pemulihannya berbeda-beda tergantung dukungan psikososial yang kita berikan," ujar dr Eka dalam peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Kantor Kementerian Kesehatan, Selasa (2/10/2018).

Eka menambahkan, ketika seseorang kehilangan anggota keluarga dan kebutuhan dasar mereka tidak terpenuhi akibat terjadi bencana, wajar jika reaksi yang ditimbulkan mereka berupa kemarahan. Namun Ia tidak bisa menyebut para korban gempa mengalami gangguan kesehatan jiwa.

Perlu pemantauan hingga enam bulan untuk bisa mendiagnosis korban gempa Palu mengalami depresi atau mengalami gangguan stres pasca trauma.

"Yang diperlukan pada situasi ini dukungan sosial dan psikososial. Jadi bagaimana mereka kita dengarkan. Ada yang menangis, meraung kita dengarkan. Kalau kita intervensi dengan baik maka kesehatan jiwa mereka bisa terus membaik," tambah dia.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Ikatan Psikolog Klinis Indonesia, Dr. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si mengatakan bahwa tentu saja selain dukungan psikologis, para korban gempa Palu juga membutuhkan penanganan medis dan pemenuhan kebutuhan dasar. Itu sebabnya dibutuhkan kerjasama lintas sektor sehingga dapat meminimalisir terjadinya trauma psikologis setelah terjadinya bencana.

Baca Juga: Rachel Maryam: Ratna Sarumpaet Trauma dan Ketakutan

"Saat situasi darurat tampaknya bantuan medis dan pemenuhan kebutuhan dasar salah satu utama yang dibutuhkan korban. Barulah pemberian psychological first aid dan stabilisasi emosi diperlukan untuk membuat emosi dan perilaku mereka kembali normal," tandas Gamayanti.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Ekstrovert, Introvert, Ambivert, atau Otrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI