Agar Tak Jadi Obesitas Seperti Titi Wati, Ini Imbauan Kemenkes

Vania Rossa | Firsta Nodia
Titi Wati (37) wanita tergemuk di Kalteng bersama Herlina (19) anak kandungnya saat beraktivitas sehari-hari di kediamannya di Jalan G Obos XXV atau Jalan Bima Kelurahan Menteng, Kota Palangka Raya, Minggu (6/1/19). [Antara Kalteng/Adi Wibowo]
Titi Wati (37) wanita tergemuk di Kalteng bersama Herlina (19) anak kandungnya saat beraktivitas sehari-hari di kediamannya di Jalan G Obos XXV atau Jalan Bima Kelurahan Menteng, Kota Palangka Raya, Minggu (6/1/19). [Antara Kalteng/Adi Wibowo]

Titi Wati menjadi sorotan karena kondisi obesitas yang dialaminya.

Suara.com - Titi Wati, perempuan asal Palangkaraya, baru-baru ini menjadi sorotan usai dievakuasi ke rumah sakit karena kondisi obesitas yang dialaminya. Perempuan berusia 37 tahun ini memiliki berat badan 350 kilogram yang membuatnya sulit untuk bergerak. Bahkan untuk mengeluarkannya dari rumah, tim harus menjebol dindingnya.

Titi Wati adalah satu dari sekian banyak kasus obesitas yang terjadi di Indonesia. Jika Anda masih ingat dengan Arya Permana, bocah asal Karawang yang juga obesitas dengan berat 192 kg, kini bobotnya telah turun hingga 90 kg.

Disampaikan Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan, dr Kirana Pritasari, MQIH, kasus-kasus obesitas terkait dengan perilaku makan dan aktivitas yang dijalani seseorang. Ketika asupan makanan yang masuk lebih besar dibandingkan aktivitas yang dijalani, maka hal inilah yang menyebabkan obesitas.

"Untuk kasus obesitas yang luar biasa, intervensinya juga luar biasa. Kita sudah tidak bisa memberi nasihat diet lagi," ujar dr Kirana dalam peringatan Hari Gizi Nasional, Jumat (18/1/2019).

Kirana menambahkan, obesitas memang tidak menyebabkan kematian, namun komplikasi akibat penyakit menular yang dialami orang dengan obesitas dapat memicunya. Itu sebabnya, Kementerian Kesehatan tak pernah lelah mengedukasi masyarakat untuk hidup aktif dan rutin melakukan pemantauan kesehatan.

"Timbangan kan ada dimana mana. Bisa hitung Indeks Massa Tubuh kita, kalau di atas 27, itu obesitas. Jadi kalau sudah di atas 27, harus hati-hati. Hitung kalori yang keluar berapa sehari, usahakan asupannya jangan lebih dari itu," imbuh dia.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat membatasi asupan makanan manis seperti nasi putih, cokelat, dan gula karena akan diubah menjadi lemak. Biasakan konsumsi makanan keluarga karena lebih mudah mengontrol jumlah gula, garam, dan lemak.

"Kebiasaan makan di luar sebenarnya membuat kita tidak bisa mengontrol makanan kita. Kalau masakan keluarga, kita bisa mengontrol gula, garam, dan lemaknya berapa sehingga tidak berlebihan," tambah dia.

Dalam kesempatan yang sama, dr. Cut Putri Arianie MH.Kes, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, mengatakan bahwa prevalensi obesitas tertinggi di Indonesia berdasarkan Riskesdas 2018 antara lain Sulawesi Utara, DKI Jakarta, dan Kalimantan Utara. Sementara untuk prevalensi terendahnya adalah NTT.

"Kalau bingung hitung massa tubuh, bisa lihat dari lingkar perut, tidak boleh lebih dari 80 cm untuk perempuan, lelaki tidak boleh lebih dari 90 cm. Usahakan bergerak minimal 10 ribu langkah kaki," tandas dia.

Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS