Washington Darurat Wabah Campak, Ini Penyebabnya!

Silfa Humairah Utami, Dinda Rachmawati

Kamis, 31 Januari 2019 | 13:00 WIB
Washington Darurat Wabah Campak, Ini Penyebabnya!
Ilustrasi darurat wabah campak karena meningkatnya anti vaksin. (Shutterstock)

Suara.com - Wabah campak yang berkembang di negara bagian Washington, Amerika Serikat (AS) membuat pemerintah setempat mengeluarkan peringatan keadaan darurat pada hari Jumat lalu.

Saat ini, 35 kasus telah dikonfirmasi di Clark County, sebuah county barat daya yang mencakup Vancouver, dan 11 kasus potensial yang sedang menunggu konfirmasi. Ada juga satu kasus yang dikonfirmasi di King County, termasuk Seattle.

Peringatan keadaan darurat dilakukan, mengingat campak adalah penyakit yang sangat menular. Virus ini dapat hidup hingga dua jam di mana pun dari orang yang terinfeksi saat batuk atau bersin.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, 90 persen orang yang tidak divaksinasi campak, menularkan penyakit ini, sehingga orang lainnya juga akan terinfeksi.

Hal ini memang sangat disayangkan, karena wabah campak di AS sempat menghilang dalam jangka waktu yang cukup lama. Tetapi wabah kembali ketika gerakan anti-vaksin meningkat. Sebanyak 18 negara bagian saat ini mengizinkan pengecualian vaksinasi "filosofis" non-medis.

Sebagian besar kasus memang terjadi pada anak-anak. Dan sebagian besar anak-anak itu tidak diimunisasi. Sebanyak 25 dari 35 orang di Kabupaten Clark yang terkena campak adalah anak-anak berusia antara 1 dan 10 tahun, sedangkan sembilan lainnya berusia antara 11 dan 18 tahun. Sejauh ini, hanya satu orang dewasa di daerah tersebut yang terserang penyakit tersebut dilansir dari Huffpost.

Mengejutkan, 31 dari 35 orang yang terkena tidak divaksinasi. Status vaksinasi untuk empat orang sisanya belum jelas sampai saat ini.

Yang jelas bagi para ahli adalah, pilihan orang tua untuk tidak memvaksinasi anak-anak mereka, membuat orang lain berada dalam risiko dan memungkinkan campak terus menyebar.

Pakar kesehatan masyarakat merekomendasikan anak-anak mendapatkan dua dosis vaksin MMR, yang pertama ketika mereka berusia 12 bulan, dan yang kedua antara usia 4 dan 6 tahun.

baca juga

Wabah campak di Washington adalah contoh dari apa yang bisa terjadi ketika orang tua tidak memvaksinasi anak-anak mereka karena alasan filosofis atau keagamaan. Dan bagaimana hal itu ternyata dapat menempatkan anak-anak mereka sendiri dan orang lain dalam risiko.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Australia Waspadai Penularan Campak dari Luar Negeri

Australia Waspadai Penularan Campak dari Luar Negeri

Health | Selasa, 22 Januari 2019 | 08:05 WIB

Musim Hujan, Malaysia Waspadai Wabah Chikungunya dari Thailand

Musim Hujan, Malaysia Waspadai Wabah Chikungunya dari Thailand

Health | Kamis, 17 Januari 2019 | 16:33 WIB

Kemenkes: Imunisasi Campak Rubella Masuk Imunisasi Rutin Lengkap

Kemenkes: Imunisasi Campak Rubella Masuk Imunisasi Rutin Lengkap

Health | Selasa, 08 Januari 2019 | 17:00 WIB

Dua Tahun Berjalan, Cakupan Imunisasi MR di Indonesia 87,33 Persen

Dua Tahun Berjalan, Cakupan Imunisasi MR di Indonesia 87,33 Persen

Health | Selasa, 08 Januari 2019 | 16:20 WIB

Terkini

43 Ribu Anak Jadi Korban, Amnesty Internasional Desak Polisi Usut Pidana Keracunan MBG

43 Ribu Anak Jadi Korban, Amnesty Internasional Desak Polisi Usut Pidana Keracunan MBG

News | Selasa, 08 September 2026 | 22:15 WIB

Seberapa Berbahaya Abu Vulkanik bagi Tubuh?

Seberapa Berbahaya Abu Vulkanik bagi Tubuh?

Video | Selasa, 08 September 2026 | 22:05 WIB

Lamine Yamal Jadi Favorit, 10 Pemain Berebut Gelar Pemain Muda Terbaik Ballon dOr 2026

Lamine Yamal Jadi Favorit, 10 Pemain Berebut Gelar Pemain Muda Terbaik Ballon dOr 2026

Bola | Selasa, 08 September 2026 | 22:05 WIB

24 Jam Hilang di Selat Sunda, 8 Penumpang Kapal Termasuk Lima Jurnalis Belum Ditemukan

24 Jam Hilang di Selat Sunda, 8 Penumpang Kapal Termasuk Lima Jurnalis Belum Ditemukan

News | Selasa, 08 September 2026 | 21:55 WIB

Akbar Firmansyah Antusias Kembali Bermain di Stadion Gelora 10 November

Akbar Firmansyah Antusias Kembali Bermain di Stadion Gelora 10 November

Jawa Tengah | Selasa, 08 September 2026 | 21:41 WIB

Modus TPPO Makin Canggih, Pemerintah Dorong Deteksi Korban Sejak Perekrutan

Modus TPPO Makin Canggih, Pemerintah Dorong Deteksi Korban Sejak Perekrutan

News | Selasa, 08 September 2026 | 21:41 WIB

Berawal dari Toko Sembako, Polresta Sidoarjo Bongkar Jaringan Uang Palsu Lintas Provinsi

Berawal dari Toko Sembako, Polresta Sidoarjo Bongkar Jaringan Uang Palsu Lintas Provinsi

Jatim | Selasa, 08 September 2026 | 21:38 WIB

Kronologi 5 Jurnalis Foto Hilang Kontak di Perairan Gunung Anak Krakatau, Basarnas Sisir Selat Sunda

Kronologi 5 Jurnalis Foto Hilang Kontak di Perairan Gunung Anak Krakatau, Basarnas Sisir Selat Sunda

News | Selasa, 08 September 2026 | 21:35 WIB

Peredaran Rokok Ilegal Diburu, Puluhan Ribu Batang Diamankan di Lamongan

Peredaran Rokok Ilegal Diburu, Puluhan Ribu Batang Diamankan di Lamongan

Jatim | Selasa, 08 September 2026 | 21:34 WIB

Ancaman Abu Vulkanik Belum Surut, Siswa SMA di Banten Lanjut Belajar dari Rumah Hingga 11 September

Ancaman Abu Vulkanik Belum Surut, Siswa SMA di Banten Lanjut Belajar dari Rumah Hingga 11 September

Banten | Selasa, 08 September 2026 | 21:32 WIB

×