Rumah Berantakan Ternyata Berefek Buruk Pada Kesehatan

Vania Rossa | Dinda Rachmawati
Rumah Berantakan Ternyata Berefek Buruk Pada Kesehatan
Ilustrasi kondisi kamar yang berantakan. (Shutterstock)

Yuk, beres-beres rumah.

Suara.com - Rumah, kamar tidur, atau meja kerja yang berantakan memang tidak enak dilihat. Namun, tahukah Anda, selain masalah kenyamanan mata, ternyata lingkungan sekitar yang berantakan juga bisa memengaruhi tingkat kecemasan, tidur, dan kemampuan kita untuk fokus. Intinya, rumah berantakan berefek buruk untuk kesehatan.

Hal inilah yang diungkap oleh para peneliti neuroscience yang melakukan studinya menggunakan fMRI (fungsional magnetic resonance imaging) di 2011 silam.

Menurut mereka, setelah melakukan pengukuran fisiologis, terdapat hubungan antara ruangan yang berantakan dengan kurangnya kemampuan seseorang untuk fokus dan memproses informasi, serta penurunan produktivitas. Kekacauan bisa membuat kita merasa stres, cemas, dan tertekan.

Dilansir dari Men's Health, meski penuhnya lemari atau tumpukan kertas di sekitar rumah mungkin tampak tidak berbahaya, tetapi penelitian ini menunjukkan disorganisasi dan kekacauan memiliki efek kumulatif pada otak kita.

Otak kita menyukai keteraturan, dan otak akan terus mengingat tentang ketidakteraturan yang pada akhirnya menguras sumber daya kognitif, mengurangi kemampuan kita untuk fokus. Gangguan visual tentang lingkungan yang berantakan ini pada akhirnya dapat mengurangi memori kerja kita.

Selain itu, penelitian dari Amerika Serikat (AS) pada 2009 juga menemukan bahwa kadar hormon stres kortisol lebih tinggi pada ibu yang rumahnya berantakan.

Ruangan yang berantakan secara kronis dapat membebani seseorang untuk bertahan hidup. Respons ini dapat memicu perubahan fisik dan psikologis yang memengaruhi cara kita memerangi serangga dan mencerna makanan, serta membuat kita berisiko lebih besar terkena diabetes tipe 2 dan penyakit jantung. Ruangan yang berantakan mungkin juga memiliki implikasi pada hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita.

Bahkan, sebuah studi di AS pada 2016, juga menemukan ruangan yang berantakan mengakibatkan partisipan kurang mampu menafsirkan dengan benar ekspresi emosi pada wajah karakter dalam sebuah film.

Dan yang mengejutkan, efek tersebut tidak hilang ketika kita akhirnya tidur. Orang-orang yang tidur di kamar yang berantakan lebih cenderung memiliki masalah tidur, termasuk kesulitan tidur dan terganggu pada malam hari.

Berbagai penelitian juga menemukan hubungan antara ruangan yang berantakan dengan pilihan makanan yang buruk. Ruangan yang berantakan dan kacau membuat peserta dalam satu penelitian makan lebih banyak makanan ringan, makan dua kali lebih banyak kue daripada peserta yang memiliki dapur yang rapi.

Penelitian lain menunjukkan bahwa berada di ruangan yang berantakan akan membuat Anda dua kali lebih mungkin makan cokelat daripada apel. Akhirnya, orang-orang dengan rumah yang berantakan 77 persen lebih cenderung mengalami kelebihan berat badan.

Rumah rapi telah diketahui sebagai prediktor kesehatan fisik. Peserta yang rumahnya lebih rapi dan bersih, menurut penelitian lain, memiliki kesehatan fisik yang lebih baik.

Tapi sepertinya berantakan tidak selalu buruk. Satu penelitian menunjukkan meja yang berantakan bisa membuat kita lebih kreatif. Temuan ini juga mengatakan lingkungan yang rapi dan tertata membuat kita lebih mungkin untuk menyesuaikan diri dengan harapan dan bermain aman, sementara lingkungan yang berantakan menggerakkan kita untuk melepaskan diri dari norma dan melihat berbagai hal dengan cara yang baru. Jadi, Anda pilih rumah yang rapi atau berantakan?

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS