4 Dampak Psikologis Orang yang Kecanduan Olahraga

Ade Indra Kusuma
4 Dampak Psikologis Orang yang Kecanduan Olahraga
Ilustrasi kecanduan olahraga ternyata punya dampak psikologis yang buruk. [shutterstock]

Bukan profesional, tapi kecanduan olahraga, boleh nggak sih?

Suara.com - 4 Dampak Psikologis Orang yang Kecanduan Olahraga.

Pernahkah menyadari bahwa diri Anda adalah seorang yang kecanduan olahraga? Olahraga tentu menjadi kegiatan yang menyehatkan. Komitmen untuk menjalani olahraga tentu sangat penting baik itu dalam menjalani pola hidup sehat.

Setelah sesi lari maraton, atau naik sepeda gunung, Anda mendapatkan endorfin kimia yang membanjiri tubuh — dan hal-hal ini mudah untuk membuat Anda ketagihan. Tetapi ketika komitmen Anda untuk menjadi lebih cepat, lebih kuat, dan lebih jauh lagi, Anda bisa saja melewati batas antara komitmen olahraga atau Anda sudah kecanduan.

“Kecanduan olahraga melibatkan aktivitas, berlari, melatih triathlon, yang awalnya dimulai dengan kesenangan, kemudian bergeser menjadi kompulsif dan terasa ini seperti tanggung jawab hidup sehari-hari,” kata Gloria Petruzzelli, psikolog klinis berlisensi dan psikolog olahraga di layanan kesehatan dan konseling mahasiswa Universitas Negeri California seperti dilansir Mensjournal.

Baca Juga: Berhubungan Intim 5 Jam Nonsetop, Perempuan Ini Tewas di Ranjang

"Atlet mungkin tidak menyadari perilaku mereka di luar kendali, karena mereka dengan mudah untuk menemukan orang lain atau kelompok yang membenarkan perilaku ekstrem mereka dalam berolahraga," tambahnya.

Berikut dampak psikologis yang timbul jika Anda seseorang yang kecanduan olahraga.

1. Bukan seorang pro, tapi mengorbankan banyak hal

“Sangat tidak sehat ketika Anda menghabiskan banyak waktu setiap hari, mengorbankan keluarga atau kumpul-kumpul sosial untuk menghabiskan waktu ekstra dalam gym dan olahraga,” kata Petruzzelli.

Hidup Anda membutuhkan keseimbangan, Petruzzelli tidak membahas soal sehat atau tidak menyehatkan secara fisik, tapi ini lebih kepada sisi psikologis. "Kepatuhan kaku pada rutinitas latihan yang ketat dan berulang tanpa fleksibilitas keseharian pada umumnya, itulah tanda bahaya utama," jelasnya.

Baca Juga: Daftar Ngidam Aneh Ibu Hamil, dari Makan Kapur Sampai Cicipi Adonan Semen

"Ketika semua waktu Anda, interaksi sosial, dan uang adalah tentang satu olahraga, mengingat bahwa Anda bukan seorang profesional, dan Anda tidak memiliki hobi atau minat lain, saya akan merekomendasikan untuk mendapatkan evaluasi dari seorang profesional kesehatan mental," saran Petruzzelli.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS