Tujuh Warna Pelangi Ternyata Bisa Jadi Terapi Medis Sembuhkan Penyakit

Vania Rossa | Dini Afrianti Efendi | Suara.com

Jum'at, 16 Agustus 2019 | 12:36 WIB
Tujuh Warna Pelangi Ternyata Bisa Jadi Terapi Medis Sembuhkan Penyakit
Ilustrasi pelangi. [Shutterstock]

Suara.com - Efek warna memang ampuh mengubah suasana hati, pikiran, dan emosi seseorang. Tetapi keistimewaan dari warna juga dapat menjadi efek terapi tambahan yang dapat diberikan bersamaan dengan tindakan medis dan obat untuk sembuhkan penyakit.

Mengutip Times of India, Jumat (16/8/2019), terapi ini dinamakan kronoterapi. Cara kerjanya adalah dengan menyinari tubuh area tertentu dengan warna yang tepat. Hasil terapi ini bervariasi antar individu.

Uniknya, warna-warna pada kronoterapi ini diambil dari tujuh warna pelangi, dan setiap warna memiliki efek dan keampuhan yang berbeda-beda. Ini dia penjelasannya:

1. Ungu atau violet
Warna ini bisa ditembakkan di seluruh tubuh, ampuh merelaksasi dan menstimulus aliran energi halus ke seluruh pusat psikis dan sistem saraf. Bisa digunakan pada dahi, belakang dan depan kepala, depan dan belakang leher, di depan jantung, atau di antara kedua bahu. Penyinaran dilakukan selama 15 menit.

2. Nila
Warna nila memberi efek membersihkan aliran darah dan penyakit mental. Selain itu, bisa juga digunakan sebagai terapi penyakit yang berhubungan dengan mata dan telinga.

3. Biru
Biru bisa digunakan pada bagian atas kepala hingga kaki. Warna biru akan membantu menurunkan darah tinggi dan mengatasi gangguan saraf. Warna biru juga bisa membuat kualitas tidur seseorang jadi lebih baik. Terbukti bagi penderita insomnia, mereka telah merasakan manfaat saat tidur dalam sorotan warna biru gelap.

4. Hijau
Dianggap sebagai warna paling dasar dalam metode penyembuhan, warna hijau selalu digunakan pada awal dan akhir pengobatan, apapun kondisi penyakitnya. Hal ini karena warna hijau dianggap sebagai warna teraman untuk digunakan, dan bisa digunakan di bagian tubuh manapun.

5. Kuning
Kuning menandakan kebijaksanaan, oleh karenanya, segala jenis penyakit mental dapat diatasi dengan terapi warna ini. Cahaya kuning seukuran bola tenis bisa diterapkan di bagian pangkal dan depan leher, dan dapat mengobati penyakit saraf yang ada di leher. Pengaplikasian terapi dilakukan selama 12 menit.

6. Oranye
Sinar warna oranye bisa digunakan pada hati, ginjal, jantung, limpa, dan organ lainnya untuk meningkatkan sirkulasi. Terapi yang dibutuhkan adalah 10 menit. Sedangkan pada pasien kelelahan otak, bisa digunakan di belakang leher tapi tidak lebih dari 4 menit. Terapi dengan warna oranye tidak boleh dilakukan pada orang yang menderita tekanan darah tinggi.

7. Merah
Tidak disarankan untuk melakukan terapi warna merah di bagian kepala, kecuali berhubungan dengan penyakit rematik. Tetapi warna merah sangat baik di aplikasikan pada daerah persendian seperti tangan, kaki, dan lutut selama 10 hingga 15 menit. Frekuensi warna merah yang lambat dan panjang akan memiliki tekanan tinggi, sehingga ia akan merangsang aura dan mampu membersihkan penyumbatan peredaran darah.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Viral Terapi Sujok, Ternyata Pengobatan ini Bisa Atasi 5 Penyakit Kronis!

Viral Terapi Sujok, Ternyata Pengobatan ini Bisa Atasi 5 Penyakit Kronis!

Health | Selasa, 13 Agustus 2019 | 15:15 WIB

Imunoterapi, Kian Jadi Terobosan Inovatif Melawan Kanker

Imunoterapi, Kian Jadi Terobosan Inovatif Melawan Kanker

Health | Rabu, 07 Agustus 2019 | 11:01 WIB

Bagaimana Terapi Musik Bisa Mengatasi Masalah Otak?

Bagaimana Terapi Musik Bisa Mengatasi Masalah Otak?

Health | Selasa, 06 Agustus 2019 | 10:35 WIB

Terkini

Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak

Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 11:27 WIB

Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan

Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 09:44 WIB

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 11:09 WIB

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 09:22 WIB

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Health | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:23 WIB

Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien

Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 23:08 WIB

Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia

Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 12:18 WIB

Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif

Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 10:40 WIB

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 06:58 WIB

Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?

Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:59 WIB