alexametrics

5 Praktik Medis Teraneh yang Pernah Ada, Nomor 1 Bikin Jijik

Ade Indra Kusuma | Dinda Rachmawati
5 Praktik Medis Teraneh yang Pernah Ada, Nomor 1 Bikin Jijik
5 Praktik Medis Teraneh yang Pernah Ada, Nomor 1 Bikin Jijik (Freepik/petzshadow)

Berikut perawatan dan praktik medis teraneh yang pernah ada.

Suara.com - 5 Praktik Medis Teraneh yang Pernah Ada, Nomor 1 Bikin Mual

Sejarah penuh dengan perawatan dan praktik medis yang aneh, bahkan berbahaya. Sebagian besarnya juga tidak memiliki dasar. Sulit kita percayai, jika orang-orang pada masa itu bisa bertahan dengan pengobatan yang saat ini bahkan terbilang menjijikan.

Dilansir dari All Womens Talk, berikut perawatan dan praktik medis teraneh yang pernah ada.

Ilustrasi dokter dan stetoskop. (Shuttterstock)
Ilustrasi dokter dan stetoskop. (Shuttterstock)

1. Cicip urin

Baca Juga: Viral Wanita Diminta Buktikan Keperawanan, Bisakah Secara Medis?

Oke, jadi ini sepertinya bukan perawatan medis yang aneh karena masih digunakan sampai sekarang. Tetapi sekarang, urin diuji secara kimiawi dan biasanya dikirim ke laboratorium. Beberapa ratus tahun yang lalu, dokter akan mengambil sampel urin, lalu mencium, menyentuh, dan bahkan mencicipinya.

 2. Malaria

Ya, malaria pernah digunakan sebagai perawatan medis. Sebelum ditemukannya antibiotik, sedikit dosis malaria digunakan sebagai pengobatan untuk sifilis. Ini mungkin sangat aneh, tetapi sebenarnya terbukti cukup efektif karena demam tinggi malaria akan membunuh bakteri sifilis, dan malaria kemudian diobati dengan kina. Metode ini masih digunakan di beberapa tempat.

3. Rokok

Selama berabad-abad, dokter sebenarnya meresepkan rokok sebagai obat untuk berbagai penyakit. Ini mungkin tampak sebagai salah satu perawatan medis paling aneh, karena kita tahu bahaya merokok. Tetapi ada bukti yang menunjukkan bahwa penyakit Parkinson dan Alzheimer jauh lebih kecil kemungkinannya untuk berkembang pada perokok, dan nikotin membantu gejala-gejala ADHD.

Baca Juga: Sering Beredar Hoaks Dunia Medis, Kemenkes Gandeng LSN dan KPI

4. Trepanasi

Komentar