Orang Kegemukan dan Obesitas di Jepang Bisa Dipidana, Mitos atau Fakta?

M. Reza Sulaiman

Jum'at, 01 November 2019 | 07:05 WIB
Orang Kegemukan dan Obesitas di Jepang Bisa Dipidana, Mitos atau Fakta?
Ilustrasi lelaki gemuk dan obesitas. (Shutterstock)

Suara.com - Orang Kegemukan dan Obesitas di Jepang Bisa Dipidana, Mitos atau Fakta?

Beragam cara dilakukan negara-negara di seluruh dunia untuk mengurangi angka obesitas dan kegemukan.

Yang terbaru, beredar broadcast di aplikasi perpesanan WhatsApp yang menyebut Jepang akan mendenda dan memenjara penduduknya yang kegemukan dan obesitas. Benarkah kabar ini?

Dalam broadcast yang viral tersebut, dikatakan Jepang memiliki peraturan yang disebut sebagai Metabo Law. Hukum ini membuat penduduk Jepang diperiksa lingkar pinggangnya setahun sekali.

Mereka yang mengalami kegemukan dan obesitas akan dikenai denda atau dipenjara. Berikut bunyi lengkap pesan tersebut:

Selintas info :

Sejak 2008, perut buncit menjadi ilegal di Jepang. Tahun 2008, Negara Jepang mulai memberlakukan hukum Metabo (Metabo Law) bagi semua warga negaranya.

Pemerintah Jepang memberlakukan hukum wajib pengukuran lingkar perut bagi warga negara Jepang usia 40 s/d 75 tahun. Tahun2 awal penerapan, hukum Metabo memiliki syarat batas lingkar perut maksimal:

Pria = 33,5 inches (85 cm).
Wanita = 35 inches (90 cm).

baca juga

Kemudian hukum direvisi dengan syarat lingkar perut menjadi:

Pria = 35,4 inches (90 cm)
Wanita = 31,5 inches (80 cm)

Apa yang terjadi bilang melanggar? Bagi yang melanggar hukum Metabo, mereka akan masuk penjara. Saat lakukan kewajiban cek medis tahunan, warga negara yang melanggar syarat lingkar perut, wajib mengikuti sesi konsultasi dengan ahli gizi secara rutin sampai berhasil perut mengecil dibawah syarat hukum.

Sesi konsultasi tentu saja dibayar sendiri-sendiri. Warga yg melanggar akan dikenakan denda, dan perusahaan atau instansi tempat dia bekerja juga terkena denda pelanggaran.

Denda maksimalnya sebesar 19 juta US dollar. Otomatis semua perusahaan dan instansi pemerintah mencari cara supaya semua karyawan bisa tetap langsing dengan:

  1. Program wajib olahraga 30 menit sebelum mulai kerja,
  2. Wajib naik turun tangga saat kerja di kantor.
  3. Pola diet makanan sehat di kantin.
  4. Larangan cemilan kemasan dan makanan olahan, dsb.
Perempuan obesitas. [Shutterstock]
Perempuan obesitas. [Shutterstock]

Bahkan perusahaan sampai memberikan para karyawan sebuah handuk Metabo yang terbordir ukuran centimeter nya supaya mereka bisa mengecek lingkar perut setiap pagi sehabis mandi.

Sejak penerapan hukum Metabo mulai tahun 2008, obesitas turun secara drastis dan tersisa 3% dari total populasi. Hmm, ide yang sangat baik bila hukum Metabo ini bisa diterapkan di Indonesia.

Penelurusan Suara.com menemukan broadcast ini sudah beredar sejak 10 tahun lalu, tepatnya di tahun 2009. Pesan ini menyebar di milis kesehatan hingga blog-blog yang ada di internet.

Ingin tahu kesimpulan apakah pesan ini mitos atau fakta? Simak di halaman selanjutnya ya!

Laman pengungkap hoax dan mitos Snopes.com menyebut berita seputar hukum Metabo benar adanya. Mengutip New York Times, hukum tersebut diberlakukan untuk mencegah kegemukan dan obesitas yang mengancam Jepang.

Mereka yang kedapatan mengalami kegemukan dan obesitas memang akan diminta berkonsultasi dengan ahli gizi. Namun, tidak ada penyebut soal denda dan pidana, baik kepada perusahaan tempat orang tersebut bekerja atau secara pribadi.

Selain itu, laman Nihonscope.com menulis hingga kini belum ada data yang jelas terkait efektivitas hukum Metabo. Sehingga, klaim penurunan angka kegemukan dan obesitas belum bisa dipercaya.

Hukum Metabo sendiri juga memiliki kontroversi. Pakar kedokteran dari Tokai University’s School of Medicine, Yoichi Ogushi, mengatakan penerapan hukum ini tidak tepat untuk orang Jepang, dan berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan lain.

Penderita obesitas (foto: ZEENEWS)
Penderita obesitas (foto: Shutterstock)

"Kampanye ini menurut saya tidak ada efek positifnya. Jika Anda melakukannya di Amerika Serikat, efeknya akan sangat baik karena di sana banyak orang dengan berat di atas 100 kg. Namun di sini, orang Jepang sudah terlalu kurus sehingga tidak perlu berdiet," tuturnya, dilansir Snopes.

Kesimpulan: Sebagian besar mitos

Hukum Metabo memang ada di Jepang. Para penduduk diminta melakukan pemeriksaan kesehatan, termasuk pengukuran berat badan dan lingkar pinggang.

Namun tidak ada hukuman denda dan pidana bagi penduduk Jepang dengan obesitas dan kegemukan. Belum ada pula data yang jelas terkait efektivitas hukum Metabo berdasarkan studi ilmiah.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jepang Berduka, Kastil Situs Warisan Dunia UNESCO Hancur Terbakar

Jepang Berduka, Kastil Situs Warisan Dunia UNESCO Hancur Terbakar

News | Kamis, 31 Oktober 2019 | 18:49 WIB

Tumor Payudara Bisa Berubah Jadi Kanker, Mitos atau Fakta?

Tumor Payudara Bisa Berubah Jadi Kanker, Mitos atau Fakta?

Health | Senin, 28 Oktober 2019 | 21:01 WIB

Yuk Icip Daging Premium Jepang di Miyazaki Japanese Grill

Yuk Icip Daging Premium Jepang di Miyazaki Japanese Grill

Video | Senin, 28 Oktober 2019 | 07:00 WIB

Terkini

Jangan Cuma Mengejar Garis Finish, Atlet dan Pelari Perlu Lebih Peduli Kesehatan Sendi dan Tulang

Jangan Cuma Mengejar Garis Finish, Atlet dan Pelari Perlu Lebih Peduli Kesehatan Sendi dan Tulang

Health | Rabu, 08 Juli 2026 | 14:11 WIB

4R Pemulihan yang Wajib Dilakukan Setelah Olahraga, Rahasia Atlet Elite Kembali Prima

4R Pemulihan yang Wajib Dilakukan Setelah Olahraga, Rahasia Atlet Elite Kembali Prima

Health | Rabu, 08 Juli 2026 | 10:57 WIB

Jangan Terkecoh Label Inklusif, Ini 5 Cara Memilih Lingkungan Belajar yang Tepat untuk Anak

Jangan Terkecoh Label Inklusif, Ini 5 Cara Memilih Lingkungan Belajar yang Tepat untuk Anak

Health | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:03 WIB

Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan

Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan

Health | Senin, 06 Juli 2026 | 16:40 WIB

Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah

Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah

Health | Sabtu, 04 Juli 2026 | 14:00 WIB

Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress

Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 18:05 WIB

Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama

Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 15:18 WIB

Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia

Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 14:46 WIB

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 18:09 WIB

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 13:42 WIB

×