Neuroseksisme, Benarkah Otak Perempuan dan Laki-laki Berbeda?

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah | Suara.com

Rabu, 20 November 2019 | 18:32 WIB
Neuroseksisme, Benarkah Otak Perempuan dan Laki-laki Berbeda?
Ilustrasi otak lelaki dan otak perempuan. [Shutterstock]

Suara.com - Neuroseksisme disebut sebagai kepercayaan yang dibentuk oleh kombinasi ilmu saraf dan seksisme. Ini adalah asumsi yang menunjukkan perbedaan karakter serta perilaku pada pria dan wanita disebabkan oleh perbedaan neurologis pada otak mereka.

Jika memerhatikan kerangka kerja neuroseksisme, baik pria maupun wanita diperlakukan secara berbeda dalam masyarakat berdasarkan gender.

Maka dari itu, mereka berperilaku dengan cara berbeda yang menghasilkan perbedaan gender. Hal ini membuktikan neuroseksisme sebagian besar diciptakan oleh kekuatan budaya dan kelompok, bukan pada otak.

Sampai saat ini, peneliti mengeluarkan berbagai teori yang belum terbukti bahwa pria dan wanita memiliki otak yang berbeda.

Melansir Boldsky, pria dan wanita memiliki cara berbeda dalam mengkomukasikan hal-hal seperti pengalaman emosi, memecahkan masalah, menghapal dan membuat keputusan. Ketika otak mengendalikan semua aktivitas ini, peneliti meyakini adanya perbedaan struktur otak antara jenis kelamin memiliki perbedaan fungsional.

Namun, menurut penelitian yang dilakukan di Universitas Tel-Aviv pada 1400 otak termasuk pria dan wanita, sangat jarang menemukan otak dengan hanya fitur feminin dan maskulin.

Kesetaraan Gender [shutterstock]
Kesetaraan Gender [shutterstock]

Seperti yang sudah diketahui, pria dan wanita memiliki hormon berbeda. Estrogen dan progesteron ada pada wanita, sedangkan hormon utama pada pria adalah testosteron.

Hormon tidak hanya membantu masing-masing jenis kelamin untuk berkembang dalam bentuk fisik mereka, tetapi juga membantu dalam perkembangan otak.

Daerah otak (amigdala dan hippocampus) pada pria dan wanita mengandung sejumlah besar reseptor untuk hormon seks.

Amigdala adalah bagian otak berbentuk kacang almond yang terlibat dalam pemrosesan emosi dan hippocampus berkaitan dengan menggabungkan informasi pada memori jangka pendek ke memori jangka panjang.

Ilustrasi pria. (Unsplash/Fabio S)
Ilustrasi pria. (Unsplash/Fabio S)

Karena dua bagian otak ini bertanggung jawab atas emosi, pembelajaran dan memori, tidak salah untuk mengatakan bahwa kehadiran hormon seks yang berbeda pada pria dan wanita membuat masing-masing mengeluarkan emosi yang berbeda, pola belajar dan daya hapal.

Alasan lainnya adalah pria mengandung kromosom X dan Y, sedangkan wanita hanya mengandung kromosom X.

Ilmuwan percaya kromosom Y pada pria memiliki gen yang bertanggung jawab untuk mengembangkan karateristik 'seorang pria'.

Seperti kita ketahui, bahwa ada atau tidaknya DNA tunggal dapat berdampak pada manusia. Demikian pula dengan adanya perbedaan kromosom jenis kelamin pria dan wanita yang membuat mereka sedikit berbeda satu sama lain, baik fisik maupun perkembangan otak. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mengeluh Selalu Pusing, Ternyata Wanita Ini Terlahir Tanpa Otak Kecil

Mengeluh Selalu Pusing, Ternyata Wanita Ini Terlahir Tanpa Otak Kecil

Health | Rabu, 20 November 2019 | 15:41 WIB

Pria Usia 40 tahun Ke Atas Perlu Waspada Kekurangan Hormon Testosteron

Pria Usia 40 tahun Ke Atas Perlu Waspada Kekurangan Hormon Testosteron

Health | Selasa, 19 November 2019 | 14:33 WIB

Ahli Ingatkan Bahaya Koma Diabetes, Ini Penyebabnya

Ahli Ingatkan Bahaya Koma Diabetes, Ini Penyebabnya

Health | Senin, 18 November 2019 | 21:00 WIB

Terkini

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Health | Jum'at, 03 April 2026 | 09:53 WIB

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB