Gondongan Pada Laki-laki Bisa Pengaruhi Kesuburan, ini Penjelasannya!

Dany Garjito | Shevinna Putti Anggraeni
Gondongan Pada Laki-laki Bisa Pengaruhi Kesuburan, ini Penjelasannya!
Ilustrasi laki-laki gondongan (shutterstock)

Para ahli menemukan bahwa gondongan pada laki-laki bisa memengaruhi kesuburan.

Suara.com - Gondong adalah infeksi virus yang memengaruhi kelenjar parotis. Namun, penyakit ini juga bisa memengaruhi testis sehingga menimbulkan kondisi yang disebut orkitis, yakni peradangan testis.

Jika orkitis terjadi sebelum masa pubertas, kondisi ini bisa memengaruhi kesuburan. Dalam kasus laki-laki pasca pubertas diperkirakan bahwa 30 persen dari mereka yang gondongan juga mengalami orkitis selama perjalanan penyakit.

Ahli urologi di sebuah rumah sakit terkemuka di Irlandia telah melaporkan peningkatan mengkhawatirkan dalam jumlah remaja laki-laki yang mengembangkan gondok.

Para ahli mendesak laki-laki kelompok usia 15-24 tahun mendapat vaksin MMR. Hal ini untuk mencegah pembengkakan satu atau kedua testis yang bisa menyebabkan masalah kesuburan.

Mr Niall Davis, seorang Registri Riset Urologi bekerja sama dengan rekan-rekan di Mater Misericordiae University Hospital, Dublin dilansir dari sciencedaily.com, melakukan tinjauan ekstensi terhadap pebelitian dan statistik selama 5 dekade.

Ilustrasi sperma (shutterstock)
Ilustrasi sperma (shutterstock)

Hasilnya, anak laki-laki yang tidak mendapat vaksin campak-gondok-rubella (MMR) selama pertengah 1990-an sekarang memberikan tempat berkembang biak yang sempurna untuk virus.

"Diperkirakan bahwa sebanyak 40 persen pria yang mengalami gondong setelah pubertas dapat menderita orkitis. Hal ini menjadi keprihatinan besar karena epidemi gondok oritis sekarang dilaporkan lebih sering terjadi di banyak negara di dunia," ujar Niall Davis.

Mereka juga memperkirakan sebanyak 42 persen pasien gondok mengalami paling tidak satu komplikasi, mulai testis membengkak, radang ovarium, meningitis aseptik, radang akut otak, tuli dan pankreatitis.

Infertilitas jarang terjadi, tetapi subfertilitas dapat terjadi pada sekitar 13 persen pasien. Bahkan jika ukuran testisnya tidak berkurang.

Hingga setengah dari pasien dapat mengalami sperma abnormal hingga tiga bulan setelah pemulihan. Lalu 24 persen orang dewasa dan 38 persen remaja masih dapat memiliki sperma abnormal hingga tiga tahun setelah pemulihan.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS