Banjir Dimana-mana, Waspadai 6 Penyakit Rentan Ini

Silfa Humairah Utami

Kamis, 02 Januari 2020 | 15:30 WIB
Banjir Dimana-mana, Waspadai 6 Penyakit Rentan Ini
Banjir di Kawasan Gresik akibat luapan Kali Lamong sebabkan tujuh desa terendam banjir pada Rabu (1/1/2020). [Suara.com/Tofan Kumara]

Suara.com - Banjir Dimana-mana, Waspadai 6 Penyakit Rentan Ini

Penting untuk menjaga kesehatan saat banjir melanda sekitar rumah atau rumah Anda. Selama musim hujan, bukan barang baru lagi kalau beberapa daerah di Indonesia langganan banjir. Sejumlah penyakit pun rawan berjangkitan.

Apa yang ada dalam genangan banjir?

Tak peduli seberapa tinggi genangannya, luapan air banjir bisa tercemar oleh berbagai organisme penjangkit penyakit, termasuk bakteri usus seperti E. coli, Salmonella, dan Shigella; Hepatitis A Virus; dan agen pembawa tifus, paratifoid dan tetanus. Dikutip dari studi oleh Dr. Supakorn Rojananin, M.D., kepala deputi Fakultas Kedokteran sekaligus rekanan profesor di Mahidol University, air genangan dari banjir di Jakarta Timur Januari 2005 lalu mengandung koloni bakter E. coli dan virus enterik Hepatitis A dua kali lipat lebih tinggi daripada air sungai biasa.

Virus, kuman, dan bakteri ini merupakan hasil dari polutan rumah tangga dan pertanian atau limbah industri berbahaya, seperti air selokan, sampah makanan, kotoran manusia dan hewan, bangkai, pestisida dan insektisida, pupuk, minyak, asbes, bahan bangunan berkarat, dan sebagainya.

Berikut adalah daftar penyakit yang harus Anda waspadai selama musim banjir dilansir Hello Sehat:

1. Diare

Diare. (Shutterstock)

Diare karena infeksi tersebar luas di seluruh negara berkembang. Diare berat berpotensi fatal dan memerlukan bantuan medis sesegera mungkin akibat miskinnya cairan dan nutrisi tubuh yang terbuang dalam jumlah besar bersama cairan diare — terutama pada bayi dan anak-anak, orang-orang yang kekurangan gizi, dan mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa setiap tahunnya ada hampir dua juta anak di seluruh dunia, kebanyakan di bawah usia 5 tahun, meninggal akibat diare. Negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, bertanggung jawab untuk 8,5% dari angka kematian ini.

Gejala diare bervariasi, mulai dari sakit perut singkat dengan kotoran BAB yang tidak terlalu encer hingga kram perut yang disertai konsistensi feses yang sangat encer. Pada kasus diare parah, kemungkinan penderitanya dapat mengalami demam dan kram perut hebat. Cairan diare dapat bercampur dengan lendir dan darah.

baca juga

2. Demam berdarah

Pasien demam berdarah dirawat di rumah sakit. (Shutterstock)
Pasien demam berdarah dirawat di rumah sakit. (Shutterstock)

Demam berdarah (DBD) adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dan ditularkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. Bayi dan anak-anak yang terjangkit DB mungkin mengalami demam dengan ruam. Anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa mungkin mengalami demam demam ringan, atau penyakit demam tinggi melumpuhkan yang timbul mendadak, sakit kepala parah, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, serta ruam.

Dilansir dari Kemenkes RI, dalam beberapa tahun terakhir, kasus demam berdarah lebih sering ditemukan di musim pancaroba, khususnya di awal tahun bulan Januari. Selama kurun waktu 2013-2014, ada 184.179 kasus DB di Indonesia dan 1.500 di antaranya meninggal dunia. Terhitung sejak tahun 1968 hingga tahun 2009, World Health Organization (WHO) mencatat Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi se-Asia Tenggara.

3. Leptospirosis

Ilustrasi orang sakit kepala (Pixabay/geralt)
Ilustrasi orang sakit kepala (Pixabay/geralt)

Leptospirosis adalah infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri leptospira dan ditularkan oleh hewan. Sumber utama penularan leptospirosis di Indonesia adalah tikus. Penyakit ini adalah satu-satunya infeksi rawan epidemi wabah yang dapat ditularkan secara langsung melalui air yang tercemar. Bakteri memasuki tubuh lewat kulit, melalui luka memar dan terbuka atau melalui mata yang bersentuhan dengan air kotor genangan banjir.

Gejala leptospirosis dapat berkisar dari sakit kepala ringan, nyeri otot, dan demam hingga pendarahan hebat di paru-paru. Dalam beberapa kasus, bisa tidak muncul gejala sama sekali. Jika tidak segera diobati, leptospirosis dapat menyebabkan kerusakan ginjal, meningitis (radang selaput otak dan sumsum tulang belakang), penyakit pernapasan, gagal hati, dan bahkan kematian. Data terakhir dari Kemenkes, hingga November 2014, ada 435 kasus dengan 62 kematian akibat leptospirosis.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Air Sungai Ciberang Naik, Warga Lebak Panik Berlarian

Air Sungai Ciberang Naik, Warga Lebak Panik Berlarian

Banten | Kamis, 02 Januari 2020 | 14:45 WIB

Cerita Syam, Warga Veteran Banjir Jakarta Sejak Tahun 1996

Cerita Syam, Warga Veteran Banjir Jakarta Sejak Tahun 1996

News | Kamis, 02 Januari 2020 | 14:41 WIB

Ahli Waris Korban Banjir Jakarta yang Meninggal Dapat Santunan dari Mensos

Ahli Waris Korban Banjir Jakarta yang Meninggal Dapat Santunan dari Mensos

News | Kamis, 02 Januari 2020 | 14:32 WIB

Terkini

Nestle Indonesia Gandeng Kemendag, Perkuat Daya Saing Produk Lokal di Pasar Global

Nestle Indonesia Gandeng Kemendag, Perkuat Daya Saing Produk Lokal di Pasar Global

Bisnis | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:49 WIB

Koalisi Pers Sumsel Desak Evaluasi Pengamanan Demo Usai Tiga Wartawan Dikeroyok

Koalisi Pers Sumsel Desak Evaluasi Pengamanan Demo Usai Tiga Wartawan Dikeroyok

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:46 WIB

Kasus Karhutla Sumsel: 16 Perusahaan Diusut, Mengapa Baru PT RAS Ditetapkan Tersangka?

Kasus Karhutla Sumsel: 16 Perusahaan Diusut, Mengapa Baru PT RAS Ditetapkan Tersangka?

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:21 WIB

Dirut Jadi Tersangka Korupsi Nikel, PT CNI Hormati Proses Hukum

Dirut Jadi Tersangka Korupsi Nikel, PT CNI Hormati Proses Hukum

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:11 WIB

Kejagung Ungkap Alasan Jabatan Kajati Diusulkan Setara Bintang Tiga

Kejagung Ungkap Alasan Jabatan Kajati Diusulkan Setara Bintang Tiga

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:04 WIB

Setahun Kepergian Kartini Muljadi, Nilai Kebaikannya Dihidupkan Lewat Tiga Program Sosial

Setahun Kepergian Kartini Muljadi, Nilai Kebaikannya Dihidupkan Lewat Tiga Program Sosial

Lifestyle | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:02 WIB

Penyebab Banjir Nepal Bisa Setinggi 25 Meter Terkuak, Dunia Diambang Kiamat?

Penyebab Banjir Nepal Bisa Setinggi 25 Meter Terkuak, Dunia Diambang Kiamat?

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:02 WIB

Mahfud MD Ungguli Prabowo dan Gibran dalam Studi Kepemimpinan SMRC

Mahfud MD Ungguli Prabowo dan Gibran dalam Studi Kepemimpinan SMRC

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 21:54 WIB

Koalisi Pers Sumsel Desak Dirintelkam Kombes Tony Dicopot Usai Wartawan Dikeroyok saat Liput Demo

Koalisi Pers Sumsel Desak Dirintelkam Kombes Tony Dicopot Usai Wartawan Dikeroyok saat Liput Demo

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 21:44 WIB

Tempe Tak Hanya Jadi Lauk, Kini Dikembangkan Menjadi Camilan Tinggi Protein

Tempe Tak Hanya Jadi Lauk, Kini Dikembangkan Menjadi Camilan Tinggi Protein

Lifestyle | Kamis, 15 Oktober 2026 | 21:42 WIB

×