Kemenkes: WNI dari Wuhan di Natuna Isi Waktu dengan Olahraga dan Permainan

Vania Rossa, Risna Halidi

Senin, 03 Februari 2020 | 11:01 WIB
Kemenkes: WNI dari Wuhan di Natuna Isi Waktu dengan Olahraga dan Permainan
Preskon Kemenkes Terkait Update Virus Corona, Senin (3/2/2020). (Screenshot Youtube)

Suara.com - Disebutkan bahwa sebanyak 238 WNI telah tiba dari lokasi epidemi virus corona di kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, dan kini ditempatkan di fasilitas kesehatan yang telah disiapkan oleh Kementerian Kesehatan, TNI, dan BNPB di Lanud Raden Sadjad, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau untuk proses observasi dan monitoring kesehatan selama 14 hari

Dirjen P2P Kementerian Kesehatan RI, dr. Anung Sugihantono, M.Kes, menjelaskan bahwa pemilihan Natuna sebagai lokasi observasi merupakan kebijakan pemerintah. "Kami dari Kemenkes memberikan persiapan pelayanan, tapi tentu pemerintah punya pertimbangan-pertimbangan, karena masalah waktu, jumlah, dan persoalan kedaruratannya sendiri. Ada banyak opsi yang tadinya disiapkan, tapi kemudian pemerintah memilih Natuna sebagai tempat observasi kesehatan selama masa karantina," katanya dalam konperensi pers terkait wabah virus corona 2019-nCoV di Gedung Kemenkes Jakarta, Senin (3/2/2020).

Lebih lanjut Anung menjelaskan, konsep kekarantinaan yang dilakukan saat ini sebenarnya adalah mengobservasi, dan bukan membatasi. "Dan dalam tatanan observasi, pemahaman dan pengetahuan terhadap mekanisme penularan itulah yang menjadi bahan perhatian kita," katanya.

Persoalan jarak lokasi observasi dengan masyarakat sekitar tentu juga menjadi bahan pertimbangan. "Itu adalah bagian dari sebuah pertimbangan ketika kita bicara tentang mekanisme penularan. Sejauh yang kita ketahui, mekanisme penularannya (virus corona) belum jelas, ada yang ngomong droplet, close contact, ada yang ngomong airborne. Nah, jarak yang saat ini ada, cukup jauh. Virus ini tidak terlalu kuat bertahan di udara, karena itulah yang kemudian kita yakini. Ada hanggar yang besar, di dalamnya dipasang tenda, tendanya 2 lapis, siklusnya kita atur. Dari sisi kesehatan, kita memastikan kalau itu adalah sifatnya airborne, (virus corona) tidak akan sampai ke komunitas. Tapi kan ini belum jelas airborne atau tidak. Jadi, di sana kita membaginya menjadi ring 1 di mana orang tidak bisa kontak dengan yang lain kecuali dengan tenaga kesehatan, ring 2 hanya untuk dukungan layanan, penyediaan makanan, dsb, serta ring 3 untuk pemantauan," jelas Anung lebih lanjut.

Ketika ditanya apakah faktor jarak merupakan pertimbangan utama, Anung mengatakan bahwa pertimbangannya bukan karena lokasi di Natuna ini yang paling jauh. "Sebenarnya ada yang lebih jauh lagi. Kita melihat psikologis. Kalau kita ajak teman-teman lewat hutan bakau, ngalor, ngidul, baru kemudian ditempatkan, tentu akan bikin stres mereka," katanya.

Setelah dilakukan observasi, Anung mengatakan, jika ada teman yang ditemukan positif, pihaknya akan melakukan medical evacuation. "Di Natuna disiapkan rumah sakit, tapi kita juga memikirkan untuk melakukan perawatan ke Jakarta juga seandainya memang memerlukan pelayanan yang lebih," katanya.

Lalu, selama proses observasi, apa saja yang akan dilakukan para WNI di Natuna? Yang pasti, menurut Anung, pihaknya sudah menyiapkan pedoman kegiatan selama 14 hari selama masa observasi. "Versi kami, ya. Apa-apa yang akan kita lakukan di sana melihat situasi yang ada. Untuk mengurangi stres, kejenuhan, paling tidak kegiatannya melalui permainan, aktivitas fisik, permainan, olahraga juga. Di sana ada alat gym-nya juga," katanya.

Menjawab pertanyaan wartawan mengenai penolakan warga setempat di Natuna mengenai lokasi observasi ini, menurut Anung, Menko PMK, Ketua BNPB, dan Menkes telah melakukan sosialisasi kepada pemerintah daerah dan tokoh masyarakat setempat, melakukan komunikasi tentang penempatan teman-teman di natuna.

baca juga

Beberapa permintaan warga diakomodir oleh BNPB karena minta diberi perlindungan lebih, misal minta masker, minta tidak tinggal di rumahnya karena dianggap dekat jaraknya. Menurut laporan kepala BNPB, akan difasilitasi kalau memang masyarakat membutuhkan.

Dan mengenai WNI yang belum bisa pulang, menurut Anung, mereka tetap dalam pantauan KJRI di China, dan mendapatkan jaminan dari otoritas kesehatan setempat untuk mendapat pemantauan dan pengobatan kalau diperlukan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dikarantina di Natuna, WNI dari Wuhan Kesulitan Berkomunikasi

Dikarantina di Natuna, WNI dari Wuhan Kesulitan Berkomunikasi

News | Senin, 03 Februari 2020 | 10:05 WIB

Warga Natuna Tolak Karantina WNI dari Wuhan, Apa Tanggapan Kemenkes?

Warga Natuna Tolak Karantina WNI dari Wuhan, Apa Tanggapan Kemenkes?

Health | Minggu, 02 Februari 2020 | 20:00 WIB

Kemenkes Pastikan WNI yang Pulang dari Wuhan dalam Keadaan Sehat

Kemenkes Pastikan WNI yang Pulang dari Wuhan dalam Keadaan Sehat

Health | Minggu, 02 Februari 2020 | 18:45 WIB

Terkini

Beban Pajak Mencekik, Daya Beli Sekarat: Di Mana Batas Lelah Kelas Menengah?

Beban Pajak Mencekik, Daya Beli Sekarat: Di Mana Batas Lelah Kelas Menengah?

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 17:50 WIB

Bukan Sekadar Rasa Gurih, Ghea Indrawari Punya Alasan Khusus Suka Mi Ayam

Bukan Sekadar Rasa Gurih, Ghea Indrawari Punya Alasan Khusus Suka Mi Ayam

Lifestyle | Senin, 02 November 2026 | 17:49 WIB

Suket Gibran Batal di MA, Waketum Golkar Buka Suara: Tak Boleh Dibiarkan

Suket Gibran Batal di MA, Waketum Golkar Buka Suara: Tak Boleh Dibiarkan

News | Senin, 02 November 2026 | 17:48 WIB

Atap Honda Civic Ringsek Dihantam Pohon Tumbang di Tulungagung, 2 Korban Lolos dari Maut

Atap Honda Civic Ringsek Dihantam Pohon Tumbang di Tulungagung, 2 Korban Lolos dari Maut

Jatim | Senin, 02 November 2026 | 17:47 WIB

Wapres Gibran Hadiri Peringatan 100 Tahun Injil Masuk Kalumpang

Wapres Gibran Hadiri Peringatan 100 Tahun Injil Masuk Kalumpang

Sulsel | Senin, 02 November 2026 | 17:46 WIB

Ferry Boboho Akui Diminta Febrie Adriansyah 'Dinginkan' Uang dari Tan Kian

Ferry Boboho Akui Diminta Febrie Adriansyah 'Dinginkan' Uang dari Tan Kian

News | Senin, 02 November 2026 | 17:43 WIB

Tak Cukup Propam, Reza Minta Kemenko Polkam dan Presiden Turun Tangan Usut Penggeledahan Pesantren

Tak Cukup Propam, Reza Minta Kemenko Polkam dan Presiden Turun Tangan Usut Penggeledahan Pesantren

News | Senin, 02 November 2026 | 17:41 WIB

Buntut Geledah Ponpes Pakai Senjata, Kapolri Resmi Copot Kapolres Sukoharjo!

Buntut Geledah Ponpes Pakai Senjata, Kapolri Resmi Copot Kapolres Sukoharjo!

News | Senin, 02 November 2026 | 17:39 WIB

Polisi Ciduk Pengedar Uang Palsu di Cengkareng, Pelaku Sempat Beli Narkoba di Kampung Ambon

Polisi Ciduk Pengedar Uang Palsu di Cengkareng, Pelaku Sempat Beli Narkoba di Kampung Ambon

News | Senin, 02 November 2026 | 17:39 WIB

Geger Penggeledahan Ponpes Hamalatul Quran, Kapolres Sukoharjo Dinonaktifkan!

Geger Penggeledahan Ponpes Hamalatul Quran, Kapolres Sukoharjo Dinonaktifkan!

Surakarta | Senin, 02 November 2026 | 17:39 WIB

×